Masjid Tiban Dibangun Sunan Kalijaga Saat Menyamar
NU Online · Selasa, 9 September 2008 | 21:10 WIB
Biasanya, masjid diberi nama-nama dari bahasa Arab, seperti Baitul Muttaqin, Darul Mukminin, Darul Muttaqin, dan lain-lain. Namun, masjid yang terletak di Dusun Kauman, RT 02/RW 02 Desa Jenarkidul, Kecamatan Purwodadi, Purworejo, Jawa Tengah, ini memiliki nama yang kurang lazim, yaitu Masjid Tiban.
Nama itu memang terdengar aneh. Tapi, tentu saja saja ada sejarah yang melatarbelakangi pemberian nama tersebut. Secara etimologi Jawa, “Tiban” berarti “kejatuhan” atau dengan konotasi lain “ada secara tiba-tiba”. Lantas, apa kaitannya dengan masjid tersebut?<>
Ya, masyarakat di sekitar Masjid Tiban percaya sejumlah benda kuno (purbakala) yang ada di masjid tersebut adalah tiban. Rasanya memang sulit dirasionalisasikan. Namun, itulah fakta historis-sosilogis yang melingkupi sejarah masjid.
Imam Masjid Tiban, M. Djalal Sujuti mengungkapkan, Masjid Tiban diperkirakan berdiri bersamaan dengan berdirinya Masjid Agung Demak. "Gaya arsitekturnya mirip-mirip Masjid Agung Demak," katanya.
Dia melanjutkan, konon Masjid Tiban dibangun oleh salah satu Walisongo, yakni Sunan Kalijaga sekira 1468 M. Namun, saat membangun masjid tersebut, Sunan Kalijaga sedang menyamar menggunakan nama Syeikh Udan Baring.
Di Masjid Tiban tersimpan tujuh jenis benda purbakala yang ada sejak masjid tersebut berdiri. Pertama, gapura kuno yang terletak di depan masjid. Gapura yang terbuat dari batu bata itu semula hanya direkatkan dengan tanah seperti model bangunan zaman kuno. Karena mengalami kerusakan, maka pada tanggal 10 Februari 1991, gapura itu dipugar. Namun, bentuk keaslian dari gapura tetap dipertahankan.
Kedua, kolah bundar yang terbuat dari jambangan tanah. Kolah bundar ini pertama kalinya ditemukan di lahan persawahan Jambangan, sekitar 1,5 kilometer dari masjid. Kolah tersebut selanjutnya diangkat ke masjid dan diletakkan di sebelah selatan masjid. Kolah bundar itu diberi nama Al Musyaffa yang berarti Kolah Pengobatan.
Dipercaya orang yang sakit dan mandi atau minum air dari kolah tersebut akan sembuh. Kepercayaan ini tidak hanya di kalangan warga sekitar, namun tidak sedikit warga dari luar daerah yang juga percaya.
Mereka mendatangi masjid tersebut hanya untuk mandi atau mengambil air untuk diminum supaya sakitnya sembuh. Juga ada yang mandi atau minum air supaya keinginanya terkabulkan. Misal, supaya lulus ujian, mudah mendapatkan jodoh, dan bisa memperoleh pekerjaan. (sm)
Terpopuler
1
Pemerintah Tetapkan Libur Sekolah Awal Ramadhan 18-20 Februari 2026
2
Disambut Ketum PBNU, Presiden Prabowo Hadiri Mujahadah Kubro Harlah 100 Tahun NU di Malang
3
Resmi Dikukuhkan, Ini Susunan Pengurus MUI Masa Khidmah 2025-2030
4
Data Hilal Penentuan Awal Bulan Ramadhan 1447 H
5
Ratusan Ribu Warga Dikabarkan Bakal Hadiri Mujahadah Kubro 100 Tahun NU di Malang
6
Bumiayu Kembali Diterjang Banjir Bandang: Akses Lumpuh, Sawah dan Makam Warga Tersapu
Terkini
Lihat Semua