Nasional

Harapan Rais Majelis Ilmi untuk Jamiyyatul Qurra wal Huffazh

NU Online  ·  Ahad, 15 Juli 2018 | 05:00 WIB

Karawang, NU Online
Rais Majelis Ilmi Jamiyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) KH Ahsin Sakho Muhammad menyampaikan harapannya bahwa JQHNU ke depan harus dapat menjadikan masyarakat Indonesia cinta Al-Qur’an.
 
“Bisa menjadikan masyarakat Indonesia itu bisa menjadi orang-orang pencinta Al-Qur’an Al-Karim,” ujarnya saat memberikan sambutan pada Kongres Kelima JQHNU di Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyah 3, Cilamaya, Karawang, Sabtu (14/7).
 
Di samping itu, harapan lainnya agar JQHNU dapat dikenal di tengah masyarakat luas, baik di dalam maupun luar negeri.
 
Pengasuh Pondok Pesantren Darul Qur’an, Arjawinangun, Cirebon itu menceritakan bahwa shalawat badar pernah menggaung di Turki. Ini dilakukan oleh orang Malaysia. Ia berharap hal ini dapat dilakukan oleh JQHNU supaya dikenal luas.
 
“Itu salah satu cara penetrasi budaya kepada masyarakat muslim di luar sana,” katanya.
 
Asmaul husna, sebagaimana shalawat badar, juga perlu digaungkan di dunia Islam. Kiai Ahsin pernah mendapatkan tulisan asma-asma Allah itu ditulis oleh Usman Toha, seorang khattat.
 
“Ini cara menyebarkan kreasi-kreasi kita ke dunia Islam,” ujarnya.
 
Selain itu, Kiai Ahsin juga meminta agar JQH menjaga Al-Qaidah al-Baghdadiyah. Banyak metode kequranan, menurutnya, justru muncul bukan dari akademisi atau orang-orang kepesantrenan. Oleh karenanya, ia menekankan kepada para peserta untuk dapat memperbarui metode dan inspirasi baru. Hal ini ia dasarkan pada kaidah fiqih al-muhafazhatu ‘alal qadimi sshalih wal akhdzu bil jadidil ashlah, menjaga nilai-nilai dahulu yang baik, dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik.
 
Bahkan, katanya, menurut sebagian pendapat, bukan wal akhdzu bil jadidil ashlah, melainkan waijadul jadidil ashlah. Artinya, memperbaharui kebaruan yang lebih baik. Pendapat kedua itu, menurut Kiai Ahsin, lebih bermakna aktif, sedangkan pendapat pertama mengarah ke pasif.
 
“Kalau orang sudah memasuki dunia kequranan itu akan muncul inspirasi-inspirasi baru yang berkaitan dengan kequranan. Dan itu tugas dari kita sekalian,” tegasnya.
 
Meskipun demikian, dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu mengungkapkan bahwa kemunculan metode cara cepat membaca Al-Qur’an, cara cepat menghafalkan Al-Qur’an, cara cepat menerjemahkan Al-Quran, dan sebagainya itu tidak bisa lepas dari peran serta ulama qurra terdahulu.
 
“Bagian yang tak terpisahkan dari kondisi kequranan pada masa-masa yang lalu,” jelasnya.
 
Sebab, bacaan yang dilantunkan oleh orang-orang saat ini sama dengan orang terdahulu. Itu, katanya, bagian dari indikator peran serta ulama terdahulu.
 
“Ini adalah merupakan peran daripada ulama-ulama qurra di dalam menjaga eksistensi daripada keaslian bacaan ayat suci Al-Qur’an Al-Karim. Sangat berarti di dalam perjalanan Al-Qur’an Al-Karim di Indonesia,” pungkasnya. (Syakir NF/Abdullah Alawi)

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang