Jakarta, NU Online
Betapa kebencian telah menjadi fenomena global yang melanda banyak negara di dunia, seperti Amerika Serikat, Australia, dan sebagainya. Hal tersebut sangat ditentukan oleh para pemimpin agama.
“Dunia ini akan semakin benci sangat ditentukan oleh pimpinan-pimpinan agama dari agama apapun, apabila pimpinan ini menyulut perpecahan pertentangan maka tersulutlah perang," kata Australia/Israel Jewish Council, Jeremy Jones saat memberikan kuliah umum Religious Dialogue in The Age of Resentment and Rising Populism di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta, Jalan Taman Amir Hamzah, Pegangsaan, Jakarta, Jumat (8/11).
Namun, ia melihat Indonesia berbeda dengan negara-negara lainnya, terutama kalangan Muslimnya. Baginya, umat Islam Indonesia sangat baik perilakunya. “Maka, apabila anda tidak mengisi visi Islam di permukaan dunia, maka dunia akan diisi oleh yang lain,” katanya.
Sementara itu, perkembangan teknologi yang begitu cepat memutus jarak dan ruang yang terbentang begitu luasnya. Namun meskipun demikian, teknologi juga dipandang dapat mempersempit ruang komunikasi yang selama ini terjalin baik.
“Masalahnya manusia modern walaupun teknologi berkembang tetapi ukhuwahnya menjadi menyempit.,” kata Ulil Abshar Abdalla.
Padahal, komunikasi menjadi satu tindakan penting untuk menjalin persaudaraan di tengah ekstremitas kebencian atas nama perbedaan suku, agama, ras, budaya, yang akhir-akhir ini menjadi fenomena global. “Persaudaraan itu penting karena kecenderungan dunia orang makin membatasi persaudaraan,” ujar pengajar di Fakultas Islam Nusantara Unusia Jakarta itu.
Karenanya, Nahdlatul Ulama sebagai sebuah organisasi masyarakat keagamaan Islam tentu memberikan sumbangsih penting terhadap realitas yang sudah sedemikian ini, yaitu dengan cara pandang keagamaannya yang moderat. “Kalau ada sesuatu yang bisa kita sumbangkan ke dunia adalah terkait cara memandang kita terhadap agama,” ucapnya.
Masyarakat NU punya cara pandang sendiri yang spesial untuk mengatasi masalah kebencian yang merupakan masalah global, yaitu dengan mengembangkan tiga jenis persaudaraan, persaudaraan antarumat Islam (ukhuwah islamiyah), persaudaraan sebangsa dan setanah air (ukhuwah wathaniyah), dan persaudaraan sesama manusia (ukhuwah insaniyah).
Diskusi ini dipandu oleh Kepala Pusat Riset Sekolah Strategi dan Global Pusat Riset Islam dan Timur Tengah Universitas Indonesia, Nur Munir. Kegiatan ini dihadiri oleh Dekan Fakultas Islam Nusantara Ahmad Suaedy dan seluruh sivitas akademika Fakultas Islam Nusantara Unusia Jakarta.
Pewarta: Syakir NF
Editor: Aryudi AR
Terpopuler
1
Pemerintah Tetapkan Libur Sekolah Awal Ramadhan 18-20 Februari 2026
2
Disambut Ketum PBNU, Presiden Prabowo Hadiri Mujahadah Kubro Harlah 100 Tahun NU di Malang
3
Data Hilal Penentuan Awal Bulan Ramadhan 1447 H
4
Resmi Dikukuhkan, Ini Susunan Pengurus MUI Masa Khidmah 2025-2030
5
1.686 Warga Padasari Tegal Mengungsi, Tanah Bergerak di Tegal Masih Aktif
6
Ratusan Ribu Warga Dikabarkan Bakal Hadiri Mujahadah Kubro 100 Tahun NU di Malang
Terkini
Lihat Semua