Cerita Aktivis NU Mengarantina Diri untuk Cegah Covid-19
NU Online · Ahad, 26 April 2020 | 01:00 WIB
Pada pertengahan bulan Maret yang lalu, Wakil Sekretaris Lembaga Takmir Masjid (LTM) PBNU, Ali Sobirin melakukan perjalanan ke Jepang. Selama empat hari, dia berada di Jepang untuk urusan kerja sama usaha.
Setiba di Jakarta, Also, panggilan akrabnya memutuskan melakukan karantina mandiri hingga 18 hari. Ia tahu anjuran karantina mandiri sebagai pencegahan penularan Covid-19, terlebih ia baru melakukan perjalanan ke luar negeri.
"Saya mengarantina diri di rumah karena saya ingin menjaga ketenangan jiwa keluarga. Daripada keluarga bimbang," kata Also.
Berada di rumah, bahkan hanya di dalam kamar, Also mengatakan istrinya sudah sangat siap dengan pola yang baru, termasuk melayaninya yang sedang karantina mandiri, seperti mengantarkan makanan ke kamar, mengambil keperluan lainnya.
Soal karantina mandiri ini, kata Also, istrinya sangat sadar, sehingga tidak ada hambatan. Mereka akhirnya menikmati sebagai sedang dalam permainan.
Penulis buku Teknologi Ruh itu mengatakan, selama karantina dirinya tidak mengalami kendala apa pun, semua berjalan normal. Barangkali itu karena dia tidak mengalami kebutuhan mendesak untuk bekerja secara fisik. "Seluruh kerjaan saya kebetulan bisa dikoordinasi via WA, sangat simpel," katanya.
Hal yang lucu pun ia rasakan. "Kadang mirip sedang berada di penjara. Kadang seperti merasa di rumah sakit. Itu loh makanan dianter di depan kamar. Hahaha," tuturnya.
Meski demikian, ia tidak merasa mengisolasi diri, karena tetap bisa melakukan banyak hal. "Malah saya merasa 24 jam itu kurang. Waktu seperti berlalu sangat cepat," ungkap pria yang juga motivator ini.
Karantina mandiri menurut Also akhirnya memberikan banyak hikmah, utamanya sisi spiritual. Ada kesadaran bahwa kiamat itu ada dan sangat mudah bagi Allah, dan tidak mesti dengan hujan meteor atau gempa. Juga kesadaran bahwa mendekati Allah itu sebetulnya tidak harus dengan beramai-ramai. "Malah mestinya nyepi mandiri di mana keikhlasan itu diuji, tiada riya," katanya.
Sementara dari sisi mental adalah bahwa disiplin itu kunci segalanya, termasuk pola makan agar selalu terjaga. Sedangkan secara intelektual, karantina mandiri menyadarkan perlunya mengasah diri.
Editor: Fathoni
Terpopuler
1
Mengenal Enam A’wan PBNU 2026-2031 dari Kalangan Guru Besar dan Rektor Perguruan Tinggi
2
Khutbah Jumat: Keutamaan Mendoakan Keluarga yang Sudah Meninggal pada Hari Jumat
3
Khutbah Jumat: Sedekah Jumat Berkah, Menghidupkan Hari Mulia dengan Kebaikan
4
Khutbah Jumat: Menjaga Diri dari Maksiat Digital di Era Media Sosial
5
PBNU Sosialisasikan AD/ART Baru, Konferensi PWNU, PCNU, dan PCINU Dimulai 1 November 2026
6
Khutbah Jumat: Peran Masyarakat, Pemerintah dan Keluarga dalam Menciptakan Lingkungan Bebas Perundungan
Terkini
Lihat Semua