Ngatawi Al-Zastrouw: Seni Harus Jadi Jangkar Peradaban di Tengah Arus Kota Global
NU Online · Rabu, 11 Februari 2026 | 10:30 WIB
Ngatawi Al-Zastrouw saat menyampaikan Orasi Budaya Seni dalam Lanskap Kota Global Jakarta di Taman Ismail Marzuki, Menteng, Jakarta, Selasa (10/2/2026) malam. (Foto: NU Online/Mufidah)
Mufidah Adzkia
Kontributor
Jakarta, NU Online
Budayawan Nahdlatul Ulama (NU) Ngatawi Al-Zastrouw menegaskan bahwa seni dan budaya memiliki peran strategis dalam membangun kota global yang berkarakter dan beradab.
Ia menilai seni tidak boleh semata-mata dipandang sebagai komoditas ekonomi, melainkan harus ditempatkan sebagai fondasi peradaban yang menjaga jati diri masyarakat.
“Dalam perspektif pekerja seni dan budayawan, seni dalam lanskap kota global adalah jangkar peradaban. Ia (seni) menjaga masyarakat agar tidak hanyut dalam arus kompetisi kebudayaan global,” ujar Zastrouw saat menyampaikan Orasi Budaya Seni dalam Lanskap Kota Global Jakarta di Taman Ismail Marzuki, Menteng, Jakarta, Selasa (10/2/2026) malam.
Zastrouw menjelaskan bahwa ciri kota global hanya ada tiga. Pertama, menjadi pusat perekonomian dunia. Kedua, didukung teknologi yang menghubungkannya dengan masyarakat global. Ketiga, memiliki kebudayaan unggul untuk berkomunikasi secara global.
Zastrouw menekankan bahwa seni harus siap berperan sebagai tim kreator, inovator, dan produsen nilai ekonomi. Ia mengingatkan, apabila seni hanya diposisikan sebagai sesuatu yang bisa dijual, maka berbagai kesenian tradisional akan habis karena dianggap tidak kompatibel dengan pasar, seperti lenong dan pendalangan.
“Lalu, di mana posisi seni? Tergantung cara pandang. Dalam perspektif teknokratik, ekonomis, dan kapitalistik, seni diposisikan sebagai sesuatu yang bisa dijual, menghasilkan uang, dan menjadi sumber daya ekonomi global,” ujarnya.
Zastrouw menekankan pentingnya menyiapkan bukan hanya seni yang laku dijual, tetapi juga seni yang berakar pada nilai, norma, dan karakter masyarakatnya, kemudian dikembangkan secara kreatif dan inovatif agar kompatibel dengan tuntutan kota global.
“Bukan kapitalisasinya yang utama, melainkan fondasi dan karakter senimannya. Apakah ini bisa? Bisa. Lihat Cina. Cina mempersiapkan masyarakat seninya sejak Revolusi Kebudayaan. Pasca-Perang Dingin, Cina merekonstruksi kebudayaannya melalui kapitalisme negara, sehingga senimannya kreatif dan inovatif tanpa tenggelam dalam arus global,” tegasnya.
Ia juga mencontohkan seniman Jepang yang mengeksplorasi khazanah peradaban dan keseniannya sendiri. Menurutnya, para seniman Jepang tidak mematikan atau menyingkirkan potensi lokal, melainkan menjadikannya sebagai sumber daya yang diciptakan ulang agar kompatibel dengan kota global.
Zastrouw menekankan bahwa tugas bersama adalah memastikan seniman memiliki kreativitas dan karakter yang kuat, serta mendorong kepedulian pemerintah terhadap dunia seni. Ia menilai, nasib seniman saat ini kerap terpinggirkan dan kurang mendapat perhatian.
“Karena nasib seniman hari ini seperti anak yatim dicari saat butuh pahala, ditinggalkan setelah tidak dibutuhkan,” katanya.
Baca Juga
Pandangan Ulama Terhadap Seni Musik
Ia menambahkan bahwa dalam lanskap kota global, yang dibutuhkan adalah seniman kreatif dan inovatif yang mampu mengenali potensi kebudayaannya sebagai sumber daya ekonomi sekaligus peradaban. Adapun persoalan teknik, skenario, dan peta jalan dapat dibicarakan pada kesempatan lain.
“Dalam lanskap kota global, yang dibutuhkan adalah seniman kreatif dan inovatif yang mampu mengenali potensi kebudayaannya sebagai sumber daya ekonomi dan peradaban. Teknik, skenario, dan roadmap bisa dibicarakan lain waktu,” ujarnya.
Zastrouw menjelaskan bahwa Indonesia memiliki sumber daya kesenian yang luar biasa, mulai dari seni tari, musik, hingga sastra. Namun, kekayaan tersebut selama ini tersumbat oleh dua persoalan utama, yakni kapitalisme seni yang menilai seni semata dari aspek jual-beli serta puritanisme agama yang memandang seni sebagai bid’ah, sesat, dan mengotori agama.
“Maka tugas masyarakat seni Jakarta adalah membuka sumbatan-sumbatan peradaban ini agar mata air seni kembali mengalir jernih. Jangan sampai kekayaan seni kita hanya jadi bahan baku yang kemudian dihilirisasi oleh Barat. Hilirisasi tidak hanya soal tambang, tapi juga seni dan budaya,” pungkasnya.
Terpopuler
1
Pemerintah Nonaktifkan 13,5 Juta Peserta PBI JKN, Mensos Gus Ipul: Dialihkan ke Warga Lebih Miskin
2
Kemenag akan Gelar Sidang Isbat Ramadhan pada 17 Februari 2026 dengan Didahului Edukasi Pengamatan Hilal
3
Menkeu Purbaya Heran Anggaran Kesehatan Naik Malah Berujung Penonaktifan PBI JKN
4
Presiden Prabowo: Setiap Kali di Tengah NU Saya Selalu Bahagia
5
100 Tahun NU, Rais Aam PBNU Langitkan Doa untuk Palestina
6
120 Ribu Pasien Terancam, Menkes Peringatkan Risiko Kematian akibat Penonaktifan PBI JKN
Terkini
Lihat Semua