Pemerintah Bimbang Tangani Merebaknya Virus Corona
NU Online · Senin, 16 Maret 2020 | 06:37 WIB
Hal itu diungkapkan oleh Pengajar Linguistik Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Fariz Alnizar kepada NU Online pada Senin (16/3).
"Isi pidatonya masih menyiratkan ada kebimbangan untuk melakukan langkah strategis apa yang harus diambil dalam menghadapi wabah korona ini. Presiden menyebut dua model respon. Pertama lockdown dan kedua tidak perlu lockdown. Ingat urutan penyebutan ini bukan sebuah kebetulan," katanya.
Fariz menjelaskan bahwa bahasa adalah ideologi. Urusan bahasa, menurutnya, bukan perkara teknis menaruh diksi dan pilihan kata semata. Namun, lebih dari itu ada “politik” dan nilai-nilai ideologi yang bersemayam di balik setiap susunan kata dan pilihan diksi.
Kata para penganut aliran Linguistik Kritis, bahasa adalah lokus sebuah ideologi bertengger. "Dari sini, kita bisa menangkap bahwa pemerintah masih enggan untuk melakukan pilihan lockdown dalam kasus corona," ujarnya.
Argumenntasinya simpel saja, bahwa jika ada dua opsi disebutkan, maka umumnya opsi kedua merupakan kisi-kisi keputusan yang akan diambil.
“Kita melihat, beberapa negara yang mengalami penyebaran lebih awal dari kita, ada yang melakukan lockdown dengan segala konsekuensi yang menyertainya. Tetapi ada juga negara yang tidak melakukan lockdown, namun melakukan langkah dan kebijakan yang ketat untuk menghambat penyebaran Covid19,” kata Fariz mengutip utuh pernyataan Jokowi.
Konjungsi yang dipakai dalam kalimat tersebut, jelasnya, adalah 'tetapi' yang menyiratkan penyangkalan halus atas opsi sebelumnya, yakni lockdown.
Di samping itu, Fariz juga melihat Presiden Jokowi kurang percaya diri dari bahasa yang disampaikannya. Sebab, pernyataan berikutnya tidak jelas tujuannya, imbauan; instruksi; atau perintah.
Hal itu dapat dilihat dari pernyataan Presiden Jokowi berikut. "Dengan kondisi ini, saatnya kita kerja dari rumah, belajar dari rumah, ibadah di rumah. Inilah saatnya bekerja bersama-sama, saling tolong-menolong dan bersatu-padu, gotong-royong. Kita ingin ini menjadi sebuah gerakan masyarakat agar masalah Covid-19 ini bis tertangani dengan maksimal.”
"Ini dalam hemat saya kalimat yang disampaikan dengan psikis yang kurang percaya diri. Terlihat tak begitu punya power," katanya.
Dari kajian linguistik, Fariz merasa tidak begitu kaget melihat fakta penanganan pemerintah soal wabah corona. Menurutnya, pidato presiden adalah katalisator wajah pemerintah dan negara dalam menangani corona. “Ragu, bimbang, dan minim koordinasi,” pungkasnya.
Pewarta: Syakir NF
Terpopuler
1
Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1447 H Jatuh 27 Mei 2026
2
Tim Hisab Rukyat: Hilal Awal Dzulhijjah 1447 H Penuhi Kriteria MABIMS, Idul Adha Diperkirakan 27 Mei 2026
3
Hilal Terlihat, PBNU: Idul Adha 1447 H Rabu, 27 Mei 2026
4
Menhan Sebut Seluruh Kabupaten di Jawa Akan Dikawal Batalyon Teritorial pada 2026
5
Tiga Jurnalis Indonesia Bersama Aktivis Ditangkap Israel, Dewan Pers Minta Pemerintah Bertindak
6
Ambruknya Rupiah Dinilai Tekan Rakyat Kecil, DPR Soroti Harga Kebutuhan Pokok
Terkini
Lihat Semua