Membaca Puisi Gus Dur Berjudul Kota Suez dalam Tiga Lapis Makna
NU Online · Selasa, 30 Desember 2025 | 15:15 WIB
Abdul Wachid B.S.
Kolomnis
Abdurrahman Wahid—yang akrab dan penuh cinta dipanggil Gus Dur—telah banyak dikenang sebagai seorang pemikir besar Islam, politisi yang demokratis, ulama humanis, dan budayawan lintas batas. Gagasan-gagasannya tentang pluralisme, kebangsaan, dan Islam Nusantara menjadikannya tokoh yang melampaui zamannya. Namun, di antara semua peran besar itu, ada satu sisi Gus Dur yang nyaris luput dari perhatian publik: Gus Dur sebagai penyair.
Ya, Gus Dur ternyata pernah menulis puisi. Dan lebih dari sekadar mencoba, puisinya memancarkan kedalaman batin dan kepekaan estetik seorang santri yang merenung jauh di tengah pusaran sejarah dan luka peradaban. Salah satu puisinya yang paling lirih namun menyimpan gema makna besar adalah “Kota Suez”. Puisi ini dikutip oleh sahabat karibnya, Kiai Haji A. Mustofa Bisri (Gus Mus), dalam kumpulan sajaknya Ohoi (1991:85). Di sana, sajak Gus Dur tampil bukan sebagai sisipan, melainkan sebagai saksi keakraban spiritual di antara dua kiai sastrawan.
Dalam puisi “Kota Suez” itu, Gus Dur tidak sedang bermain-main dengan kata. Ia menyuarakan luka sejarah, kerinduan spiritual, dan pengharapan yang sunyi. Dalam keheningan puisinya, terselip kegelisahan seorang santri yang hidup dan belajar di jantung dunia Arab, tapi hatinya tetap tertambat pada luka umat yang lebih besar.
Pertanyaan penting pun mengemuka: siapakah “kau” yang dimaksud Gus Dur dalam puisi ini?
Apakah itu Palestina? Dunia Arab? Umat Islam? Atau justru tanah airnya, Indonesia?
Esai ini akan mengajak kita untuk menziarahi puisi “Kota Suez” dan memaknainya dalam tiga lapis tafsir. Dari sana, kita akan menyusun kembali wajah Gus Dur bukan hanya sebagai pemikir dan pemimpin, tetapi juga sebagai sastrawan santri—seorang penulis spiritual yang menulis dengan mata batin dan ruh kemanusiaan.
Konteks Historis dan Kultural Puisi “Kota Suez”
Puisi “Kota Suez” tidak bisa dilepaskan dari latar kehidupan Gus Dur ketika belajar di Mesir pada awal 1960-an. Ia menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo—salah satu pusat keilmuan Islam tertua di dunia. Namun masa-masa itu bukanlah periode yang tenang. Dunia Arab tengah dilanda gelombang besar pascakolonialisme, dengan krisis identitas, konflik politik, dan perang yang mengguncang jantung peradaban Islam.
Kota Suez, yang menjadi judul puisi ini, bukan sekadar nama tempat. Ia adalah lambang luka dan perlawanan. Kota ini menjadi titik strategis dalam Perang Arab-Israel, khususnya Perang Suez 1956, ketika Mesir di bawah Gamal Abdel Nasser menasionalisasi Terusan Suez, menghadapi invasi gabungan Inggris, Prancis, dan Israel. Kota ini menjadi medan tempur sekaligus medan simbolik perjuangan bangsa Arab atas dominasi Barat dan zionisme.
Di tengah suasana itulah Gus Dur hidup dan belajar. Ia tidak hanya menyerap ilmu dari para syekh dan intelektual Timur Tengah, tetapi juga mengalami langsung ketegangan sosial-politik yang menyelimuti dunia Islam. Ia menyaksikan bagaimana umat Islam yang mayoritas justru terpinggirkan secara politik dan ekonomi, serta bagaimana idealisme pan-Arabisme gagal menyatukan jiwa umat yang tercerai berai.
Dari kegelisahan itulah lahir puisi “Kota Suez”—sebuah refleksi lirih yang lebih menyerupai doa daripada pernyataan politik. Berikut kutipan lengkap puisinya:
KOTA SUEZ
Puisi karya K.H. Abdurrahman Wahid
Kota Suez kota sepi
Kota Suez kota kering
Dengan angin suara kami beriring
Dendang membelah hati
Kau yang jauh dari kami
Kota Suez beri gamitan padamu
Kami beri lagu untukmu
Lagu sunyi hati kami
(Sumber: Ohoi, Kumpulan Puisi-puisi Balsem K.H. A. Mustofa Bisri, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1991: 85).
Diksi-diksi seperti sepi, kering, angin, lagu sunyi hati kami menggambarkan bukan hanya kondisi geografis Kota Suez yang gersang, melainkan juga suasana batin Gus Dur sebagai santri perantauan: hening, gelisah, dan penuh pertanyaan tentang masa depan umat.
Puisi ini ditulis dalam bentuk sederhana, namun menyimpan kedalaman spiritual dan historis yang luar biasa. Dalam bait-bait singkat itu, kita mendengar suara seorang anak muda Indonesia yang jauh dari tanah air, tapi jiwanya menyatu dengan luka dan harapan dunia Islam.
Puisi ini tak sekadar dokumentasi emosi personal. Ia adalah cermin dari kesadaran kosmopolit seorang santri, yang menjadikan perjalanannya ke Timur Tengah bukan hanya sebagai pencarian ilmu, tetapi juga sebagai ziarah intelektual dan spiritual.
Lapis Tafsir Pertama: “Kau” sebagai Palestina dan Dunia Arab yang Terluka
Puisi “Kota Suez” dapat dibaca dalam konteks geopolitik yang tegang di wilayah Timur Tengah pada pertengahan abad ke-20. Saat itu, dunia Arab masih dalam kondisi pascaperang dan trauma kolonial. Palestina berada dalam penderitaan akibat penjajahan Israel yang dimulai sejak 1948, sementara negara-negara Arab lainnya masih mencari jati diri di tengah reruntuhan kolonialisme dan ambisi modernitas.
Baca Juga
Gus Dur Mengabdi
Dalam konteks inilah, frasa pembuka “Kota Suez kota sepi / Kota Suez kota kering” tidak hanya menunjuk pada lanskap fisik kota itu sendiri, melainkan mencerminkan suasana batin kawasan yang gersang secara spiritual dan sosial. Sepi dan kering di sini menjadi metafora bagi kekosongan makna hidup setelah perang dan keterasingan dunia Arab dari cita-cita keadilan.
Lalu pada bait kedua, “Dengan angin suara kami beriring / Dendang membelah hati”, kita menjumpai bentuk solidaritas spiritual. Gus Dur, dalam puisinya, tidak mengangkat senjata, tetapi menyanyikan dendang, yakni lagu batin yang lirih namun dalam. Ia menempatkan dirinya sebagai bagian dari umat Islam yang bersedih, namun juga berusaha menyampaikan simpati dan dukungan melalui suara dan doa.
Bagian paling menyentuh adalah dua larik penutup:
“Kami beri lagu untukmu / Lagu sunyi hati kami”.
Inilah bentuk sublim solidaritas yang khas seorang santri: bukan melalui slogan atau propaganda, tetapi melalui bahasa hati. Lagu yang diberikan Gus Dur bukan lagu kemenangan, melainkan lagu sunyi, tanda bahwa penderitaan Palestina dan dunia Arab adalah penderitaan bersama umat.
Dengan demikian, pada lapis pertama ini, “kau” dalam puisi Gus Dur dapat ditafsirkan sebagai Palestina atau dunia Arab yang sedang luka dan kehilangan arah. Gus Dur tidak menyebut nama negara secara eksplisit, tetapi justru di situlah letak kekuatan puisi ini: ia berbicara kepada siapa saja yang sedang terjajah, terusir, dan terasing dari kemanusiaannya.
Melalui puisi ini, Gus Dur bukan hanya menjadi penyair, tetapi juga pelintas batas batin: ia hadir sebagai santri yang merenungkan sejarah dan menyuarakan luka umat dengan kelembutan bahasa dan kedalaman spiritual.
