Jateng

Katib Syuriyah PBNU: Problem Masyarakat Kehilangan Berkah dalam Kehidupan

NU Online  ·  Jumat, 16 Januari 2026 | 10:00 WIB

Katib Syuriyah PBNU: Problem Masyarakat Kehilangan Berkah dalam Kehidupan

Katib Syuriyah PBNU KH Faiz Syukron Makmun mau‘idhah hasanah pada acara Khataman Al-Qur'an PPTQ Roudlotut Tamyiz Mlatibaru yang dilaksanakan di halaman Pesantren Jalan Ngembun no. 195 Kelurahan Mlatibaru Kecamatan Semarang Timur Kota Semarang pada Ahad (11/1/2026). (Foto: Taufiqurrohman)

Semarang, NU Online Jateng

Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Faiz Syukron Makmun menegaskan bahwa persoalan utama masyarakat modern bukan terletak pada kurangnya harta, pendidikan, atau teknologi, melainkan pada hilangnya barokah dalam kehidupan. 


Hal itu disampaikannya dalam mau‘idhah hasanah pada acara Khataman Al-Qur'an PPTQ Roudlotut Tamyiz Mlatibaru yang dilaksanakan di halaman Pesantren Jalan Ngembun No. 195 Kelurahan Mlatibaru Kecamatan Semarang Timur Kota Semarang pada Ahad (11/1/2026).


"Sekarang hari-hari ini yang hilang dari hidup kita itu barokah, hartanya orang sekarang, ilmunya orang sekarang, teknologinya orang sekarang, semua itu lebih hebat daripada zaman dahulu, tapi hilangnya barokah," ujarnya.


Kiai yang akrab disapa Gus Faiz tersebut mengawali tausiyahnya dengan menyampaikan rasa hormat dan kekaguman kepada para ulama, habaib, kiai, serta jamaah yang hadir. Ia mengaku terharu melihat semangat masyarakat perkotaan yang tetap istiqamah menghadiri majelis ilmu meski harus beraktivitas sekolah dan bekerja keesokan harinya.


“Ini pemandangan yang langka dan mahal. Malam Senin, besok sekolah dan kerja, tapi tidak ada yang pulang, tidak ada yang protes. Ini tanda masih hidupnya ruh cinta ilmu dan agama,” ujarnya.


Gus Faiz menjelaskan bahwa Allah SWT menciptakan alam semesta dengan keseimbangan (mizan). Prinsip keseimbangan tersebut, menurutnya, juga berlaku dalam kehidupan manusia. Ibadah, pekerjaan, dan aktivitas duniawi harus berjalan seimbang dan berada di jalan yang benar.


Menurutnya, sehebat apa pun fasilitas dan penampilan seseorang, tanpa arah hidup yang jelas, semua itu akan menjadi sia-sia.


“Mobil paling bagus, pesawat paling canggih, kalau tidak tahu arah, tidak akan sampai tujuan. Yang penting bukan bajunya, tapi jalannya,” tuturnya.


Ia kemudian menyoroti ironi kehidupan modern. Generasi saat ini, kata Gus Faiz, memiliki akses terhadap kekayaan, ilmu, dan teknologi yang jauh lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya. Namun, ada satu hal yang justru semakin hilang, yakni barokah.


Kondisi tersebut ia ilustrasikan melalui kisah sederhana tentang aktivitas rumah tangga yang tampak sibuk, tetapi tidak efektif karena waktu lebih banyak habis untuk hal-hal yang tidak substansial.


“Dulu orang sedikit alat tapi cepat selesai. Sekarang alat lengkap, waktu habis, hasilnya minim. Itu tanda barokah dicabut,” jelasnya yang disambut tawa jamaah.


Fenomena hilangnya barokah, lanjut Gus Faiz, juga terlihat dalam berbagai profesi. Aparat keamanan yang justru merasa tidak aman, ahli hukum yang tersangkut persoalan hukum, hingga dakwah yang kehilangan ruh karena terlalu dikomersialkan, menjadi contoh nyata kondisi tersebut.


Dalam ceramahnya, Gus Faiz menyampaikan anekdot tentang perbandingan kambing dan anjing. Secara logika, anjing terlihat lebih unggul karena lebih cerdas, berpenampilan menarik, dan melahirkan lebih banyak anak. Namun dalam kenyataannya, populasi kambing justru jauh lebih besar dan tetap lestari meski setiap hari disembelih.


Ia mengutip hikmah dari kisah sufi besar Ibrahim bin Adham bahwa perbedaan tersebut terletak pada jalan hidup.


“Kambing itu tahu jalan. Maghrib pulang kandang, Isya tidur, bangun sepertiga malam terakhir. Anjing kebalikannya, malam begadang, pagi tidur. Salah jalan, hilang barokah,” terangnya.


Gus Faiz juga mengingatkan bahwa kemuliaan makhluk tidak semata ditentukan oleh nasab atau rupa, melainkan oleh ilmu dan kedekatan dengan orang-orang saleh. Ia mencontohkan anjing Ashabul Kahfi yang dimuliakan karena kebersamaannya dengan para wali Allah.


Selengkapnya klik di sini.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang