Ribuan Jamaah Shalawat “Akarjati” Gelar Lebaran Ketupat
NU Online · Senin, 12 September 2011 | 00:02 WIB
Majalengka, NU Onlie
Ribuan jamaah shalawat “akardjati” se wilayah Cirebon mengikuti “Lebaran Ketupat” di Pondok Pesantren Al-Mizan, Jatiwangi, Majalengka, akhir peka kemarin. Acara yang digelar bersamaan dengan Halal Bihalal dan Serah Terima Santri/Siswa Baru Lembaga-lembaga Pendidikan Al-Mizan ini merupakan acara tahunan yang biasa digelar setelah selesai melaksanakan puasa sunat Syawal selama 6 hari.
H Sumarta selaku Ketua Paguyuban Jamaah Shalawat “Akardjati” mengatakan, biasanya lebaran ketupat atau syukuran atas selesainya puasa sunat Syawal 6 hari ini dilaksanakan setiap tanggal 7 Syawal. Namun karena ada sesuatu hal maka tahun ini lebaran ketupat diundur menjadi tanggal 11 Syawal bertepatan dengan 10 September 2011.
Acara yang dipusatkan di komplek pondok pesantren Al-Mizan ini diawali dengan pembukaan yaitu pembacaan hadlarah & tahlil, pembacaan ayat-ayat suci al-Quran & shalawat serta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia raya, mars & hymne Al-Mizan.
Kemudian dilanjutkan dengan sambutan-sambutan, yaitu sambutan dari Ketua Yayasan Al-Mizan Langensari disampaikan oleh M Zaenal Muhyidin dan sambutan dari Ketua Paguyuban shalawat akardjati yang disampaikan oleh H. Sumarta.
Selanjutnya acara “Sawer”, taushiah dan doa yang disampaikan oleh KH. Maman Imanulhaq, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan. Dalam taushiahnya Kyai Maman menyampaikan, idul fitri tahun ini bangsa Indonesia masih diliputi oleh berbagai masalah terutama masalah korupsi yang semakin merajalela. Untuk itu, momentum lebaran ini mari kita manfaatkan sebagai wahana untuk perang melawan koruptor. “Apapun nama dan jabatannya koruptor tetap kotor”, jelasnya.
“Kalau tidak dikorupsi mungkin jalan-jalan akan bagus. Kalau tidak ada korupsi mungkin tidak akan ada orang-orang miskin dan tidak akan ada warga masayarakat yang tidak bisa sekolah. Untuk itu jauhi korupsi, jauhi hal-hal yang menyebabkan rakyat sengsara. Mari kita bersatupadu melawan korupsi”, pungkasnya.
Selesai taushiah kemudian dilanjutkan dengan “sawer” dengan membagi-bagikan uang recehan, buah-buahan, kembang, dengan cara dilempar kepada jamaah. Selanjutnya diakhiri dengan doa dan makan ketupat bersama.
Redaktur : Syaifullah Amin
Kontributor : M. Zaenal Muhyidin
Terpopuler
1
PWNU dan PCNU Se-DIY Tolak Politik Uang dalam Proses Muktamar NU
2
Kompensasi kepada Pemilih dengan Dalih Transportasi atau Ongkos Kerja untuk Memengaruhi Pilihan adalah Haram dan Suap
3
RAPBN 2027 Dana Pendidikan Rp240 Triliun untuk MBG, JPPI: Jangan Pelintir Putusan MK
4
Jusuf Kalla Buka Suara soal Kerusuhan di Aceh: Konflik Internal, Bukan ke Pemerintah Pusat
5
Data Terbaru Gempa M7,7 NTT: 54 Meninggal Dunia, 199 Luka-Luka, 9 Ribu Warga Mengungsi
6
Jusuf Kalla Imbau Masyarakat Aceh Jaga Kondusivitas usai Kerusuhan dan Pengibaran Bendera GAM Sabtu
Terkini
Lihat Semua