Internasional

Israel Serang Jembatan Utama Lebanon

NU Online  ·  Senin, 23 Maret 2026 | 15:00 WIB

Israel Serang Jembatan Utama Lebanon

Serangan Israel ke Lebanon. (Foto: tangkapan layar video Reuters)

Jakarta, NU Online

Pasukan militer Israel menyerang Jembatan Qasmiyeh, sebuah jalur utama penyeberangan yang menghubungkan Lebanon selatan dengan wilayah negara lain di negara tersebut, Ahad (22/3/2026).


Melansir Al-Jazeera, pengeboman tersebut menandai peningkatan kampanye militer Israel terhadap Hizbullah pada 2 Maret lalu, setelah kelompok bersenjata Lebanon tersebut menembakkan roket ke Israel sebagai tanggapan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei oleh Israel dan AS.


Presiden Lebanon Joseph Aoun mengatakan bahwa serangan tersebut merupakan upaya untuk memutuskan hubungan geografis antara wilayah Litani selatan dan wilayah Lebanon lainnya. Ia juga menyatakan bahwa skema dalam serangan tersebut tampak mencurigakan untuk memperluas kehadiran Israel di wilayah Lebanon.


"Skema mencurigakan untuk membangun zona penyangga di sepanjang perbatasan Israel, memperkuat realitas pendudukan, dan berupaya melakukan ekspansi Israel di wilayah Lebanon," ujarnya sebagaimana dikutip NU Online dari Al Jazeera, Senin (23/3/2026).


Reuters memberitakan bahwa hukum internasional pada umumnya melarang militer menyerang infrastruktur sipil. Kepala Hak Asasi Manusia PBB juga telah mengkritik tindakan Israel di Lebanon tersebut, khususnya penggunaan perintah evakuasi besar-besaran yang telah menyebabkan lebih dari satu juta orang mengungsi dan lebih dari 1000 orang tewas.


"Serangan Israel di Lebanon telah menewaskan lebih dari 1.000 orang, termasuk hampir 120 anak-anak, 80 wanita, dan 40 tenaga medis, menurut kementerian kesehatan Lebanon. Otoritas Lebanon tidak membedakan antara warga sipil dan militan," demikian laporan dari Reuters, dikutip pada Senin (23/3/2026).


Diberitakan pada hari Ahad (22/3/2026), serangan tersebut merusak sebuah perlintasan di jalan raya pesisir Lebanon yang membentang melalui lahan pertanian. Jalan tersebut merupakan salah satu rute utama yang menghubungkan Lebanon selatan dan tengah. Militer Israel telah menghancurkan tiga jembatan di Lebanon selatan dalam 10 hari terakhir.


Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengatakan bahwa militer Israel telah diperintahkan untuk menghancurkan semua jembatan di atas Sungai Litani yang digunakan aktivitas teroris untuk mencegah militan Hizbullah dan angkatan bersenjata bergerak ke selatan.


Katz juga mengatakan bahwa militer diperintahkan untuk mempercepat penghancuran rumah-rumah warga Lebanon di desa-desa garis depan untuk menetralisir ancaman terhadap komunitas Israel.


Ia lantas menggambarkan bahwa pendekatan serangan tersebut mirip dengan model yang digunakan di Beit Hanoun dan Rafah di Gaza, di mana militer menciptakan zona penyangga dengan membersihkan dan menghancurkan bangunan di dekat perbatasan.


New York Times melaporkan, para pejabat Israel juga mengancam sebagian besar wilayah selatan Lebanon. Mereka mengatakan kepada penduduk di sana bahwa mereka harus pergi atau nyawa mereka akan terancam di tengah invasi darat yang menurut mereka bertujuan untuk melindungi komunitas Israel di utara.


Banyak warga Lebanon khawatir bahwa serangan Israel tersebut dapat menyebabkan pendudukan baru di sebagian wilayah Lebanon selatan , yang dikuasai Israel selama sekitar dua dekade sebelum menarik pasukannya pada tahun 2000.


Konflik berkepanjangan antara Israel dan Hizbullah telah beberapa kali menjadi perang skala penuh selama dua setengah tahun terakhir. Setelah serangan yang dipimpin Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023 yang memicu perang dahsyat di Gaza, Hizbullah mulai menembakkan roket dan drone ke Israel sebagai bentuk solidaritas dengan sekutu Palestina.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang