Daerah

Haul Gus Dur di Cirebon, Ruang Refleksi Demokrasi dan Kebhinekaan

NU Online  ·  Ahad, 1 Februari 2026 | 17:00 WIB

Haul Gus Dur di Cirebon, Ruang Refleksi Demokrasi dan Kebhinekaan

Salah satu sesi saat Haul Ke-16 Gus Dur di Cirebon Jawa Barat, Jumat (30/1/2026). (Foto: istimewa)

Cirebon, NU Online

Haul Ke-16 Presiden Ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) digelar di Bale Gamelan Cirebon, Jumat malam (30/1/2026). Kegiatan ini dihadiri puluhan peserta dari beragam latar belakang, mulai dari tokoh agama, pegiat komunitas, mahasiswa, hingga aktivis kebudayaan.


Mengusung tema Dari Rakyat untuk Rakyat, dan oleh Rakyat, haul tersebut menjadi ruang refleksi atas nilai-nilai demokrasi, kemanusiaan, dan kebhinekaan yang selama ini diperjuangkan Gus Dur.

 

Haul tidak hanya dimaknai sebagai agenda keagamaan, tetapi juga sebagai forum kebudayaan dan demokrasi yang menegaskan kembali pentingnya partisipasi rakyat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


Dalam konteks demokrasi, kekuasaan sejatinya lahir dari keterlibatan aktif publik agar kebijakan yang dihasilkan bersifat inklusif dan transparan. Namun demikian, belakangan ini peran rakyat dinilai semakin pasif dalam menentukan arah kebijakan nasional.


Ketua Pelaksana Haul Gus Dur Cirebon, Noer Fahmiatul Ilmiah, menyampaikan bahwa tema Dari Rakyat, oleh Rakyat, dan untuk Rakyat selaras dengan nilai budaya Cirebon yang menjunjung tinggi andap ashor (rendah hati) dan welas asih (kasih sayang).

 

Nilai-nilai tersebut, menurutnya, merupakan napas perjuangan Gus Dur dalam merawat kemanusiaan dan persaudaraan. “Cirebon adalah titik temu berbagai suku dan budaya. Akulturasi ini membuat Cirebon relatif aman dan damai. Inilah semangat pluralitas yang harus terus dirawat,” ujarnya saat sesi sambutan.

 

Rangkaian Haul Gus Dur diawali dengan pembukaan, dilanjutkan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, tawasul, dan tahlil yang dipimpin Kang Nemi. Acara kemudian diteruskan dengan doa kebangsaan yang dipanjatkan oleh lima pemuka agama lintas iman.

 

Nyai Na Jha Barnamij, Diankon Yandis, Pendeta Kukuh, Ibu Made, serta Romo Richard memanjatkan doa di atas panggung sesuai dengan keyakinan masing-masing. Momentum tersebut menegaskan semangat lintas iman yang menjadi ciri khas perjuangan Gus Dur dalam merawat keberagaman atas dasar cinta iman.


Haul Ke-16 Gus Dur juga dimeriahkan dengan pertunjukan teater Simpul Jiwa dari Institut Prima Bangsa Cirebon di bawah arahan Cici Situmorang. Selain itu, terdapat pagelaran musik dari Kang Cepi serta pembacaan puisi karya Putu Wijaya yang dibawakan Yusi Selmi.


Dalam kesempatan tersebut, hadir pula Darma Suryapranata, sahabat Gus Dur, yang kembali menegaskan pesan kebangsaan tentang kepemilikan Indonesia.


“Indonesia adalah milik rakyat. Dibangun oleh rakyat yang beragam, bukan oleh satu identitas tunggal,” tegasnya.


Sementara itu, Kiai Marzuki Wahid yang menyampaikan Orasi Kebudayaan menyoroti kondisi demokrasi Indonesia yang dinilainya semakin menjauh dari rakyat. Ia menyebut praktik diskriminasi oleh negara bukanlah fenomena baru dan telah berlangsung sejak era Orde Baru, terutama terhadap kelompok minoritas.


“Demokrasi kita semakin menjauh dari rakyat. Padahal, kebijakan penguasa kepada rakyat seharusnya berdasar pada kemaslahatan bersama,” tegas Kiai Marzuki di hadapan para hadirin.

 

Dalam orasinya, ia juga mengutip kaidah fikih yang kerap disampaikan Gus Dur: "Tasharruful imam ala ra'iyyah manuthun bil maslahah" (Kebijakan seorang pemimpin atau pemerintah terhadap rakyatnya harus dikaitkan dengan kemaslahatan).


Melalui peringatan Haul ke-16 Gus Dur ini, masyarakat diajak untuk kembali merawat semangat pluralitas dan demokrasi partisipatif. Nilai-nilai yang diwariskan Gus Dur diharapkan terus hidup sebagai pengingat bahwa Indonesia berdiri di atas keberagaman, kemanusiaan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang