Sangiran Jadi Kawasan Purbakala Terlengkap di Dunia
NU Online · Kamis, 31 Januari 2008 | 18:38 WIB
Kawasan Sangiran, Karanganyar, Jawa Timur, merupakan salah satu dari enam tempat yang paling penting dalam kehidupan manusia di dunia ini, karena di kawasan tersebut telah diketemukan tengkorak manusia purba serta budaya dan binatang yang lengkap.
United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan kawasan Sangiran sebagai warisan budaya dunia dengan Nomor Registrasi 593 Tahun 1996 sebagian ada di Kabupaten Karanganyar, Jawa Timur, meliputi tujuh desa yaitu Dayu, Jeruksawit, Rejosari, Bulurejo, Tuban, Krendowahono, dan Wonosari. Semua masuk Kecamatan Gondangrejo.<>
“Ada 850 situs yang ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh Unesco, tetapi hanya enam situs yang paling lengkap dan terpenting untuk mengetahui peradapan manusia di dunia ini, termasuk salah satunya Sangiran," kata Nuria Sanz, ahli dari UNESCO dalam diskusi pengembangan kawasan Sangiran untuk objek wisata di Karanganyar, Kamis (31/1).
“Keberadaan situs Sangiran sangat lengkap, untuk mempelajari kehidupan manusia purba dan juga kehidupan di masa sekarang. Hal ini tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga dunia,” katanya.
Dunia sangat memperhatikan keberadaan kawasan Sangiran di wilayah kabupaten Karanganyar, dan sebagian masuk Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.
"Situs Sangiran tidak begitu penting untuk masa lalu, tetapi sangat penting untuk masa depan dalam penelitian-penelitian dalam perkembangannya kehidupan manusia," katanya.
Potensi data arkeologi yang tersimpan di kawasan Sangiran - Gondangrejo ini sangat tinggi, hal ini ditandai dengan sering diketemukannya benda-benda purbakala.
Benda pubakala yang ditemukan di antaranya fosil manusia purba terlengkap di Indonesia yang merupakan satu-satunya fosil Homo Erectus Asia yang ditemukan dengan wajahnya, di lokasi Dusun Pocung Dayu tahun 1969.
Selain itu, kata dia, juga fosil binatang, gading gajah yang panjangnya dua meter ditemukan di Krendowahono, fosil buaya, artefak/peralatan manusia purba, fosil tanaman, dan tumbuhan.
Pemerintah, kata Wakil Bupati Karanganyar Srisadoyo, berupaya mengambil langkah-langkah perlindungan melalui penetapan Peraturan Perundang-Undangan bidang Cagar Budaya, dan juga mengembangkan Desa Wisata Kampung Purba Dayu.
“Semuanya itu dilakukan untuk menyelamatkan keberadaan situs sangiran, yang dirasakan sangat penting dalam pengembangan teknologi di dunia,” katanya. (ant/bur)
Terpopuler
1
Diduga Tertipu Program MBG, 13 Pengasuh Pesantren Minta Pendampingan ke LBH Ansor
2
Jadwal Puasa Sunnah Selama Mei 2026
3
Pelaku Pelecehan Santriwati di Pati Sudah Dinonaktifkan
4
Warga Geruduk Pesantren Ndholo Kusumo Pati, Tuntut Pengusutan Dugaan Pelecehan Seksual
5
PBNU Kutuk Keras Dugaan Kekerasan Seksual di Pesantren Pati
6
10 Tuntutan BEM SI dalam Aksi Hari Pendidikan Nasional 2026 di Jakarta
Terkini
Lihat Semua