Ketua Umum pertama Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) H. Mahbub Djunaidi, menulis banyak artikel perihal kepahlawanan. Dalam tulisan berkepala Nostalgia Bulan November, ia mendefinisikan pahlawan sebagai berikut.
<>
Lewat definisi yang amat dipersingkat, tindak kepahlawanan itu artinya bisa membunuh dan siap terbunuh. Itu sebabnya, bidang ini tertutup bagi mereka yang suka usia panjang. Itu sebabnya, jumlah pahlawan senantiasa lebih sedikit daripada penduduk kebanyakan.
Mahbub menambahkan, pahlawan bagaikan zamrud di tengah-tengah batu kali. Orang-orang yang tidak memadai bakatnya jadi pahlawan, lagi pula tak berkesempatan memalsu diri, setidak-tidaknya harus menaruh hormat kepada mereka, setidak-tidaknya sekali setahun, di upacara yang spesial disediakan untuk itu, 10 November. Setidak-tidaknya!
Menurut penulis berjuluk pendekar pena ini, tidak ada pahlawan yang umum, yang ada pahlawan khusus, āBisa pahlawan di sana, bangsat di sini. Lord Milner pembangun empirium Inggris yang piawai tak lebih dari penindas hina di mata penduduk Afrika Selatan. Si gondrong Bung Tomo tak lebih dari perusuh di mata bala tentara Sekutu.ā
Jose Rizal, pahlawan bagi Filipina, tapi bagi Spanyol dan Gereja Katolik dianggap ākeliru membela tanah airnyaā, sehingga kepada Gregorio Aglipay, Rizal menulis āSudah lazimnya, semua reformis yang jujur di muka bumi ini akan terpentang di tiang salibā.
Kini, ketika perang sudah jarang, dan kematian dijadikan barang luks, konsep kepahlawanan harus tetap ada, sasarannya manusia yang masih hidup. Meski menyederhanakan, tetapi tidak apa-apa. Dalam artikel lain, Mahbub mengatakan, lebih baik banyak pahlawan daripada sedikit.
Dengan demikian, sambung aktivis Lesbumi, Pertanu, GP Ansor, IPNU, dan pernah menjadi salah seorang Ketua PBNU ini, harus lahir pahlawan-pahalawan di pabrik, di hutan belukar, di tengah ladang, di lubang tambang, dan di langit.
Tapi mesti diingat, menjadi pahlawan bukanlah pekerjaan mudah. Sebab, syarat pertama dan penghabisan adalah berbuat bukan untuk kepentingan diri sendiri. Karena itu, ia akan menjadi kekasih tanah airnya, biji mata bangsanya, bunga segar tak terikat aturan musim, musik dari 1000 biola yang tak putus-putusnya.
Dan kita, mestinya, menundukkan kepala sebagai tanda hormat di antara bunyi terompet, selama tak lebih dari 2 menit untuk para pahlawan. (Abdullah Alawi)
Terpopuler
1
2.500 Alumni Ikuti Silatnas Iktasa di Istiqlal Jakarta, Teguhkan 3 Fungsi Utama Pesantren
2
Akademisi Soroti Gejala Pembusukan Demokrasi yang Kian Sistematis Sejak Era Jokowi ke Prabowo
3
War Haji, Jalan Pintas yang Berpotensi Sengketa
4
MBG dan Larangan Pemborosan dalam Islam
5
Ketua Umum PBNU Apresiasi Gencatan Senjata AS-Iran, Harap Berlangsung Permanen
6
PBNU Soroti Wacana War Tiket Haji, Harus Dikaji Matang, Tekankan Aspek Keadilan Jamaah
Terkini
Lihat Semua