Lapis Tafsir Kedua: “Kau” sebagai Jiwa Umat Islam yang Terluka
Di luar tafsir geografis dan historis, puisi “Kota Suez” juga dapat dibaca dalam kerangka yang lebih abstrak dan universal: sebagai renungan terhadap krisis spiritual umat Islam. Dalam lapis makna ini, kata “kau” tidak lagi menunjuk pada satu tempat atau bangsa tertentu, melainkan meluas menjadi representasi jiwa umat Islam yang sedang mengalami kegersangan makna dan kehilangan arah.
Puisi ini ditulis pada masa di mana dunia Islam tengah dihadapkan pada fragmentasi identitas: antara tradisi dan modernitas, antara nalar dan dogma, antara persatuan spiritual dan fanatisme politik. Dalam situasi seperti itu, umat Islam bukan hanya kehilangan kekuatan geopolitik, tetapi yang lebih dalam: kehilangan jati dirinya sebagai pewaris nilai-nilai kasih, kebijaksanaan, dan keadilan.
Frasa “Kota sepi… kota kering” tidak lagi sekadar menunjuk pada dampak perang fisik, tetapi juga perang batin yang dialami umat. Sepi karena kehilangan makna ruhaniah, dan kering karena tercerabut dari sumber mata air spiritualitas yang sejati. Gus Dur, dalam posisinya sebagai santri yang hidup di jantung dunia Arab, melihat langsung betapa keislaman seringkali tercerai oleh simbol-simbol luar, tetapi hampa dari substansi rohani.
Dalam bait: “Kami beri lagu untukmu / Lagu sunyi hati kami”, tersirat bentuk ratapan spiritual yang lirih namun sarat makna. Lagu itu tidak melodius atau heroik; ia sunyi. Kesunyian yang dimaksud bukan kesunyian pasif, tetapi hening yang kontemplatif—hening yang lahir dari kesadaran akan luka terdalam umat: keterputusan dari dimensi ilahiah yang welas asih.
Melalui puisi ini, Gus Dur menyampaikan bahwa santri bukan hanya makhluk pesantren, tetapi juga penjaga ruh umat. Dalam “lagu sunyi” itulah Gus Dur menempatkan dirinya—sebagai bagian dari hati umat yang menginginkan penyembuhan, bukan hanya melalui aksi, tetapi melalui zikir yang menyuarakan kesadaran kolektif dan cinta kasih antarbangsa dan antariman.
Dengan demikian, “kau” di sini adalah gambaran umat Islam yang luka oleh fanatisme, radikalisme, dan kekerasan atas nama agama—luka yang hanya bisa disembuhkan dengan kelembutan hati, ketekunan tafakur, dan nyanyian batin yang jernih.
Lapis Tafsir Ketiga: “Kau” sebagai Indonesia
Lapis makna yang ketiga membuka kemungkinan bahwa “kau” dalam puisi “Kota Suez” bukan hanya menunjuk keluar, melainkan justru mengarah pulang—kepada tanah air, Indonesia. Gus Dur, dalam posisi sebagai santri perantauan di dunia Arab, barangkali sedang menulis bukan semata untuk Palestina atau umat Islam global, tetapi untuk negerinya sendiri: Indonesia yang ia rindukan, ia harapkan, dan ia doakan dari jauh.
Frasa “Kota Suez beri gamitan padamu” dapat dibaca sebagai isyarat bahwa dunia Islam—dalam luka dan keterpurukannya—memanggil Indonesia. Sebuah negeri yang, meskipun jauh secara geografis dari pusat sejarah Islam klasik, justru menyimpan potensi besar sebagai wajah Islam masa depan. Indonesia dengan mayoritas Muslim yang hidup dalam bingkai demokrasi, kebhinekaan, dan budaya damai, menjadi harapan baru dalam kebangkitan Islam yang beradab dan welas asih.
Gus Dur adalah saksi hidup atas kompleksitas dunia Arab: konflik yang tak kunjung selesai, politik yang kerap keras, dan keagamaan yang sering terjebak dalam skripturalisme beku. Maka dari tempat itulah, ia mungkin menatap Indonesia sebagai tanah harapan—tempat Islam bisa tumbuh secara organik bersama tradisi, tanpa kehilangan ruh spiritualitasnya.
Bait “Kami beri lagu untukmu / Lagu sunyi hati kami” menjadi bentuk doa dan harapan moral kepada Indonesia. “Lagu sunyi” itu bukan nyanyian kemenangan, melainkan bisikan batin yang jernih: agar Indonesia tidak terseret dalam arus kekerasan yang sama, agar umat Islam di tanah air tetap menjaga wajah rahmatnya, agar pluralisme yang diwarisi dari para pendiri bangsa terus terjaga, dan agar Islam Nusantara tampil sebagai cahaya rahmatan lil ‘alamin bagi dunia.
Dengan membaca “Kota Suez” dalam perspektif ini, kita menemukan Gus Dur tidak hanya merindukan tanah air, tetapi juga menitipkan amanah. Ia ingin Indonesia hadir bukan sebagai kekuatan politik global, tetapi sebagai kekuatan moral dan spiritual: bangsa yang memberi teladan melalui praktik, bukan hanya retorika; melalui kedamaian, bukan dominasi.
Gus Dur sebagai Sastrawan Santri: Menghidupkan Sastra Santri
Gus Dur mungkin tidak menulis banyak puisi, tetapi setiap karya tulisnya memancarkan kepekaan batin seorang sastrawan. Puisinya, seperti “Kota Suez”, sudah cukup menunjukkan bahwa ia memiliki mata batin tajam, rasa halus, dan kepekaan terhadap luka zaman. Namun, kekayaan sastranya lebih luas jika kita membaca esai-esainya.
Buku seperti Menggerakkan Tradisi: Esai Esai Pesantren—awalnya diterbitkan sebagai Bunga Rampai Pesantren (1985) dan diperluas oleh LKiS (2001)—memberikan kita akses pada 16 esai Gus Dur perihal pesantren, kebudayaan, dan modernitas . Di dalamnya, ia menyusuri pesantren sebagai subkultur, kekayaan kesusastraan santri, hingga tantangan modernisasi yang tidak boleh mengorbankan ruh keilmuan pesantren.
Baca Juga
Rahasia Kecerdasan Gus Dur
Ada satu esai istimewa berjudul “Pesantren dalam Kesusastraan Indonesia” —sebuah refleksi talentanya menangkap keindahan bahasa pesantren. Di sana, Gus Dur tidak hanya menjadi pengamat, tetapi penyair tanpa bersajak resmi: ia menyelaraskan ragam bahasa pesantren dengan cita estetika naratif dan intelektual.
Selain itu, karya-karyanya seperti Islam Kosmopolitan, Tuhan Tidak Perlu Dibela, dan kumpulan kolom seperti Melawan Melalui Lelucon memuat esai singkat, alegori, dan puisi ringan. Tuhan Tidak Perlu Dibela sendiri berisi 73 tulisan kolom di Tempo yang menyelami keindahan spiritual Islam dalam kehidupan sehari-hari .
Inilah kunci mengapa Gus Dur layak disebut sastrawan santri. Dia menulis bukan untuk retorika semata, melainkan untuk merasakan, mengajak pembaca menapak jejak spiritual, dan mempertahankan estetika pesantren yang berlandas pada keikhlasan, keberagaman, dan rasa keadilan. Dia membawa ruh santri—zikir, lelucon, altruisme—ke dalam karya (tulis) sastranya.
Sastra santri di sini bukan genre, melainkan cara berpikir dan merasakan dunia, bersumber dari tradisi kitab kuning dan keseharian rakyat, namun merespons zaman dengan kesederhanaan yang transformatif. Gus Dur tidak hanya penulis santri, tapi santri yang menulis untuk menyuarakan manusia, keragaman, dan keindahan keislaman modern—yang dibingkai dalam semangat rahmatan lil ‘alamin.
Sastra Santri sebagai Jalan Peradaban: Dari Suez ke Nusantara
Puisi “Kota Suez” bukan hanya sebuah sajak nostalgia, tetapi proyeksi harapan peradaban. Di sana tersimpan pesan Gus Dur: bahwa Islam yang hidup, menderita, dan merindukan kemerdekaan spiritual tidak berhenti di Timur Tengah. Ia merambat—dan bahkan menemukan harapannya—di Asia Tenggara, di Nusantara, di Indonesia.
