Tradisi Suluk Dzulhijjah di Dayah Tarekat Naqsyabandiyah, Menjaga Warisan Ruhani Ulama Aceh
NU Online · Kamis, 21 Mei 2026 | 11:00 WIB
Jamaah tawajuh di Dayah Darul Ulum Abu Lueng Ie saat Haul Abu Lueng Ie Aceh Besar. (Foto: Helmi Abu Bakar)
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Aceh Besar, NU Online
Datangnya bulan Dzulhijjah selalu disambut penuh kekhusyukan oleh masyarakat dayah di Aceh, khususnya di lingkungan dayah berbasis Tarekat Naqsyabandiyah. Selain memperbanyak ibadah dan amalan sunnah, momentum tersebut juga diisi dengan pelaksanaan suluk yang telah menjadi tradisi turun-temurun di kalangan ulama dan jamaah tarekat.
Di Dayah Darul Ulum Abu Lueng Ie Aceh Besar misalnya, tradisi suluk Dzulhijah rutin digelar selama 10 hari. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan ruhani jamaah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt melalui zikir, muhasabah, dan penguatan ibadah batin.
Wakil Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Dayah Darul Ulum Abu Lueng Ie, Tgk Muhammad Riza, mengatakan pelaksanaan suluk pada bulan-bulan tertentu merupakan tradisi lama yang telah diwariskan para ulama tarekat di Aceh.
“Di bulan Dzulhijah biasanya suluk dilaksanakan selama 10 hari. Begitu juga pada bulan Sya’ban dilaksanakan 10 hari, Rabiul Awal 10 hari, sedangkan pada bulan Ramadan biasanya berlangsung selama 30 hari penuh,” ujarnya, Selasa, (19/5/2026).
Menurutnya, tradisi tersebut bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi bagian dari pendidikan spiritual untuk melatih kesungguhan seorang hamba dalam beribadah dan membersihkan hati dari berbagai penyakit batin.
Dalam pelaksanaan suluk, jamaah umumnya menetap di lingkungan dayah selama masa tertentu dengan memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, shalat sunnah, serta mengurangi aktivitas yang bersifat duniawi.
“Suluk adalah latihan ruhani agar hati lebih dekat kepada Allah. Di situ jamaah diajarkan memperkuat zikir, memperbaiki akhlak, dan melatih kesabaran,” katanya.
Ia menjelaskan, Tarekat Naqsyabandiyah yang berkembang di Aceh selama ini menekankan pentingnya keseimbangan antara syariat dan hakikat. Karena itu, seluruh amalan tarekat tetap berpijak pada Al-Qur’an, hadis, serta ajaran ulama Ahlussunnah wal Jamaah.
Menurut Tgk Muhammad Riza, bulan Dzulhijah dipilih sebagai salah satu momentum suluk karena memiliki banyak keutamaan. Sepuluh hari pertama Dzulhijah bahkan disebut sebagai hari-hari terbaik untuk beramal saleh.
“Para ulama terdahulu memanfaatkan bulan-bulan mulia untuk memperbanyak ibadah lahir dan batin. Tradisi ini terus dijaga di dayah-dayah tarekat sampai hari ini,” ujarnya.
Alumnus Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga mengatakan tradisi suluk sudah lama menjadi identitas dayah berbasis tarekat di Aceh, termasuk Dayah Darul Ulum Abu Lueng Ie. Jamaah yang mengikuti suluk tidak hanya berasal dari kalangan santri, tetapi juga masyarakat umum dari berbagai daerah.
Bahkan, sebagian jamaah rela meninggalkan aktivitas pekerjaan sementara waktu demi mengikuti pembinaan ruhani tersebut. “Banyak masyarakat datang untuk mencari ketenangan hati dan memperbaiki hubungan dengan Allah,” katanya.
Tradisi suluk juga dilaksanakan di berbagai dayah besar di Aceh yang memiliki basis pendidikan tasawuf dan tarekat. Sejumlah dayah yang dikenal rutin menggelar suluk di antaranya Dayah MUDI Mesra Samalanga, Dayah Darussalam Labuhan Haji, serta sejumlah dayah lainnya di berbagai wilayah Aceh.
Tradisi tersebut menunjukkan bahwa pembinaan ruhani tetap menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan dayah Aceh, selain penguatan ilmu fikih, tauhid, dan kitab kuning. Selama suluk berlangsung, jamaah menjalani kehidupan sederhana dan disiplin. Aktivitas harian diisi dengan zikir berjamaah, kajian tasawuf, pembacaan wirid, qiyamul lail, hingga muhasabah diri.
Menurut Tgk Muhammad Riza, kehidupan modern yang penuh kesibukan membuat manusia semakin membutuhkan ruang untuk menenangkan hati dan memperkuat spiritualitas. “Suluk menjadi salah satu jalan untuk menata hati di tengah kehidupan yang semakin sibuk dan penuh ujian,” ujarnya.
Selain sebagai pembinaan individu, tradisi suluk juga dinilai memiliki dampak sosial yang besar karena mampu melahirkan pribadi-pribadi yang lebih sabar, tawadhu, serta peduli terhadap masyarakat.
Ia menegaskan tujuan utama tarekat bukan menjauh dari kehidupan sosial, tetapi membentuk manusia yang lebih baik dalam hubungan dengan Allah maupun sesama manusia.
“Tarekat mengajarkan bagaimana seseorang memiliki hati yang bersih, akhlak yang baik, dan memberi manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Di Aceh, tradisi suluk masih terus bertahan di tengah perkembangan zaman. Dayah-dayah berbasis Tarekat Naqsyabandiyah tetap menjadi pusat pembinaan spiritual masyarakat sekaligus penjaga warisan ruhani ulama Nusantara.
Tgk Muhammad Riza berharap generasi muda dayah tetap menjaga tradisi tersebut sebagai bagian dari khazanah keilmuan Islam Aceh yang telah diwariskan para ulama selama ratusan tahun.
“Ini bukan hanya tradisi, tetapi warisan pendidikan ruhani para ulama yang harus dijaga dan diteruskan,” pungkasnya.
Terpopuler
1
Menhan Sebut Seluruh Kabupaten di Jawa Akan Dikawal Batalyon Teritorial pada 2026
2
Prabowo Ungkap Alasan Gaji Guru dan ASN Masih Kecil: Kekayaan RI Banyak Lari ke Luar Negeri
3
Ambruknya Rupiah Dinilai Tekan Rakyat Kecil, DPR Soroti Harga Kebutuhan Pokok
4
Tiga Jurnalis Indonesia Bersama Aktivis Ditangkap Israel, Dewan Pers Minta Pemerintah Bertindak
5
Prabowo Heran Ekonomi Tumbuh 5 Persen Tetapi Kemiskinan dan Penurunan Kelas Menengah Terus Terjadi
6
PBNU Targetkan 61.000 Ranting di Seluruh Indonesia Terhubung Sistem Digdaya NU
Terkini
Lihat Semua