Akademisi Tunisia Jelaskan Paradigma Dakwah Islam Moderat Sesuai Al-Qur'an
NU Online · Sabtu, 29 Januari 2022 | 12:15 WIB
Syifa Arrahmah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Akademisi Universitas Ezzitouna, Tunisia, Syekh Sholahuddin al-Mustawi menjelaskan tentang paradigma dakwah kemoderatan Islam, merujuk pada ayat 107 QS Al-Anbiya, ia menyebutkan, ajaran inti dakwah Islam secara inklusif.
"Inklusifitas itu tergambar dari Islam sebagai agama yang sempurna, disampaikan oleh Muhammad sebagai Nabi terakhir dan penutup para Rasul. Oleh karena itu, ajaran Islam hendaknya disampaikan kepada seluruh manusia tanpa kecuali," papar Syekh al-Mustawi.Â
Mengisi Seminar Internasional Membangun Kerja Sama Internasional untuk Menguatkan Komitmen dan Praktik Islam Rahmatan Lil ‘Alamin, Rabu (26/1/2022), ia menyebut penyetaraan ajaran itu menggambarkan juga keuniversalan Islam dalam menerima perbedaan dan itu termaktub dalam QS Al-Hujurat ayat 13.Â
"Ayat itu menjustifikasi bahwa semua manusia adalah sama. Barangkali sekarang, manusia menjadi sangat beragam, namun pada dasarnya mereka berasal dari satu bapak yang sama, Nabi Adam," terangnya.
Selain sebagai agama universal, ia juga mengajak umat Islam untuk tidak membeda-bedakan para Nabi dan Rasul. Larangan membeda-bedakan para Nabi tersebut dibarengi dengan kesadaran untuk tidak menghina agama atau keyakinan lain.
"Semua utusan Allah datang dengan prinsip ajaran yang sama," terangnya.
Berangkat dari pernyataan itu, Al Mustawi memandang bahwa semua manusia dari kelompok manapun berkesempatan untuk  mendapatkan dakwah Islam melalui lisan-lisan para ulama. Alih-alih mencela berbagai syariat agama lain.
"Jikapun kita harus berdebat dengan para ahli agama, maka hendaknya kita lakukan dengan cara yang baik dan bijaksana. Kita lakukan itu dalam rangka berdialog dan bertukar pikiran," pesannya.
Selain memaparkan secara luas universalitas Islam sebagai agama dakwah, Al-Mustawi juga turut mempromosikan tafsir Islam yang fleksibel dan kontekstual.Â
"Fleksibilitas dan universalitas dakwah Islam  akan menciptakan maslahat bersama dalam kehidupan umat manusia," papar dia.
Indikasi lain dari fleksibilitas dan universalitas dakwah Islam, tambah Al Mustawi, adalah keramahan Islam terhadap budaya lokal bahkan menggunakannya untuk menyampaikan nilai-nilai Islam.Â
"Kita boleh mengakui dan berkolaborasi dengan lokalitas asal tidak bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri," tutupnya.
Seminar Internasional Membangun Kerja Sama Internasional untuk Menguatkan Komitmen dan Praktik Islam Rahmatan Lil ‘Alamin diadakan oleh International NGO Forum on Indonesian Development (INFID), bekerjasama dengan Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Pakistan, Tunisia, dan Malaysia. Seminar dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut pada tanggal 25-27 Januari 2022.
Pewarta: Syifa Arrahmah
Editor: Kendi Setiawan
Terpopuler
1
Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1447 H Jatuh 27 Mei 2026
2
Tim Hisab Rukyat: Hilal Awal Dzulhijjah 1447 H Penuhi Kriteria MABIMS, Idul Adha Diperkirakan 27 Mei 2026
3
Hilal Terlihat, PBNU: Idul Adha 1447 H Rabu, 27 Mei 2026
4
Menhan Sebut Seluruh Kabupaten di Jawa Akan Dikawal Batalyon Teritorial pada 2026
5
Tiga Jurnalis Indonesia Bersama Aktivis Ditangkap Israel, Dewan Pers Minta Pemerintah Bertindak
6
Ambruknya Rupiah Dinilai Tekan Rakyat Kecil, DPR Soroti Harga Kebutuhan Pokok
Terkini
Lihat Semua