PBNU Kutuk Keras Agresi Israel-AS ke Iran: Jelas Melanggar Hukum Internasional
NU Online · Senin, 2 Maret 2026 | 14:00 WIB
Haekal Attar
Penulis
Jakarta, NU Online
Agresi Amerika Serikat dan Israel terhadap Republik Islam Iran terus berlanjut hingga saat ini. Aksi saling serang antara keduanya mengakibatkan hancurnya sejumlah bangunan penting di Teheran, Iran; Tel Aviv, Israel; dan beberapa negara Arab lain di kawasan.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), H Mohamad Syafi' Alielha atau Savic Ali, menegaskan bahwa agresi tersebut membuat tatanan dunia semakin tidak stabil.
"Langkah Israel-Amerika menyerang Iran jelas melanggar hukum internasional dan mengembalikan tatanan dunia sebelum 1945, di mana negara bisa saling serang menggunakan kekuatan militer semaunya," katanya kepada NU Online pada Senin (2/3/2026).
Savic menekankan bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai organisasi internasional untuk perdamaian dunia dapat mengambil langkah tegas dengan memberikan sanksi terhadap Israel-Amerika.
"PBB mesti mengambil langkah tegas dg bersidang dan memberikan sanksi terhadap Israel-Amerika sebagaimana saat PBB memberikan sanksi terhadap Irak saat menyerang Kuwait 1990," jelasnya.
Ia melihat bahwa alasan Iran memiliki program nuklir hingga berpotensi digunakan untuk membuat bom yang mematikan belum cukup kuat dan tidak dapat dibenarkan sebagai dasar untuk melakukan agresi militer.
"Karena berdasar keterangan Oman yang sempat memediasi Amerika-Iran, Iran nyaris menyetujui tuntutan yang diajukan oleh Amerika terkait pengembangan nuklir," katanya.
Amerika-Israel Ingin Kuasai Kawasan Arab-Persia
Tak hanya itu, Savic juga menilai bahwa serangan Amerika-Israel terhadap Iran merupakan langkah untuk menghegemoni kawasan Arab-Persia.
Ia menjelaskan bahwa bagi Israel, runtuhnya kekuasaan Iran akan membuat tidak ada lagi pihak yang mampu menandingi maupun menimbulkan rasa takut terhadapnya. Sementara itu, menurutnya, bagi Amerika Serikat, jika Iran runtuh maka kawasan kaya minyak tersebut akan sepenuhnya berada dalam pengaruhnya.
"Buat Amerika jika Iran runtuh maka kawasan kaya minyak itu sepenuhnya berada dalam pengaruhnya, dan Amerika menghambat pasokan minyak ke China yang merupakan rival terbesarnya, sebagaimana yang Amerika lakukan terkait Maduro, Venezuela," katanya.
Savic juga melihat, harusnya negara-negara Muslim di seluruh Dunia agar mau melayangkan kutukan terhadap agresi Amerika-Israel di Iran.
"Tapi sayang itu tidak terjadi. Rivalitas dan ketidakpercayaan antar negara-negara Arab masih terlalu besar untuk bisa melahirkan solidaritas antar umat Islam," terangnya.
Diketahui, imbas dari agresi tersebut adalah wafatnya Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran Ayatullah Ali Khamenei Sabtu (28/2/2026).
Kabar itu dikonfirmasi media resmi Iran, IRNA, melalui akun X-nya. "Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Sayyid Ali Khamenei telah syahid dalam serangan Israel-Amerika pada Sabtu," tulis IRNA, pada Ahad (1/3/2026).
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Ramadhan, Melatih Sabar, Memperkuat Syukur
2
Khutbah Jumat: Tiga Kebahagiaan Orang Puasa
3
Gerhana Bulan Total Bakal Terlihat di Seluruh Indonesia pada Selasa 3 Maret 2026, Dianjurkan Shalat Khusuf
4
Gus Yahya Sebut Kepergian Ketum Fatayat Margaret adalah Kehilangan Besar bagi Keluarga NU
5
Ali Khamenei Wafat dalam Serangan Israel-Amerika
6
Khutbah Jumat: 4 Cara Menghidupkan Malam Ramadhan dengan Ibadah
Terkini
Lihat Semua