Nasional

LKK PBNU dan Kemenag Bekali Relawan untuk Perkuat Dukungan Psikososial Pascabencana di Pidie Jaya

NU Online  ·  Rabu, 7 Januari 2026 | 14:30 WIB

LKK PBNU dan Kemenag Bekali Relawan untuk Perkuat Dukungan Psikososial Pascabencana di Pidie Jaya

Psikolog Keluarga dan Pendidikan LKK PBNU Hj Nurmey Nurulchaq di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pidie Jaya, Senin (5/1/2026). (Foto: NU Online/Helmi Abu Bakar)

Pidie Jaya, NU Online

Lembaga Kemaslahatan Keluarga (LKK) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bekerja sama dengan Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) menggelar kegiatan peningkatan kapasitas relawan dukungan psikososial pascabencana di Aceh. Kegiatan ini digelar di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pidie Jaya, Senin (5/1/2026).


Adapun peserta berasal dari berbagai unsur, di antaranya penyuluh agama, kepala KUA, guru PAUD, serta relawan Nahdlatul Ulama yang selama ini aktif mendampingi masyarakat di lokasi pengungsian.


Kasi Bimas Islam Kemenag Pidie Jaya Tgk Zahari menyampaikan bahwa pendampingan psikososial merupakan kebutuhan mendesak pascabencana, terutama bagi anak-anak dan keluarga penyintas yang masih hidup dalam kondisi tidak menentu.


“Bantuan fisik sangat penting, tetapi pemulihan mental dan sosial masyarakat juga tidak boleh diabaikan. Aparatur keagamaan dan relawan berada di garis terdepan karena mereka dekat dengan masyarakat dan dipercaya oleh warga,” ujarnya.


Menurutnya, pendekatan psikososial berbasis nilai keagamaan dan kearifan lokal Aceh menjadi kekuatan utama dalam proses pemulihan. Ia berharap relawan yang telah dibekali mampu menjadi pendamping yang menenangkan, bukan justru menambah beban psikologis korban.


Sementara itu, Psikolog Keluarga dan Pendidikan LKK PBNU Hj Nurmey Nurulchaq menekankan bahwa dukungan psikososial harus dilakukan secara hati-hati, empatik, dan tidak tergesa-gesa. Pendampingan, kata dia, harus disesuaikan dengan kondisi dan budaya masyarakat setempat.


“Anak-anak penyintas bencana pada umumnya tidak mudah mengalami trauma berat selama masih mendapatkan kehadiran dan pendampingan dari orang tua atau figur dewasa di sekitarnya,” jelas Nurmey.


Ia menjelaskan bahwa persoalan psikologis sering muncul ketika perasaan yang dialami tidak sejalan dengan cara berpikir. Karena itu, relawan diharapkan mampu menghadirkan rasa aman, bukan tekanan, dalam proses pendampingan.


Nurmey juga menyoroti kuatnya modal sosial masyarakat Indonesia, termasuk Aceh, berupa gotong royong dan kebersamaan. Berdasarkan kajian literasi ilmiah, pendekatan dukungan psikososial berbasis komunitas dinilai lebih efektif dalam membantu pemulihan pascabencana.


“Budaya saling berbagi dan kebersamaan yang hidup di masyarakat menjadi faktor penting dalam proses pemulihan. Inilah kekuatan yang perlu terus diperkuat,” ungkapnya.


Dalam pendampingan korban bencana, Nurmey mengingatkan relawan agar bijak memilih diksi saat berinteraksi dengan penyintas. Ia menilai istilah-istilah tertentu, seperti trauma atau nasihat yang bersifat menggurui, justru dapat menambah beban psikologis korban.


“Gunakan bahasa yang lebih lembut dan membangun. Bahkan kata ‘sabar’ pun sebaiknya tidak mudah diucapkan, karena kita tidak berada di posisi mereka,” tegasnya.


Melalui kegiatan ini, LKK PBNU dan Kemenag RI berharap relawan dan aparatur keagamaan memiliki kesiapan yang lebih baik dalam mendampingi masyarakat terdampak bencana. Pendampingan psikososial diharapkan menjadi bagian penting dari proses pemulihan, sehingga penyintas mampu saling menguatkan dan bangkit bersama dari musibah yang mereka alami.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang