Ketua Umum PBNU Sorot Standardisasi Infrastruktur di Pondok Pesantren
NU Online · Jumat, 3 Oktober 2025 | 16:00 WIB
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. (Foto: NU Online/Aceng Darta)
Haekal Attar
Penulis
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menyoroti infrastruktur pesantren. Menurutnya, infrastruktur yang sesuai dengan standard dapat menjadi penunjang pembentukan mentalitas yang baik bagi para santri.
"Kita harus memikirkan nasib lembaga pesantren itu ke depan, transformasi itu tidak terelakan dan harus di lakukan," katanya saat sambutan diskusi Rekontekstualisasi Maqoshidusy Syari'ah; Dharuriyat Al-Khams dan Transformasi Kurikulum Pesantren dalam acara Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) di Sengkang, Wajo, Sulawesi Selatan, Jumat (3/10/2025).
"Sehingga tinggal bagaimana kita mengkalkulasinya, apa yang harus kita pertahankan, apa yang harus diubah, dan produk keluaran yang bagaimana yang nantinya kita harapkan dari pesantren-pesantren yang ada," tambahnya.
Gus Yahya mengaku, selama diskusi di beberapa tempat, ia selalu mempromosikan satu perspektif yang menyebutkan bukan hanya soal akademik tapi infrastrukur di pesantren.
"Kita ini berurusan dengan anak-anak yang sebagian besar berusia remaja, terus tinggal di dalam satu komplek secara bersama, selama bertahun-tahun, sehingga atmosfir dari lembaga pesantren itu akan mempengaruhi mentalitas (para santri)," jelasnya.
Melalui infrastruktur yang terstandar dengan baik, katanya, mentalitas santri bakal lahir dan mampu berkonstruksi sesuai dengan apa yang diharapkan.
"Apalagi mengingat mereka ini adalah anak-anak remaja yang secara psikologis merupakan usia rentan dari berbagai macam eksposure yang mereka terima di dalam kehidupan pada masa usia itu," jelasnya.
Lebih lanjut, Gus Yahya melihat bahwa kurikulum harus dikembangkan sesuai dengan pemetaan strukturnya.
"Artinya ya seperti kita punya struktur pendidikan secara umum. Ada pendidikan dasar dan menengah, ada pendidikan tinggi," katanya.
"Saya kira wawasan tentang kurikulum pesantren ketika berpikir tentang pengembangannya ini juga harus dikungkung dengan pikiran yang sama," pungkasnya.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Meneladani Hidup Rasulullah di Masa Ekonomi Sulit
2
Munas-Konbes NU 2026 di Ploso Bakal Dihadiri Lebih dari 500 Peserta dan Peninjau
3
Bahlil Janji BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir 2026, Pertamax Malah Melonjak Jadi Rp16.250 per Liter
4
Gus Ipul: Pembukaan Munas-Konbes NU 2026 di Bangkalan Masih Sebatas Usulan
5
Menjaga Marwah Pemilihan Pengurus NU: Catatan dari Sowan kepada KH Afifuddin Muhajir
6
Khutbah Jumat: Sebelum Memilih dan Memutuskan, Bertanyalah kepada Allah melalui Istikharah
Terkini
Lihat Semua