Bukan Hanya Bertubuh Pendek, Stunting Juga Bisa Ganggu Kecerdasan Anak
NU Online · Senin, 28 Februari 2022 | 12:45 WIB
Nuriel Shiami Indiraphasa
Kontributor
Jakarta, NU Online
Stunting merupakan gangguan perkembangan pada anak yang disebabkan oleh gizi buruk, infeksi berulang, dan simulasi psikososial yang kurang memadai. Menurut World Health Organization (WHO), anak dengan tinggi badan lebih dari minus 2 standar deviasi median pertumbuhan anak, bisa dikatakan mengalami stunting. Lantas, apakah tiap anak bertubuh pendek menderita stunting?
Ahli Gizi RSUD Kraton Pekalongan, Zidna Akmala Dewi menjelaskan meskipun anak stunting identik dengan perawakan tubuh yang pendek, tidak semua anak berperawakan pendek bisa dikategorikan sebagai penderita stunting.
“Harus diukur dulu, kalau pendek belum tentu stunting, tapi kalau stunting sudah pasti pendek. Sedangkan kalau pendek biasa atau kerdil, biasanya dari genetika atau gangguan lain,” terang Zidna saat dihubungi NU Online, Senin (28/2/2022).
Ia mengatakan, keadaan stunting dapat diukur melalui tinggi badan dibandingkan dari umurnya. Jika tinggi badan tidak normal sesuai umurnya, maka seseorang baru bisa disebut stunting. Pengukurannya pun diukur dengan z score oleh tenaga kesehatan.
“Jika kurang dari -2 standar deviasi, maka baru disebut stunting,” ujar Zidna.
Lebih lanjut ia menerangkan, stunting dapat disebabkan karena kurangnya asupan gizi sejak 1000 hari pertama kehidupan. Kurun waktu tersebut terhitung sejak anak dalam kandungan hingga usia 2 tahun.
Stunting, sambung alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta itu, bukan hanya persoalan tinggi badan semata. Lebih dari itu, stunting juga bisa berdampak pada tumbuh kembang, daya tahan tubuh, keterbatasan intelektual, dan kondisi fisik yang buruk saat dewasa.
“Bahaya yang bisa ditimbulkan selain pendek biasanya pertumbuhannya kurang, perkembangan IQ nya juga terhambat. Selain itu, anak juga sering sakit atau menimbulkan penyakit infeksi tertentu,” ungkapnya.
Pencegahan stunting
Hasil survei Status Gizi Indonesia (SGI) 2021 menunjukkan 1 dari 4 anak Indonesia mengalami stunting dan 1 dari 10 anak mengalami gizi kurang. Zidna mengatakan, upaya pencegahan stunting bisa dilakukan dimulai dengan dari memperhatikan porsi isi piring dan kandungan gizi yang diterima.
“Stunting dapat dicegah dengan memenuhi asupan harian yang bergizi dan seimbang sejak sebelum kehamilan. Artinya, sejak pra nikah, konsumsi makanan diusahakan yg bergizi dan seimbang,” tukasnya.
Melansir laman resmi Kementerian Kesehatan, kandungan gizi seimbang dapat ditemui dan beredar di masyarakat. Untuk ibu hamil atau bayi sebelum lahir, pangan yang dianjurkan pada satu porsi makan adalah minimal 4 kali seminggu dengan porsi minimal 75gr hingga 100gr, 1-2 butir telur, susu, pangan hewani, dan lauk pauk.
Kontributor: Nuriel Shiami Indiraphasa
Editor: Aiz Luthfi
Terpopuler
1
PBNU Terima Kasih kepada Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026
2
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Gubernur BI Siapkan Dua Langkah Penguatan
3
Imbas Rupiah Melemah, Menkeu Sebut Pedagang Tahu dan Tempe Mulai Tertekan
4
Kasus Suap Izin Tinggal WNA, Citra Indonesia Tercoreng di Mata Dunia
5
NU Abad Kedua: Masihkah Kita Berani Berpikir Melampaui Diri Sendiri?
6
Kiai Azaim Harap Kekerasan di Pesantren Masuk Materi Munas-Konbes hingga Muktamar ke-35 NU
Terkini
Lihat Semua