Tradisi Masyarakat Banjar Jelang Ramadhan, Salah Satunya Tanglong
NU Online · Sabtu, 9 Maret 2024 | 15:00 WIB
Pelepasan peserta pawai Tanglong di halaman Masjid Agung Al-Fallah, Jumat (21/4/2023) malam. (Foto: Diskominfo Tanbu)
Suci Amaliyah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Bulan suci Ramadhan 1445 Hijriah di depan mata. Berbagai aktivitas kebiasaan masyarakat Kalimantan Selatan dilakukan untuk menyambutnya. Kebiasaan kerap dijumpai di beberapa wilayah Kalsel seperti tradisi bersih-bersih tempat ibadah, makam keluarga atau ulama.
"Bersih- bersih langgar atau mushala. Mengganti lampu yang redup atau mati, mempercantik dinding dengan cat baru. Ini dilakukan secara gotong-royong oleh warga. Orang Banjar biasanya melakukan juga ziarah sekalian bersih-bersih kuburan baik orang tua maupun kerabatnya," ujar Riza Bachtiar, warga Tanjung Tabalong, Banjar, Kalsel kepada NU Online, Sabtu (9/3/2024).
Warga Banjar, kata Bachtiar, juga mengadakan festival Tanglong. Pawai Tanglong atau dulu lebih dikenal tradisi Bagarakan Sahur dilakukan secara tradisional. Warga Kelua zaman dulu berkeliling dengan cara berjalan kaki, sambil membawa besi rongsokan untuk dipukul dijadikan bunyi-bunyian.
Selain itu, kadang kala panci dan peralatan masak di dapur juga digunakan saat iring-iringan Bagarakan Sahur, sebelum digunakan untuk memasak hidangan bersahur. Serta alat musik Bahari seperti babun dan gong juga masih digunakan. Pakaian yang digunakan pun terkesan seadanya, cukup dengan sarung yang diselempangkan di pundak.
Seiring berjalannya waktu, tradisi Bagarakan Sahur yang merupakan embrio Pawai Tanglong digelar lebih meriah dan modern. Pawai Tanglong kini menjadi wadah generasi muda menyalurkan kreativitasnya, namun tetap dengan melestarikan nilai-nilai budaya dan tradisi Bagarakan Sahur.
"Jadi setiap tahun ini berubah-ubah. Sekarang mengikuti tema, misalnya temanya salah satunya ada yang mewakili langgar. Katakanlah langgar A berarti dia menggambarkan langgar dia. Langgar dia yang dipromosikannya ke masyarakat," ujarnya.
Festival Tanglong bertujuan untuk menyambut malam Lailatul Qadar dengan menyalakan lampion berbagai bentuk. Sebelum pandemi berlangsung, perayaan bagarakan tanglong berlangsung meriah di berbagai kota di Kalimantan Selatan hingga rangkaian tradisi ini dikenal sebagai event wisata budaya di bulan Ramadhan.
Tanglong Bagarakan Sahur ini telah menjadi agenda pariwisata kota Banjar Baru. Selain menampilkan khasanah budaya setempat, di antaranya permainan musik khas Banjar di atas perahu, tanglong mengajak masyarakat luas untuk melihat kembali dan memanfaatkan potensi alam berupa sungai, baik untuk keperluan transportasi, pariwisata, dan sebagainya.
"Pendek kata, tanglong berusaha merefleksikan lokalitas budaya masyarakat Banjar," terangnya.
Kegiatan yang sama dilakukan masyarakat Balikpapan jelang ramadhan. Bersih-bersih makam hingga menggelar doa bersama.
"Di keluarga saya, selain ziarah makam kita selamatan di rumah mengundang tetangga mengirimkan doa kepada keluarga yang telah mendahului kita. Kalau dari pemerintah biasanya ada kegiatan pawai sambut Ramadhan," kata Kasmani.
Terpopuler
1
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
2
Setahun Berjalan, JPPI Nilai Program MBG Berhasil Perburuk Kualitas Pendidikan
3
Laras Faizati Tolak Replik Jaksa karena Tak Berdasar Fakta, Harap Hakim Jatuhkan Vonis Bebas
4
Gus Mus: Umat Islam Bertanggung Jawab atas Baik Buruknya Indonesia
5
Langgar Hukum Internasional, Penculikan Presiden Venezuela oleh AS Jadi Ancaman Tatanan Global
6
Khutbah Jumat Bahasa Jawa: 5 Cekelan Utama kanggo Wong kang Amar Ma'ruf Nahi Munkar
Terkini
Lihat Semua