Nasional

Masuki Tahun Ke-17, Masjid Gus Dur Ciganjur Kembali Gelar Tarawih 1 Juz

NU Online  ·  Kamis, 19 Februari 2026 | 05:00 WIB

Masuki Tahun Ke-17, Masjid Gus Dur Ciganjur Kembali Gelar Tarawih 1 Juz

Ketua PP JQHNU KH Jazim Hamidi menyampaikan kultum sebelum gelaran Tarawih 1 juz di Masjid Gus Dur Ciganjur, Rabu (18/2/2026) malam. (Foto: NU Online/Ova)

Jakarta, NU Online

Masjid Al-Munawwarah atau yang lebih dikenal sebagai Masjid Gus Dur di Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, kembali menggelar shalat Tarawih satu malam satu juz pada Ramadhan tahun ini. Tradisi yang telah berjalan sejak 17 tahun lalu itu dibuka pada malam pertama dengan imam KH Jazim Hamidi, Rais Majelis Ilmi Pimpinan Cabang Jam'iyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (PC JQHNU) Depok sekaligus Ketua PP JQHNU.


Dalam tausiyah sebelum pelaksanaan Tarawih, Kiai Jazim mengajak jamaah untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum penguatan spiritual dan keberdayaan diri.


“Setelah ini kita akan berhubungan dengan jamaah shalat Tarawih. Juga untuk ilham dan keberdayaan masing-masing. Alhamdulillah malam ini kita bisa hadir di Masjid Al-Munawwarah dalam rangka menjalankan Tarawih berjamaah. Isya dilanjutkan dengan Tarawih,” ujarnya, pada Rabu (18/2/2026) malam.


Menurut Kiai Jazim, Tradisi Tarawih satu malam satu juz di Masjid Gus Dur Ciganjur bukanlah perkara ringan. Ia menyebut, berdasarkan informasi dari keluarga Yayasan KH A Wahid Hasyim, kegiatan ini merupakan ‘tugas malam’ yang cukup berat setiap tahunnya dan telah melewati masa-masa kritis dalam perjalanannya.


“Alhamdulillah, malam ini insyaallah tahun ke-17 kalinya. Semoga jamaah Tarawih satu malam satu juz ini dimasukkan Allah ke dalam golongan hamba-Nya yang istiqamah dan yang menghidupkan malam-malam Ramadan (ihyalayali Ramadhan),” tuturnya.


Bulan baca Qur’an

Magister jebolan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menjelaskan bahwa Ramadhan bukan hanya syahrus shiyam (bulan puasa), tetapi juga syahrul qiyam (bulan mendirikan salat malam) dan syahrul qur'an (bulan membaca Al-Qur’an).


“Karena itu, Tarawih satu juz setiap malam menjadi ikhtiar untuk menghidupkan ketiga dimensi tersebut secara bersamaan. Kenapa satu malam satu juz? Dengan asumsi dan keyakinan, di akhir Ramadan nanti bisa khatam 30 juz,” terangnya.


“Ramadhan itu juga syahrul qur'an. Maka tepat sekali kita menyambutnya dengan berdiri dalam salat malam dan mengisinya dengan bacaan Al-Qur’an,” jelas alumnus Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta ini.
 


Kiai Jazim mengakui, mengkhatamkan Al-Qur’an dalam salat bukanlah hal mudah. Namun, menurutnya di situlah letak nilai perjuangan dan keistiqamahan.


"Susah kita mengkhatamkan Al-Qur’an di dalam salat. Tapi dengan keistiqamahan, insyaallah Allah akan turunkan malaikat-Nya membersamai orang-orang yang istiqamah,” tuturnya.


Mengutip kaidah ulama, ia menegaskan, al-istiqamah khairun min alfi karamah—konsistensi lebih utama daripada seribu keramat. Karena itu, ia berharap jamaah Masjid Gus Dur Ciganjur termasuk dalam golongan hamba yang senantiasa dijaga dan diberkahi Allah.


“Semoga Al-Qur’an yang kita baca dan kita dengarkan menjadi keberkahan bagi kita dan keluarga, serta menjadi syafaat bagi kita di dunia, khususnya di akhirat kelak,” harapnya.


Pantauan NU Online, jamaah pria memenuhi dua pertiga ruangan masjid. Sementara jamaah perempuan yang kebagian sepertiga di dalam meluber hingga teras di depan masjid.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang