Jateng

Detik-Detik Tanah Bergerak Runtuhkan Ratusan Rumah dan Pesantren di Tegal

NU Online  ·  Rabu, 18 Februari 2026 | 11:00 WIB

Detik-Detik Tanah Bergerak Runtuhkan Ratusan Rumah dan Pesantren di Tegal

Kondisi rumah warga akibat bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Jatinegara Tegal (Foto: Saiful Amar)

Tegal, NU Online Jateng 

Bencana tanah bergerak yang melanda Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, terus menunjukkan dampak serius. Ratusan rumah warga hancur, sejumlah fasilitas pendidikan dan keagamaan ambruk, termasuk kompleks Pesantren Al-Adalah.

 

Salah seorang warga Desa Padasari RT 16 RW 4, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Muhammad Ari Sadirin, menceritakan detik-detik rumahnya hancur akibat bencana tanah bergerak yang masih terus berlangsung hingga hari ini. Rumah yang ia tempati berada tepat di dekat kompleks Pesantren Al-Adalah, sehingga ikut terdampak paling parah.

 

“Rumah saya hancur. Pondok Al-Adalah juga rusak berat,” tutur Ari lirih saat ditemui NU Online Jateng di Posko PCNU Tegal, Senin (16/2/2026).

 

Ia menjelaskan, peristiwa bermula pada Senin (2/2/2026). Saat itu tanah mulai bergerak perlahan, tetapi terus menunjukkan tanda-tanda kerusakan yang makin parah dari hari ke hari. Puncaknya terjadi pada Selasa malam hingga Rabu pagi, ketika pergerakan tanah semakin cepat dan menghancurkan bangunan di sekitarnya.

 

Menurut data yang ia himpun bersama warga, hingga 6 Februari tercatat 464 rumah terdampak. Namun, kondisi di lapangan kini jauh lebih buruk.

 

“Kalau hari ini, jumlahnya sudah lebih dari 500 rumah yang rusak akibat tanah bergerak,” katanya.

 

Kerusakan paling parah terjadi di lingkungan Pesantren Al-Adalah. SMA NU Al-Adalah ambruk total, disusul runtuhnya aula putra pesantren. Tak lama kemudian, asrama dua mulai roboh, dan disusul ambruknya asrama tiga. Seluruh bangunan itu kini rata dengan tanah.

 

“Sekarang bekas bangunannya seperti danau. Tanahnya amblas dan penuh genangan,” jelasnya.

 

Ari menambahkan, hingga kini bencana belum menunjukkan tanda berhenti. Pergerakan tanah masih terus berlangsung tanpa jeda sejak awal Februari.

 

“Di bagian barat sudah mulai agak reda, tapi di bagian timur masih terus bergerak sampai sekarang,” ungkapnya.

 

Akibat kondisi tersebut, seluruh warga terpaksa mengungsi demi keselamatan. Sebagian warga tinggal di barak pengungsian yang disediakan pemerintah dan relawan, sementara lainnya menumpang di rumah saudara.

 

Sekitar 800 warga dari Dukuh Pengasinan RW 6 mengungsi ke keluarga mereka, sedangkan sekitar 400 warga Dukuh Lebak RW 5 menyebar ke Desa Capar, Gedung Serbaguna Penoja, serta sejumlah titik pengungsian lainnya.

 

“Semua warga sudah mengungsi, tapi masih ada yang berjaga di sekitar lokasi,” pungkas Ari.

 

Selengkapnya klik di sini.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang