Ikhtiar Menghadapi Superflu dalam Perspektif Thibbun Nabawi
NU Online · Kamis, 8 Januari 2026 | 14:00 WIB
Yuhansyah Nurfauzi
Kolomnis
Pandemi belum lama berlalu dan sekarang dunia sedang dihebohkan oleh penyakit yang dianggap baru bernama superflu. Penyakit infeksi saluran pernapasan ini disebabkan oleh varian terbaru virus influenza A (H3N2), yang disebut subclade K. Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) mengonfirmasi superflu terdeteksi di Indonesia sejak 25 Desember 2025.
Bagaimana Kitab At-Thibbun Nabawi memberikan solusi untuk gejala-gejala superflu? Apakah bahan herbal yang disebutkan dalam kitab tersebut masih relevan dengan penelitian tentang penyebab penyakit itu?
Sebenarnya virus penyebab superflu bukan virus yang baru. Virus Influenza A (H3N2) ini pernah menghebohkan Hong Kong di tahun 1968 dengan sebutan Flu Hong Kong. Oleh karena itu, apabila virus ini muncul lagi, umat Islam tidak perlu heran sekaligus mengambil pelajaran dari kejadian sebelumnya yang telah menjadi sejarah.
Meski penyebarannya cepat dan beberapa gejalanya terlihat lebih berat, tetapi sebenarnya superflu sama dengan gejala influenza biasa. Demam tinggi dan menggigil, batuk dan pilek, nyeri otot dan sakit kepala, kelelahan ekstrem, serta sakit tenggorokan dan gangguan pernapasan ringan merupakan keluhan yang sering dialami oleh penderita superflu.
Ada beberapa bahan alami yang dapat digunakan untuk ikhtiar menghadapi superflu. Bahan yang pertama adalah kayu cendana yang memiliki nama latin Santalum album. Berdasarkan penelitian Rejeeth dan timnya, kandungan beta santalol yang terdapat dalam kayu cendana wangi dapat menghambat perbanyakan virus Influenza A (H3N2) sampai dengan 86% (Rejeeth dkk, 2012, In vitro anti-viral effect of β-santalol against influenza viral replication, Phytomedicine, Elsevier: halaman 231-235).
Uniknya, cendana merupakan bahan herbal yang disebutkan dalam Kitab At-Thibbun Nabawi karya Al-Hafidz Adz-Dzahabi. Bahkan dalam karyanya itu, beliau menyebutkan bahwa kayu cendana yang terbaik berasal dari Nusantara.
Kayu cendana juga disebutkan dalam hadits tentang wewangian penduduk surga. Dalam hadits riwayat Imam At-Tirmidzi, kayu cendana disebutkan dengan sebutan Al-Uluwwah atau Al-‘Uud.
حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلُ زُمْرَةٍ تَلِجُ الْجَنَّةَ صُورَتُهُمْ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ لَا يَبْصُقُونَ فِيهَا وَلَا يَمْخُطُونَ وَلَا يَتَغَوَّطُونَ آنِيَتُهُمْ فِيهَا الذَّهَبُ وَأَمْشَاطُهُمْ مِنْ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَمَجَامِرُهُمْ مِنْ الْأُلُوَّةِ وَرَشْحُهُمْ الْمِسْكُ وَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ يُرَى مُخُّ سُوقِهِمَا مِنْ وَرَاءِ اللَّحْمِ مِنْ الْحُسْنِ لَا اخْتِلَافَ بَيْنَهُمْ وَلَا تَبَاغُضَ قُلُوبُهُمْ قَلْبُ رَجُلٍ وَاحِدٍ يُسَبِّحُونَ اللَّهَ بُكْرَةً وَعَشِيًّا قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ وَالْأُلُوَّةُ هُوَ الْعُودُ
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami [Suwaid bin Nashr] telah mengabarkan kepada kami [Abdullah bin Al Mubarak] telah mengkhabarkan kepada kami [Ma'mar] dari [Hammam bin Munabbih] dari [Abu Hurairah] berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Golongan pertama yang masuk surga pada hari kiamat, wujud mereka seperti sinar bulan di malam purnama, mereka tidak meludah di dalamnya, tidak beringus dan tidak buang hajat. Di surga, wadah-wadah mereka terbuat dari emas, sisir mereka terbuat dari emas dan perak, dupa mereka dari kayu cendana (uluwwah) dan keringat mereka kesturi, masing-masing dari mereka mendapat dua istri, sumsum keduanya terlihat dari balik daging karena indahnya, tidak ada sengketa di antara mereka dan hati mereka tidak saling murka, satu hati, mereka memahasucikan Allah di pagi dan di sore hari." (HR. Imam Tirmidzi)
Berkata Abu Isa: Hadits ini sahih dan uluwwah adalah kayu cendana.
