Rektor IAIN Kudus: Santri Harus Siap Gantikan Posisi Kiai
NU Online · Kamis, 13 Oktober 2022 | 15:00 WIB
Afina Izzati
Kontributor
Kudus, NU Online
Rektor Institus Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus Prof Abdurrahman Kasdi mengatakan bahwa jika suatu saat santri menjadi kiai, maka ia memiliki posisi sangat sentral di masyarakat. Oleh karena itu, santri harus siap menjadi atau menggantikan posisi kiai.
“Sebab, setiap unsur dari semua elemen masyarakat berasal dari santri. Bahkan, banyaknya jumlah santri mendasari lahirnya Hari Santri dan disahkannya Undang-Undang Pesantren untuk masa depan santri,” tuturnya dalam Seminar Hari Santri Nasional bertema Santripreunership: Pemberdayaan Santri di Era Digital yang tayang di YouTube TVKU CH49 UDINUS, Rabu (12/10/2022).
Di masyarakat, lanjut dia, kiai harus dapat memosisikan peran apa pun. Menjadi santri nantinya juga harus siap menjadi kiai. Di era digitalisasi untuk menyebarkan Islam moderat dan Islam yang rahmatan lil ‘alamin perlu peran santri. Sebab, peran santri sangat penting untuk mengisi setiap elemen yang ada di masyarakat.
Menurut Prof Dur, sapaan akrabnya, santri adalah semua orang yang berakhlak seperti santri, baik yang mondok atau pun yang tidak mondok. Mondok sendiri dibagi menjadi dua yaitu menetap dan tidak menetap (kalong).
Baca Juga
Ketika Santri Ditilang Polisi
“Seorang santri memiliki jiwa sosial yang tinggi karena kebersamaan, makan bersama, bahkan di suatu pesantren menerapkan makan dengan cara nampanan. Selain itu santri juga belajar hidup sederhana dengan menempati kamar secara bersama-sama,” tuturnya.
Prof Dur menjelaskan bahwa kata santri terdiri dari 5 huruf yakni sin, nun, ta’, ra’, ya’ yang memiliki makna bagi santri secara umum. Pertama, Sin. Singkatan dari Salikun ilal Akhirah. Artinya santri harus mampu menuju pada jalan akhirat.
Kedua, Nun. Singkatan dari Naibun anil Masyayikh. Artinya santri sebagai pengganti guru atau kiai. Sehingga jika suatu ketika kiai sedang berhalangan maka santri harus siap untuk menggantikannya.
Ketiga, Ta’. Singkatan dari Tarikun anil ma’ashi. Artinya seorang santri harus bisa menjauhkan diri dari perbuatan maksiat. Rasulullah melakukan tabayyun atau klarifikasi dalam setiap permasalahan apa pun.
“Termasuk jika saat ini ketika ada berita hoaks dapat diselesaikan dengan cara yang sama, jangan sampai justru ikut memproduksi berita hoaks,” tuturnya.
Keempat, Ra’. Singkatan dari Raghibun fil Khairat. Artinya, santri senang melakukan kebaikan. Kelima, Ya’. Singkatan dari Yarju assalamah fiddini waddunya wal akhirah. Artinya, santri selalu mengharapkan keselamatan dalam agama, dunia, dan akhiratnya.
Kontributor: Afina Izzati
Editor: Musthofa Asrori
Terpopuler
1
Bolehkah Suami Menggunakan Tabungan Istri untuk Membayar Utang?
2
Habib Umar bin Hafidz Kunjungi PBNU, Ada Tiga Agenda di Dalamnya
3
Kemenhaj Imbau Jamaah Umrah Indonesia Waspada, Pastikan Kesiapan Perjalanan
4
Tahlil Hari Ketujuh Nyai Machfudhoh Aly Ubaid di Jakarta, Kiai Said Aqil Kenang Perjuangannya untuk NU
5
Hukum Pembersihan Sampah setelah Acara Keagamaan dan Kegiatan Umum Lainnya
6
Ijtihad Politik Abu Lueng Ie, Ikhtiar Menjaga Ulama dan Tarekat di Tengah Gejolak Zaman
Terkini
Lihat Semua