Nasional

Psikososial Dampingi Pengungsi Terdampak Gempa Bumi di Manggarai NTT

NU Online  ·  Jumat, 18 September 2026 | 08:30 WIB

Psikososial Dampingi Pengungsi Terdampak Gempa Bumi di Manggarai NTT

Kegiatan trauma healing melalui pengajian kepada anak-anak di tenda pengungsian Reok, Manggarai pada Sabtu (12/9/2026). (NU Peduli NTT) 

Jakarta, NU Online

Pemulihan warga terdampak gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan logistik. Di Kabupaten Manggarai, warga yang masih bertahan di tenda pengungsian juga membutuhkan ruang untuk memulihkan kondisi psikologis, terutama anak-anak yang menghadapi dampak gempa magnitudo 7,7 dan gempa-gempa susulan.

 

Kondisi itu mendorong NU Peduli NTT tidak hanya menyalurkan bantuan kebutuhan dasar, tetapi turut mendukung kegiatan keagamaan dan trauma healing bagi warga terdampak di Kecamatan Reok.

 

Koordinator Lapangan Wilayah Manggarai Tim NU Peduli NTT, Isa Hikmawan, mengatakan bantuan logistik terus disalurkan kepada warga terdampak gempa di Kabupaten Manggarai.

 

“Kita terus melakukan upaya membagikan bantuan logistik berupa sembako, telur, beras, mi instan, terpal, selimut kepada warga yang terdampak gempa NTT yang berada di Kabupaten Manggarai. Terakhir 12 September kemarin, kita berfokus kepada para pengungsi yang masih tinggal di tenda yang sekitar TPQ dan masjid di Kecamatan Reok. Di sana mayoritas masyarakatnya NU,” katanya kepada NU Online, Kamis (17/9/2026).

 

Di tengah keterbatasan tempat belajar, Isa mengungkapkan bahwa para ustadz di TPQ yang juga kaum Nahdliyin tetap mengajarkan mengaji kepada anak-anak. Kegiatan tersebut berlangsung di dalam tenda yang dibangun menggunakan terpal bantuan NU Peduli. Sebagian terpal lainnya digunakan warga sebagai tempat tinggal.

 

Menurutnya, pendampingan psikososial dan trauma healing yang diberikan kepada anak-anak tidak dilepaskan dari ajaran Nabi Muhammad dan ulama-ulama NU. Pendekatan serupa juga diberikan kepada orang dewasa melalui khutbah Subuh.

 

“Salah satu ustaznya bilang kepada kami, bahwa trauma healing yang diberikan tidak lepas dari ajaran Nabi Muhammad dan ulama-ulama NU. Materi-materi itu berdampak kepada perilaku anak-anak pascagempa M7,7 dan gempa-gempa susulan,” tuturnya.

 

“Kalau untuk bapak-bapak dan ibu-ibu, trauma healing-nya diselipkan di khutbah Subuh dengan materi yang sama, sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad dan ulama-ulama NU saat menghadapi bencana,” lanjutnya.

 

Ketahanan warga juga terlihat ketika peringatan Maulid Nabi tetap dilaksanakan di tengah tenda pengungsian.

 

“Ketika Maulid Nabi, mereka merayakan dan bersholawat bersama di dalam tenda. Ini yang membuat saya terharu menangis, bahwa dalam kondisi apa pun masyarakat NU di Reok tetap melaksanakan dan mengadakan momen Maulid Nabi itu. Menurut saya ini justru momen kita berkuat dan mendekatkan diri,” ujar Isa.

 

Selain bantuan di sekitar TPQ dan masjid, NU Peduli membantu warung makan milik salah satu kader NU yang menyediakan makanan gratis bagi pengungsi dan relawan.

 

“Sejak awal gempa, warung itu salah satunya yang terus buka di saat warung lainnya tutup. Pemiliknya juga tidak pandang bulu, siapa pun yang datang boleh makan di sana, jadi bisa disebut juga sebagai dapur umum,” ujarnya.

 

Ia menyampaikan bahwa bantuan sembako disalurkan melalui warung tersebut. “Dibantu dimasakkan di sana dan dibagikan juga kepada para pengungsi dan relawan,” katanya.

 

NU Peduli juga memberikan genset untuk mendukung kebutuhan listrik. Pasalnya, meski kondisi listrik di Reok sudah lebih baik, pemadaman masih terjadi. “Karena banyak yang datang untuk makan dan kadang untuk mengecas HP (handphone) dari masyarakat sekitar, itu pertimbangan kami memberikan genset ini,” pungkas Isa.

 

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang