LPBI PBNU Ungkap Pentingnya ‘Pesantren Hijau’
NU Online · Jumat, 16 Agustus 2019 | 04:30 WIB
Indonesia mengalami darurat sampah. Jutaan ton sampah menumpuk setiap tahunnya, tetapi hanya sedikit saja yang bisa diolah kembali. Tak ayal, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LPBI PBNU) menggelar ‘Pesantren Hijau.’
Ketua LPBI PBNU Muhammad Ali Yusuf mengungkapkan bahwa hijau menjadi nama dalam program tersebut mengingat warna tersebut melambangkan kesuburan, harmoni, dan kelestarian.
“Kenapa juga kita pilih istilah Pesantren Hijau, karena dari pesantren kita berharap dalam rangka menghambat laju dampak kerusakan lingkungan itu bisa kita laksanakan paling tidak tidak menambah kerusakan lingkungan sehingga dampaknya bisa kita kurangi,” katanya saat memberikan sambutan pada acara Bedah Modul Pesantren Hijau di Gedung PBNU lantai 8, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Kamis (16/8).
Sebab, menurutnya, mengurangi dampak atau mengembalikan lingkungan kepada keadaan normal sangat membutuhkan waktu yang lama. “Kalau mengurangi atau menormalkan kembali kita butuh waktu yang sangat lama dan tidak mungkin dalam waktu dekat karena kondisinya sudah seperti ini,” ujarnya.
Perlunya konsen dalam isu lingkungan juga dikuatkan dengan berbagai peristiwa bencana akhir-akhir ini. “Bukti bahwa kenapa kita perlu konsen di keresahan lingkungan hidup adalah dan ini kaitannya dengan bencana karena kami lembaga yang membidangi dua bidang ini, penanggulangan bencana dan iklim,” jelasnya.
Mengutip data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Ali Yusuf mengungkapkan bahwa kejadian bencana yang ada di Indonesia 10 tahun terakhir 95 persen karena bencana kerusakan lingkungan yang istilahnya hydro meteorological disaster.
Ia menjelaskan bahwa ada dua tipe. Tipe pertama seperti bencana geologis seperti bencana gempa, meletusnya gunung berapi, dan tsunami. Tipe kedua seperti bencana banjir, longsor, kekeringan, kebakaran hutan yang banyak andil dari tangan-tangan atau kelakuan manusia sendiri.
Oleh karena itu, mau tidak mau, menurutnya, hal tersebut sudah wajib menjadi konsen bersama. paling tidak, katanya, dapak kerusakan lingkungan hidupnya dapat dikurangi. (Syakir NF/Muchlishon)
Terpopuler
1
Ancam Ekosistem Pertembakauan, Lesbumi PBNU Tolak Rancangan Aturan Kemenko PMK dan Kemenkes soal Tembakau
2
Kapten Timnas Iran Kritik FIFA, Sebut Piala Dunia 2026 'Bencana' dan Berjalan Tidak Adil
3
Pemerintah Tetapkan Logo Resmi HUT ke-81 RI, Ini Makna Desain dan Cara Unduhnya
4
DPR Desak Latsarmil Calon Manajer Kopdes Dihapus, Negara Bisa Hemat Lebih dari Rp1 Triliun
5
Hari Bhayangkara Ke-80, Presiden Prabowo Klaim Polri Berkontribusi pada Ketahanan Pangan dan MBG
6
Rais Syuriah PBNU Ingatkan Pengurus PWNU Aceh: Jangan setelah Dilantik Malah Jadi Urusan
Terkini
Lihat Semua