Jember, NU Online
Tenggelamnya kapal nelayan di Puger, Jember, Jawa Timur yang videonya sempat viral belum lama ini, sesungguhnya bukan pertama kali terjadi. Kejadian tersebut sudah berkali-kali menimpa mereka.
Kecelakaan laut di kawasan yang disebut Pelawangan tersebut memang sudah ‘langganan’. Namun nelayan tidak pernah jera. Mereka masih tetap rutin mencari ikan di laut meski keselamatan jiwanya kerap terancam.
“Ya itu memang pekerjaan nelayan. Semua pekerjaan ada risikonya,” kata anggota Banser Puger, Abdul Hadi kepada NU Online saat mengunjungi lokasi kecelakaan, Kamis (26/8).
Seperti diketahui, kapal nelayan bernama Joko Berek itu dihantam ombak saat memasuki Pelawangan Pantai Pancer, Puger sepekan lalu. Kapal yang penuh ikan dan bemuatan 22 orang, langsung terbalik dan tenggelam. Sembilan orang meninggal dunia, 13 lainnya selamat. Bahkan dua orang di antaranya ditemukan tewas dalam posisi masih tersangkut jaring ikan di lantai kapal. Innalillahi wainna ilahi rajiun.
Sebenarnya, jarak antara Pelawangan dan muara sungai, tempat kapal bersandar sudah dekat. Hanya sekitar 400 meter. Tapi di Pelawangan itulah ombak besar biasa datang. Susahnya, Pelawangan merupakan satu-satunya pintu keluar dan masuk kapal nelayan untuk mencari ikan di lautan lepas.
Menurut Abdul Hadi, kendati sering terjadi kecelakaan, namun tidak menyurutkan nelayan Puger untuk tetap melaut. Sebab, melaut sudah menjadi mata pencaharian mereka. Berhenti melaut berarti pertanda aktifitas dapur akan libur. “Bagaimana lagi, kalau tidak melaut, lantas apa yang akan mereka makan?” katanya dengan nada bertanya.
Malaut belum tentu dapat ikan, tapi kecelakaan setiap saat mengancam. Demi mencari nafkah, ombak tidak dipedulikan meski nyawa menjadi taruhan. (Aryudi Abdul Razaq/Ibnu Nawawi)