Pada masa sekarang, kayu cendana yang telah diolah menjadi minyak atsiri termasuk ke dalam bahan farmasi. Secara praktis, penerapan aromaterapi dengan minyak cendana ini digunakan dalam parfum atau wewangian yang sekaligus bermanfaat untuk kesehatan. Penggunaan tradisionalnya adalah dengan membakar serbuk atau kayu cendana untuk dijadikan bukhur atau dupa.
Bahan lainnya yang dapat digunakan sebagai obat superflu adalah buah delima atau nama latinnya Punica granatum. Penelitian review yang dilakukan oleh Mahalik dan timnya mengidentifikasi bahwa buah delima dapat menghambat virus H3N2 secara in vitro (Mahalik dkk, 2021, Traditional plants utilized for the viral disease treatment, Plant Science Today, Horizon e-Publishing Group: halaman 386-398).
Buah delima juga disebutkan dalam Kitab At-Thibbun Nabawi. Diriwayatkan bahwa Sayyidina 'Abdullah ibn 'Abbas bila menjumpai biji buah delima yang jatuh atau tercecer ketika dimakan maka akan mengambil dan memakannya. Ketika ditanya tentang hal itu, dia berkata, "Telah sampai padaku bahwa tidak ada satupun buah delima yang diserbuki di bumi kecuali mengandung benih dari surga, jadi mungkin saja yang ini." (Al-Hafizh ad-Dzahabi, Thibbun Nabawi, [Beirut, Dar Ihya-ul ‘Ulum: 1990], halaman 123).
Selain kayu cendana dan buah delima, penelitian terkini juga menyebutkan bahwa temu hitam (Curcuma aeruginosa) dapat menjadi antivirus untuk H3N2. Penelitian review Valgimigli dan timnya menyebutkan bahwa kandungan germacrone dalam minyak atsiri temu hitam bermanfaat untuk menghambat virus H3N2 (Valgimigli dkk, 2023, Plant Essential Oils as Healthy Functional Ingredients of Nutraceuticals and Diet Supplements: A Review, 28(2), 901).
Hasil penelitian di atas diperkuat dengan penelitian Liao dan timnya yang menyebutkan bahwa senyawa kimia germacrone memang efektif untuk mengatasi virus H3N2 (Liao dkk, 2013, Germacrone inhibits early stages of influenza virus infection, Antiviral Research, Volume 100, Nomor 3: halaman 578-588). Temu hitam termasuk kelompok jahe-jahean atau zingiberaceae yang disebutkan secara umum di dalam Al-Qur’an sebagai zanjabil, salah satu minuman kenikmatan penduduk surga yang kaya akan manfaat
Aplikasi penggunaan temu hitam di Nusantara biasanya menjadi komponen jamu sebagai minuman kesehatan yang dikenal sebagai cabe puyang. Apabila direbus bersama dengan bahan-bahan lainnya, maka keluar komponen wangi dari minyak atsiri temu hitam yang mengandung germacrone. Masyarakat dapat menambahkan komponen lain untuk memperbaiki rasa temu hitam apabila hendak digunakan sebagai minuman kesehatan bagi anak-anak seperti madu sehingga rasanya lebih manis. Wallahu a’lam bis shawab.
Yuhansyah Nurfauzi, Apoteker dan Peneliti Farmasi.
Terpopuler
1
PBNU Tegaskan Aliansi yang Mengatasnamakan Angkatan Muda NU Bukan Bagian dari Organisasi NU
2
Khutbah Jumat: Rajab, Bulan Islah dan Perdamaian
3
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
4
Nyai Ainiyah Yusuf, Cahaya di Pesantren Mambaus Sholihin Gresik
5
Khutbah Jumat: Rezeki yang Halal Menjadi Penyebab Hidup Tenang
6
PWNU Aceh Dukung Pendataan Rumah Terdampak Banjir, Warga Diminta Melapor hingga 15 Januari
Terkini
Lihat Semua