Padukan Konsep Pendidikan Ponpes dan Umum
NU Online · Kamis, 7 Juni 2007 | 11:44 WIB
Batangharinuban, NU Online
Pesantren cenderung diasumsikan sebagai institusi pendidikan altematif kedua (second hand). Karena secara umum, materi pendidikan yang diterapkannya memprioritaskan agama saja (spiritual). Ditambah lagi, ketradisionalan metode yang dijalankan dalam proses belajar mengajamya.
Demikian ungkap Ketua Panitia Seminar Manajemen Pendidikan Jamaluddin, E.F. di Pondok Pesantren
Hidayatus Salafiyyah Batangharinuban, Lampung Timur, belum lama ini.
"Pesantren sebagian besar belum menerapkan sistem manajemen pendidikan secara modern. Lebih-lebjh dalam sistem pendidikan di lndonesia yang cenderung berubah-ubah," ujarnya seperti dilansir Radar Lampung.
Dicontohkannya, kurikulum cara belajar siswa aktif (CBSA) saja hasilnya belum maksimal sudah berubah menjadi kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Lalu sekarang, ada lagi penawaran baru kembali ke metode kurikulum berbasis sekolah atau kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP).
"Hal ini justru menambah rumitnya dinamika persoalan di tubuh institusi-institusi yang ada di Indonesia.
Berbagai kebijakan yang dianggap strategis oleh pemerintah mengenai kebijakan pendidikan nasional yang cenderung berubah-ubah justru menimbulkan persoalan yang besar, khususnya yang dihadapi institusi-institusi pendidikan," sesalnya.
Akan tetapi, imbuhnya, di pesantren justru hal-hal tersebut tidak menjadi suatu paradigma yang berarti.
Karena pada dasarnya, pesantren sudah mengaktualisasikan manajemen pendidikan meskipun belum pada tahap manajemen pendidikan yang modem.
Secara praktik, ada beberapa poin keunggulan yang diterapkan pesantren dengan ciri khasnya. Disebutkannya, pesantren lebih unggul pada bidang spiritual, tapi dari aspek sains dan teknologi sedikit mengalami hambatan. Sementara di sisi lain, institusi-institusi umum memiliki keunggulan pada bidang sains dan teknologi.
"Persoalannya, bagaimana mengolaborasikan dua sisi keunggulan tersebut menjadi satu format manajemen pendidikan. lbarat mata uang yang memiliki dua sisi berbeda tapi tetap satu (memiliki nilai yang sangat berarti, red)," tukasnya.
Menyikapi hal tersebut, lanjutnya, British Council bekerja sarna dengim Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jakarta dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung menyelenggarakan Seminar Manajemen Pendidikan.
Hadir sebagai pemateri dalam seminar itu, Dr. Syamsuri Ali (praktisi pendidikan) dan Jamaludin (alumnus program Education Management University of Leeds, UK). Seminar sendiri dibuka Kakanwil Departemen Agama Provinsi Lampung Drs.H. Basyuni T. Kahuripan. (dar)
Terpopuler
1
Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1447 H Jatuh 27 Mei 2026
2
Tim Hisab Rukyat: Hilal Awal Dzulhijjah 1447 H Penuhi Kriteria MABIMS, Idul Adha Diperkirakan 27 Mei 2026
3
Hilal Terlihat, PBNU: Idul Adha 1447 H Rabu, 27 Mei 2026
4
Menhan Sebut Seluruh Kabupaten di Jawa Akan Dikawal Batalyon Teritorial pada 2026
5
Tiga Jurnalis Indonesia Bersama Aktivis Ditangkap Israel, Dewan Pers Minta Pemerintah Bertindak
6
Ambruknya Rupiah Dinilai Tekan Rakyat Kecil, DPR Soroti Harga Kebutuhan Pokok
Terkini
Lihat Semua