Nasional

Keberhasilan KH Muhaimin Zen Pimpin Jam’iyyatul Qurra wal Huffaz

NU Online  ·  Selasa, 17 Juli 2018 | 15:00 WIB

Jakarta, NU  Online
KH Muhaimin Zen identik dengan badan otonom NU Jam’iyyatul Qurra wal Huffaz Nahdlatul Ulama (JQHNU), sebuah organisasi tempat berhimpunnya ahli qiraah, penghafal, dan pengkaji Al-Qur’an.  Ia menakhodai banom itu sejak 2002 hingga 2018. 

Jam’iyyatul Qurra wal Huffaz sebetulnya berdiri sejak 1951 atas prakarsa KH Wahid Hasyim, seorang pengahafal Al-Qur’an, putra Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari ayahnya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Berkembang aktif di kepemimpinan KH Abubakar Aceh pada masa Orde Lama.

Namun, pada  masa Orde Baru, Jam’iyyatul Qurra wal Huffaz, sebagaimana banom lain, mengalami kemandekan. Gus Dur, pada masa akhir memimpin PBNU pernah meminta mengaktifkan kembali JQHNU, tapi tidak maksimal. Lalu, pada masa KH Hasyim Muzadi diaktifkan kembali dengan menunjuk KH Muhaimin Zen pada 2002 pada posisi ketua umum, sementara Rais Majelis Ilmi KH Ahsin Sakho Muhammad. 

Selama 16 tahun memipin JQHNU, Kiai Muhaimin mampu menyelenggarakan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat nasional antarpondok pesantren empat kali, yaitu pada 2004, 2007, 2012, dan 2018. Ia juga mampu menyelenggarakan MTQ internasional dua kali, yaitu di Pontianak 2012 dan di Karawang 2018. 

Ketika 2002, ia hanya memiliki 2 Pimpinan Wilayah (PW, kepengurusan di tingkat provinsi) yaitu Jawa Timur dan Jawa Tengah. Ia kemudian bersama pengurus-pengurus lain, berupaya mengembangkannya.

Upayanya berhasil pesat, pada 2018, ia mampu mengembangkannya 13 kali lipat untuk tingkat wilayah, yang sekarang memiliki 26 PW. Di tingkat PC ia mengembangkannya puluhan lipat, kini JQHNU memiliki 175 Pimpinan Cabang (PC, kepengurusan di tingkat kabupaten atau kota), dan dua Pimpinan Cabang Istimewa (kepengurusan di luar negeri), yaitu di Mesir dan Brunei Darussalam. 

"Itu diperlukan kepedulian kita, kejelian kita; ada kemauan untuk mengembangkan," katanya ketika ditanya resep mengembangkan JQHNU. 

Dana, lanjutnya, memang sering menjadi masalah dalam kegiatan-kegiatan JQHNU. Namun, hal itu bukan halangan. Ia mengutip sebuah ayat Al-Qur'an, yang artinya, orang yang bersungguh-sungguh di jalan Allah, akan mendapatkan petunjuk untuk menyelesaikannya. 

Pada kongres kedelapan JQHNU di Karawang, beberapa hari lalu, KH Muhaimin Zen tidak memimpin lagi. Bukan tidak dipercaya peserta kongres, tapi jauh-jauh hari ia menyatakan, bahwa kepemimpinan selanjutnya harus dari kalangan yang lebih muda dan energik. Ia merasa cukup sampai 2018. Namun, itu pun bukan berhenti membantu memikirkan kemajuan JQHNU ke depan. 

Para peserta kemudian menyerahkan kepemimpinan selanjutnya kepada KH Saifullah Ma’shum di Ketum JQHNU. Sementara KH Ahsin Sakho Muhammad di Rais Majelis Ilmi. Kiai Ahsin Sakho sendiri tidak mencalonkan diri, tapi peserta kongres mempercayai kepakarannya dalam bidang ilmu-ilmu Al-Qur'an. (Abdullah Alawi)

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang