Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin KH Ahmad Mustifa Bisri (Gus Mus) meminta warga Nahdlatul Ulama (NU) mengoreksi diri atau introspeksi dalam banyak hal. Sebab, saat ini, katanya, warga NU juga warga negara Indonesia pada umumnya sedang terjangkiti penyakit suka meniru.
“Bangsa ini, kan bangsa timik-timik, jadi sedang suka meniru. Jangan sampai yang ditiru itu tidak cocok dengan diri kita,” ujarnya di hadapan ribuan warga NU yang menghadiri Ngaji Bareng Gus Mus di Alun-Alun Kota Blora, Jawa Tengah, akhir pekan lalu.<>
Karena gemarnya meniru, ujar Gus Mus, sampai-sampai warga NU juga ketularan meniru membuat partai politik. Padahal, banyak warga NU yang tidak mengerti politik. Karena itu, dia minta warga NU yang tidak mengerti politik tidak usah terjun ke politik.
Gus Mus yang juga Mustasyar (Penasihat) Pengurus Besar NU itu mengibaratkan NU adalah sebuah rumah besar yang komplit. Ada sawahnya, tegal, tambak dan lain sebagainya. Kemudian, parpol di dalam bus diibaratkan pelebaran bisnis transportasi yang kemudian menjadi sangat laris.
“Lha, saking (terlalu) larisnya bisnis ini, yang semula menggarap sawah, ladang tambak jadi ikut-ikutan ke garasi mengurus kendaraan. Padahal, rupane (bentuk) busi saja dia tidak tahu. Ini, kan repot,” katanya.
Namun, lanjutnya, warga NU yang paham politik disilakan terjun ke politik. Hanya, pesan Gus Mus, wawasan dan gagasan berpikirnya harus luas, harus memikirkan kebangsaan. “Kalau terjun ke politik hanya pengin jadi anggota DPR, itu politik kere (tidak ada gunanya),” tandasnya.
Gus Mus juga mengaku prihatin dengan perilaku warga NU, sekaligus kasihan. Apalagi menjelang pilkada seperti sekarang ini. Banyak calon, kata dia, yang mengaku didukung warga NU.
Dia menyebut pilgub di Jateng dan Jatim. Khusus untuk Jatim, hampir semua calonnya ada yang dari NU. “Kondisi itu juga merisaukan aparat. Saya ini diundang dua Kapolda, Jatim dan Jateng untuk pidato di depan ribuan kiai yang akan diundang. Ini, ya, karena nama NU diseret-seret dalam pilkada itu,” tegasnya. (jp/man)
Terpopuler
1
PWNU dan PCNU Se-Yogyakarta dan Jawa Tengah Tolak Pembatasan Ahwa hingga Perubahan Kedudukan Rais Aam
2
Khutbah Jumat: Tahun Baru Hijriah, Momentum Upgrade Diri Menuju Muslim yang Lebih Baik
3
Khutbah Jumat: Spirit Muharram untuk Menghadapi Era Modern
4
Usulan LF PBNU Atasi Perbedaan Awal Bulan Hijriah di Tengah Kesepakatan Imkanur Rukyah
5
Khutbah Jumat Bahasa Jawa: Nguri-uri Kamulyaning Wulan Muharram
6
Khutbah Jumat: Pesan Rasulullah, Jangan Mencari-cari Kesalahan Orang Lain
Terkini
Lihat Semua