Sejarah perfilman nasional telah dimulai sejak era 1950-an. Namun, ada kenyataan yang barangkali terlupakan dalam sejarah itu, yakni, kader Nahdlatul Ulama (NU) yang memelopori kebangkitan dunia karya sinematografi itu.
Demikian diungkapkan Anggota Komisi I DPR RI, Arif Mudatsir Mandan, saat berbicara pada diskusi bertajuk āMengembalikan Film Indonesia ke Khittah 1950ā di Gedung Pengurus Besar NU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Senin (26/5).<>
āSebut saja nama-nama, seperti, Djamaluddin Malik, Usmar Ismail, Asrul Sani. Mereka adalah orang NU. Sampai sekarang masih diakui jasa-jasanya,ā terang Arif Mudatsir yang juga Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia.
Hal yang sama dikatakan Pemimpin Redaksi NU Online, Abdul Munāim DZ, yang juga hadir pada diskusi itu. Ia menjelaskan, Usmar Ismail dan kawan-kawan pernah memelopori gerakan perlawanan terhadap masuknya film-film dari Amerika Serikat meski sempat diprotes oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) kala itu.
āUsmar Ismail diprotes PKI gara-gara tidak mau memboikot film-film dari Amerika (Serikat). Jawab beliau: āKita melawan Amerika bukan dengan memboikot, tapi mencipta, membuat karya (baca: film tandingan)ā,ā jelas Munāim.
Djamaluddin Malik, Usmar Ismail dan Asrul Sani merupakan aktivis NU yang tergabung dalam Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi). Saat itu Lesbumi berafiliasi dengan Partai NU pada 1960-an.
Ketika pertentangan politik semakin panas, semua kegiatan lembaga kebudayaan, antara pro dan kontra komunis, lebih berbau politik. Justru mereka yang tidak tergabung dalam lembaga kebudayaan yang memiliki sikap budaya yang jelas, seperti Manifesto Kebudayaan (Manikebu).
Tiga sineas besar itu juga pernah menjadi pemrakarsa utama, surat kepercayaan gelanggang yang muncul pada 1950. Surat yang menjadi tongkat estafet sastrawan-seniman yang menamakan diri āAngkatan 45ā kemudian dipandang cikal-bakal paham humanisme-universal dalam kebudayaan Indonesia sebagai āpewarnaā dalam Manikebu. (rif)
Terpopuler
1
Khutbah Idul Adha 2026: Menguatkan Solidaritas Melalui Semangat Berbagi
2
Syuriyah PBNU Harapkan Muktamar Ke-35 Digelar di Pesantren dengan Dua Kriteria
3
Khutbah Idul Adha 2026: Gotong Royong dalam Pengelolaan Kurban
4
Rapat Pleno PBNU: Munas dan Konbes Digelar 20-21 Juni 2026, Lokasi Diputuskan Menyusul
5
Khutbah Jumat: Menumbuhkan Empati dan Solidaritas Sosial Melalui KurbanĀ
6
Khutbah Jumat: Meraih Pertolongan Allah dengan Membantu Sesama
Terkini
Lihat Semua