Nilai-Nilai Mabadi’ Khaira Ummah Perlu Ditebarkan untuk Atasi Kekerasan di Instansi Pendidikan
Sabtu, 18 Januari 2025 | 16:00 WIB

Ketua PBNU Alissa Wahid saat Workshop Pra Kongres Pendidikan NU di Hotel Acacia, Jakarta Pusat pada Sabtu (18/1/2025). (Foto: NU Online/Suwitno)
Achmad Risky Arwani Maulidi
Kontributor
Jakarta, NU Online
Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU menggelar Workshop Pra Kongres Pendidikan NU di Hotel Acacia, Jakarta Pusat pada Sabtu (18/1/2025). Acara ini mengusung tema Transformasi Digital: Tantangan Pendidikan Karakter untuk Generasi Masa Depan.
Dalam pemaparannya, Alissa Wahid menekankan pentingnya menebarkan nilai-nilai yang tertuang dalam mabadi’ khairu ummah. Tata nilai tertuang dalam hasil Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama pada tahun 1992.
“Akhlak yang harus dihidupkan di kalangan NU adalah ash-shidqu (jujur), al-amanah wal wafa bil ‘ahdi (menepati janji), al-‘adalah (keadilan), ta’awun (tolong-menolong), istiqomah (konsisten),” sebut ketua PBNU bidang Kesejahteraan Masyarakat itu.
Menurut Alissa, nilai-nilai itu mampu membantu perbaikan karakter insan pendidikan. Ia menilai bahwa mabadi’ khoira ummah harus menjadi acuan dalam mengelola pendidikan karakter ala NU.
“Nah jadinya, Pak Dani, mohon Ma'arif menghidupkan itu di sekolah-sekolah kita, ya. Kalau kita bicara pendidikan karakter seperti apa karakternya NU dan orang-orang NU,” tuturnya.
Di samping persoalan karakter, penyelenggara pendidikan juga perlu memperhatikan lima keterampilan yang dicanangkan pakar psikologi perkembangan Howard Gardner. Menurut Alissa, keterampilan itu dapat membantu proses pembelajaran peserta didik secara berkelanjutan.
Adapun lima keterampilan itu antara lain discipline thinking (cara berpikir secara mendalam dan terus-menerus), creating thinking (bersemangat menciptakan sesuatu), Synthesizing thinking (menghubungkan berbagai hal menjadi hal baru), Respectful (menghormati orang lain), ethical thingking (dapat membedakan antara tepat dan tidak tepat).
Dalam kesempatan yang sama, Alissa menegaskan bahwa masalah di lingkungan pendidikan sangat berkaitan dengan sistem yang berkembang masyarakat. Semua elemen masyarakat mulai dari pemangku kebijakan, penyelenggara pendidikan, guru, orang tua hingga murid berkontribusi dalam memunculkan kekerasan.
Oleh karenanya, sangat dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak untuk mencari solusi penawarnya. “Pola-pola itu dibentuk oleh sistem yang besar, nah di dalamnya sistem pasti banyak unsurnya. Dan kita juga perlu memahami soal apa saja unsur-unsur pembentuk pola-pola yang melahirkan kekerasan dan intoleransi,” ajaknya.
Agenda workshop ini merupakan rangkaian dari Kongres Pendidikan NU dalam rangka peringatan Harlah ke-102 Nahdlatul Ulama. Kongres Pendidikan sendiri direncanakan akan digelar di Hotel Bidakara, Jakarta pada 22-23 Januari 2025 mendatang.
Terpopuler
1
8 Amalan Sunnah yang Dianjurkan pada Hari Raya Idul Fitri
2
Niat Puasa Syawal Lengkap dengan Latin dan Terjemahnya
3
Niat Puasa Qadha bagi yang Batal atau Meninggalkannya di Bulan Ramadhan
4
Meninjau Posko Mudik Banser di Bantul Yogyakarta, Ini Fasilitas dan Layanan untuk Pemudik
5
573 Posko Mudik Banser Siaga 24 Jam Amankan Perjalanan Pemudik ke Kampung Halaman
6
Hukum Dahulukan Puasa Syawal Ketimbang Qadha Puasa Ramadhan
Terkini
Lihat Semua