Suez adalah luka sejarah. Tapi dari luka itu, Gus Dur memandang Indonesia bukan sebagai penonton, melainkan sebagai subjek harapan: negara dengan umat Islam terbanyak, yang bisa menjadi cahaya bagi dunia. Maka, puisi ini tidak berhenti pada rasa pilu, tetapi membawa getar spiritual bahwa santri Indonesia, dengan segala kedalaman tradisinya, adalah penjaga nyala Islam yang welas asih dan tercerahkan.
Di sinilah makna sastra santri menjadi penting. Santri bukan sekadar status pendidikan—“pernah mondok”—tetapi cara menjadi manusia: hidup dengan ilmu, rendah hati, berorientasi pada kemaslahatan umat. Siapa pun yang menulis dengan ruh itu—ruh tawadhu’, welas asih, berpikir panjang, dan mengabdi—mereka menulis dalam tradisi sastra santri.
Dengan begitu, Gus Dur hadir bukan hanya sebagai seorang tokoh besar yang kebetulan menulis puisi. Ia adalah penggerak ruh sastra santri itu sendiri. Ia meletakkan fondasi bahwa menulis adalah bentuk ibadah, dan sastra adalah jalan memuliakan manusia serta menghidupkan nilai-nilai Islam.
Hari Santri, dalam semangat ini, bukan semata-mata perayaan lembaga pesantren. Ia adalah penanda peradaban: bahwa dari tempat-tempat sederhana dan sunyi itulah, muncul kata-kata, pemikiran, dan karya yang mengubah arah sejarah. Bahwa dari hati para santri yang sunyi dan ikhlas, puisi seperti “Kota Suez” bisa lahir dan menyeberangi zaman.
Dari Lagu Sunyi ke Simfoni Peradaban
Melalui puisi “Kota Suez”, Gus Dur tidak hanya menorehkan kata-kata, tetapi menanamkan warisan spiritual yang dalam dan estetika sastra yang peka. Ia menulis bukan untuk bersaing dengan para penyair, tetapi untuk mengabarkan luka umat, membisikkan harapan, dan merumuskan kembali makna kemanusiaan dalam diam dan doa.
Sudah saatnya kita menziarahi kembali jejak kepenyairan Gus Dur, bukan sebagai romantisme terhadap masa lalu, melainkan sebagai bagian dari khazanah sastra spiritual Nusantara. Puisinya mengandung spirit yang melampaui zaman: menyatukan kesedihan dan harapan, kegetiran dan cinta, luka dan cahaya.
“Kota Suez” tidak semata-mata tentang Mesir, Palestina, atau Indonesia. Ia adalah cermin dari umat manusia yang terus mencari arah, cahaya, dan makna di tengah sejarah yang penuh sunyi dan luka. Dalam kepenyairan Gus Dur, kita menemukan simpul-simpul makna tentang Islam yang rahmatan lil ‘alamin—Islam yang tidak terjebak dalam slogan, tapi hidup dalam kelembutan kata dan kebijaksanaan jiwa.
Dengan demikian, Gus Dur bukan hanya milik dunia politik dan agama. Ia juga milik dunia sastra, dunia budaya, dan dunia ruhani yang lebih luas. Ia adalah sastrawan santri yang menyanyikan lagu sunyi umat manusia, dan dari sunyi itulah kita diajak untuk membangun simfoni peradaban.
Abdul Wachid B.S., penulis adalah penyair, Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Direktur Sekolah Kepenulisan Sastra Pedaban (SKSP) dan Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) di Purwokerto.
Terpopuler
1
PBNU Tegaskan Aliansi yang Mengatasnamakan Angkatan Muda NU Bukan Bagian dari Organisasi NU
2
Khutbah Jumat: Rajab, Bulan Islah dan Perdamaian
3
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
4
Nyai Ainiyah Yusuf, Cahaya di Pesantren Mambaus Sholihin Gresik
5
Khutbah Jumat: Rezeki yang Halal Menjadi Penyebab Hidup Tenang
6
PWNU Aceh Dukung Pendataan Rumah Terdampak Banjir, Warga Diminta Melapor hingga 15 Januari
Terkini
Lihat Semua