Pelajar NU Tak Boleh Tiru Pemimpin yang Tak Bisa Memimpin
NU Online · Senin, 6 Mei 2019 | 14:00 WIB
Dewasa ini, banyak sosok yang dianggap pemimpin namun tidak bisa menjadi pemimpin sejati. Bukannya membawa kemaslahatan, kepimpinannya malah mendatangkan kerusakan yang lebih besar. Ia malah mengajak yang dipimpinnya melakukan tindakan dosa.
Hal ini dikatakan Eva Rosyidana, panitia pelaksana Pelantikan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU)-Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Ahad (5/5).
Pernyataan ini selaras dengan tema yang diangkat pada pelantikan tersebut yakni Tasharruful imam ala Ra' iyyah Manuthun bil Mashlahah.
Eva menjelaskan, tema pelantikan ini diambil dari kaidah fikih dan juga fatwa Imam Syafi’i yang artinya: "Kedudukan imam terhadap rakyat adalah seperti kedudukan wali terhadap anak yatim."
Imam Syafi'i sendiri mengatakan, jika fatwanya berasal dari ucapan Umar bin Khattab yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Mansyur dari Abu Ahwash dari Abi Ishaq dari Barro’ bin Azib yang artinya: “Sungguh aku menempatkan diriku terhadap harta Allah seperti kedudukan wali terhadap anak yatim, jika aku membutuhkan, aku mengambil dari padanya, dan apabila ada sisa aku kembalikan. Dan apabila aku tidak membutuhkan, aku menjauhinya (menahan diri padanya)”.
“Secara khusus ini tafa'ulan (mengikuti) ke para pendiri NU sebagai suri tauladan. Selain itu untuk menghindari sikap pemimpin yang menyeleweng dari aturan syari'ah serta memberi kemaslahatan sekarang atau masa depan,” tambah Eva.
Tema ini juga dipilih untuk memotivasi para pengurus IPNU-IPPNU Wonoayu agar kompak dan tidak jalan sendiri-sendiri. Karena hakikat organisasi adalah sinergitas antar pengurus.
“Kita berharap pengurus baru pada semangat semua, makanya diangkat tema itu. Kita gaungkan semangat ini keseluruh dunia. Apalagi mau Ramadlan dan Idul Fitri yang kegiatannya padat dan butuh banyak personil,” katanya.
Kader-kader NU sejak muda lanjutnya, harus diajarkan menjadi pemimpin yang bertanggung jawab. Hal ini disebabkan tindakan dan kebijakan yang diambil oleh pemimpin atau penguasa berdampak pada yang dipimpinnya.
“Kader NU diajarkan dalam mengambil kebijakan harus sejalan dengan kepentingan umum bukan untuk golongan atau untuk diri sendiri. Penguasa adalah pengayom dan pengemban kesengsaraan rakyat,” jelasnya.
Kepemimpinan lanjutnya, merupakan sebuah keniscayaan dalam sebuah perkumpulan ataupun suatu badan. Karena tanpa seorang pemimpin maka suatu perkumpulan tidak akan berjalan dengan baik. (Syarif Abdurrahman/Muhammad Faizin)
Terpopuler
1
Diduga Tertipu Program MBG, 13 Pengasuh Pesantren Minta Pendampingan ke LBH Ansor
2
Khutbah Jumat: Allah Tidak Membebani Hamba di Luar Batas Kemampuannya
3
Respons Wacana Penutupan Prodi yang Dinilai Tak Relevan, LPTNU Tekankan Kebijakan Komprehensif
4
KPAI Desak Proses Hukum Tegas Kekerasan Seksual terhadap 17 Santri di Ciawi Bogor
5
Perlintasan Liar Dikelola Ormas, Dirut KAI: Tidak Memenuhi Syarat, Kami Tutup
6
Hari Buruh 2026: Prabowo Wacanakan Penurunan Potongan Aplikator Ojol hingga di Bawah 10 Persen
Terkini
Lihat Semua