Opini 100 TAHUN NU

NU dan Semangat Zaman yang Berubah: Dicintai, tapi Tak Selalu Diikuti

NU Online  ·  Kamis, 15 Januari 2026 | 07:05 WIB

NU dan Semangat Zaman yang Berubah: Dicintai, tapi Tak Selalu Diikuti

Lambang Nahdlatul Ulama (Gambar: NU Online)

Di tengah dunia yang berubah cepat, Nahdlatul Ulama (NU) hari ini berada pada sebuah momentum penting dan krusial. Bukan lagi sekadar soal bagaimana menjaga tradisi, tetapi bagaimana tradisi itu tetap hidup dan bermakna di tengah arus urbanisasi, digitalisasi, dan pergeseran generasi. NU tetap menjadi rumah besar jutaan umat, namun rumah itu kini berdiri di lingkungan yang sangat berbeda dibanding satu atau dua dekade lalu.


Indonesia sedang menikmati bonus demografi, dengan lebih dari 70 persen penduduk berada pada usia produktif. Generasi Z dan milenial kini menjadi kelompok terbesar, sekaligus paling digital, paling urban, dan paling cair dalam identitas sosial. Di saat yang sama, penetrasi internet telah menjangkau lebih dari 90 persen rumah tangga di banyak provinsi. Ruang sosial masyarakat pun berpindah, dari langgar dan balai desa ke layar ponsel dan media sosial.


Temuan survei Alvara Research Center di akhir tahun 2025 memberikan potret yang menarik. Secara nilai, warga NU masih kuat dalam tradisi dan amaliah keagamaan, tetapi secara keterikatan struktural, terutama di kalangan generasi muda, mulai longgar. NU tetap dicintai, namun tidak selalu diikuti secara organisatoris.


Ini bukan tanda kemunduran, melainkan sinyal perubahan zaman.


Spiritualitas yang Kokoh, Bentuk yang Berubah
Salah satu temuan penting dari survei Alvara adalah bahwa agama masih menempati posisi sentral dalam kehidupan umat Islam, termasuk warga NU. Mayoritas responden masih menjadikan agama sebagai rujukan utama dalam pengambilan keputusan moral dan sosial. Tradisi keagamaan seperti tahlilan, Maulid Nabi, dan qunut Subuh tetap dijalankan secara luas lintas generasi.


Namun, cara mengekspresikan spiritualitas mulai berubah. Di kota-kota besar, pengajian rutin mulai tergantikan oleh kajian daring, podcast religi, dan konten dakwah di media sosial. Spiritualitas tidak menghilang, tetapi bermigrasi ke ruang digital. Di sinilah tantangan sekaligus peluang NU, bagaimana menghadirkan wajah Islam Aswaja yang teduh, ramah, dan berakar pada tradisi, dalam format yang sesuai dengan ritme generasi digital.


Jika dulu otoritas agama bertumpu pada figur kyai di ruang fisik, kini sebagian otoritas berpindah ke platform. Algoritma ikut menentukan siapa yang didengar, bukan semata kedalaman ilmu. Ini menuntut NU untuk hadir lebih aktif di ruang digital, bukan sekadar sebagai penyebar konten, tetapi sebagai penjaga kualitas dan etika wacana keagamaan.


Dari Figur ke Platform
Di kalangan warga NU, Gus Baha muncul sebagai salah satu figur yang sangat dihormati, berdampingan dengan ustadz-ustadz populer nasional. Ini menunjukkan bahwa publik tidak lagi melihat batas organisasi secara kaku. Mereka memilih tokoh berdasarkan relevansi pesan, gaya komunikasi, dan kedekatan dengan realitas hidup.


Fenomena ini mengandung pesan penting: warga NU tidak eksklusif, dan NU tidak bisa hanya mengandalkan simbol historis. NU harus terus melahirkan figur-figur muda yang kuat secara keilmuan, tetapi juga komunikatif, membumi, dan mampu berdialog dengan realitas sosial kontemporer.


Lebih dari itu, NU perlu membangun sistem dakwah berbasis institusi digital, bukan hanya mengandalkan popularitas individu. Kehadiran pusat media NU yang kuat, terkoordinasi, dan profesional menjadi krusial agar nilai-nilai Aswaja tidak tenggelam di tengah banjir konten instan.


Identitas yang Kuat, Ikatan yang Cair
Indeks ke-NU-an dalam survei menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Secara pemikiran dan praktik keagamaan, warga NU masih sangat solid. Namun dimensi ikatan organisasi justru menjadi yang paling rendah. Banyak yang merasa NU adalah identitas kultural, bukan keanggotaan struktural.


Ini bukan semata persoalan kurangnya kaderisasi, tetapi refleksi dari masyarakat modern yang tidak lagi nyaman dengan struktur hierarkis. Identitas hari ini lebih bersifat pilihan, bukan warisan yang otomatis diikuti. Loyalitas dibangun melalui relevansi, bukan formalitas.


Karena itu, NU perlu menggeser pendekatan keanggotaan dari sekadar administratif menjadi berbasis manfaat. Ketika warga merasa NU hadir dalam pendidikan anak, layanan kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan bimbingan keluarga, maka keterikatan itu akan tumbuh secara alami.


Dalam masyarakat yang semakin individual, rasa memiliki tidak lagi dibentuk oleh struktur, melainkan oleh pengalaman nyata.


Agama yang Membumi dalam Kehidupan Sehari-hari
Warga NU kini mengharapkan NU hadir lebih nyata dalam urusan kehidupan praktis seperti bimbingan keluarga sakinah, fiqih muamalah, pendidikan anak, hingga literasi keuangan. Ini menandakan pergeseran ekspektasi, agama tidak lagi diposisikan hanya sebagai ritual, tetapi sebagai panduan hidup yang konkret.


Di tengah tekanan ekonomi, urbanisasi, dan disrupsi nilai, keluarga menjadi titik paling rapuh sekaligus paling strategis. NU memiliki modal sosial besar melalui jaringan Muslimat, Fatayat, pesantren, dan majelis taklim untuk menjadi pendamping keluarga Indonesia, bukan hanya dalam aspek ibadah, tetapi juga kesehatan mental, relasi keluarga, dan ketahanan sosial.


Agama yang mampu hadir di dapur, di ruang tamu, dan di ponsel warga akan jauh lebih relevan dibanding agama yang hanya hadir di mimbar.


NU sebagai Ekosistem Sosial
NU sedang bergerak dari organisasi menuju ekosistem. NU tidak lagi cukup menjadi struktur formal, tetapi harus menjadi jaringan nilai, layanan, dan komunitas yang hidup di berbagai ruang sosial.


Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi pusat literasi. Pesantren bukan hanya lembaga pendidikan, tetapi pusat inovasi sosial. Banom bukan hanya sayap organisasi, tetapi ruang tumbuh generasi muda. Dan NU bukan hanya identitas keagamaan, tetapi jejaring sosial yang saling menguatkan.


Untuk itu, digitalisasi bukan pilihan tambahan, tetapi infrastruktur dasar. Integrasi data jamaah, layanan kesehatan, pendidikan, filantropi, dan dakwah dalam satu sistem digital akan menentukan apakah NU mampu tetap relevan di abad kedua kehidupannya.


Menjaga Akar, Menyambut Masa Depan
NU lahir dari tradisi, tetapi tumbuh karena kemampuannya membaca zaman. Kaidah klasik pesantren yang sering dikutip Gus Dur, memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik, justru semakin relevan hari ini.


Tantangan NU ke depan bukan pada kekuatan nilai, karena itu sudah terbukti kokoh. Tantangannya ada pada keberanian bertransformasi dan beradaptasi, mengubah cara bekerja, cara berkomunikasi, dan cara melayani umat.


Jika NU mampu menjadi rumah yang bukan hanya menjaga iman, tetapi juga memelihara harapan sosial, memberdayakan ekonomi, dan menemani keluarga Indonesia dalam keseharian mereka, maka NU tidak hanya akan bertahan, tetapi akan semakin dibutuhkan.


Di situlah NU tidak sekadar menjadi penjaga masa lalu, tetapi penuntun masa depan.

 

Hasanuddin Ali, Founder and CEO Alvara Research Center

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang