Psikolog Klinis: Rehabilitasi Psikis Penyintas Bencana Harus Bertahap dan Menyeluruh
NU Online · Kamis, 8 Januari 2026 | 21:00 WIB
Ayu Lestari
Kontributor
Jakarta, NU Online
Bencana alam yang menimpa sejumlah wilayah di Sumatra dan Aceh tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga berdampak serius terhadap kondisi psikis dan mental para penyintas. Pemulihan aspek psikologis ini menjadi perhatian penting agar para korban mampu bertahan dan beradaptasi menghadapi situasi pascabencana.
Psikolog Klinis Dewasa Welas Asih Semarang, Bianglala Andriadewi, menilai bahwa rehabilitasi psikis bagi penyintas bencana harus dilakukan secara bertahap dan menyeluruh, dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.
“Langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk meminimalisir gangguan psikis dan mental penyintas bencana salah satunya dengan menggunakan teknik Psychological First Aid (PFA),” ujar Bianglala kepada NU Online, Kamis (8/1/2026).
Ia menjelaskan, PFA merupakan pertolongan pertama psikologis yang bertujuan memberikan dukungan awal bagi individu yang mengalami trauma atau stres berat akibat peristiwa krisis.
“Cara ini digunakan untuk membantu penyintas mengembalikan fungsi psikologis, emosional, sosial, dan perilaku yang terganggu akibat kejadian traumatis,” jelasnya.
Menurut Bianglala, pendekatan ini tidak hanya berfokus pada pengurangan gejala stres, tetapi juga membantu penyintas agar mampu kembali beradaptasi dan menjalani aktivitas sehari-hari.
“Ketika seseorang menghadapi bencana, banyak hal yang langsung berubah. Jadi, bukan hanya soal coping stres, tetapi bagaimana penyintas bisa kembali menjalani kehidupan sehari-hari,” lanjutnya.
Karena itu, rehabilitasi psikis dan mental idealnya dilakukan dengan pendekatan yang fleksibel dan komprehensif. Psikolog, kata Bianglala, umumnya akan menitikberatkan pada penguatan ketahanan diri individu melalui kombinasi berbagai metode terapi yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik penyintas.
Selain PFA, pendekatan perawatan berbasis trauma (trauma-informed care) juga penting diterapkan. Pendekatan ini bertujuan memahami dampak luas trauma, mengenali tanda dan gejala trauma pada penyintas, serta mengintegrasikan pemahaman tersebut ke dalam kebijakan dan praktik pendampingan.
“Tujuannya untuk menghindari retraumatisasi atau trauma berulang pascabencana banjir bandang dan longsor,” tegasnya.
Bianglala juga menekankan pentingnya dukungan sosial dan komunitas dalam proses pemulihan. Keterlibatan penyintas dalam kelompok dukungan sebaya atau aktivitas komunitas dinilai dapat memulihkan rasa aman, koneksi sosial, dan harapan.
“Dukungan psikososial yang disesuaikan dengan usia, latar belakang budaya, dan tingkat pendidikan penyintas akan membuat mereka merasa lebih aman dan emosi menjadi lebih stabil,” ucapnya.
Namun demikian, sebelum masuk pada pemrosesan trauma secara mendalam, penyintas perlu dipastikan berada dalam kondisi aman dan mampu mengelola gejala akut, seperti kecemasan berat, serangan panik, atau kilas balik traumatis (flashback).
“Jika muncul tanda-tanda tersebut, perlu dilakukan teknik stabilisasi dan grounding. Dalam beberapa kasus, bisa juga dibutuhkan dukungan medis berupa obat-obatan di bawah pengawasan tenaga kesehatan,” jelasnya.
Bianglala menambahkan, status bencana yang belum sepenuhnya berakhir dan potensi bencana susulan dapat memperberat kondisi psikologis masyarakat karena menimbulkan ketidakpastian.
“Dengan situasi bencana yang masih berpotensi berlanjut, tantangannya jauh lebih besar. Kondisi psikis penyintas sangat rentan jika tidak ditangani secara berkala,” paparnya.
Oleh sebab itu, ia menegaskan bahwa rehabilitasi psikis dan mental bagi penyintas bencana harus dilakukan secara berjenjang, berkelanjutan, dan menyesuaikan kondisi psikologis serta sosial para korban.
Terpopuler
1
PBNU Tegaskan Aliansi yang Mengatasnamakan Angkatan Muda NU Bukan Bagian dari Organisasi NU
2
Khutbah Jumat: Rajab, Bulan Islah dan Perdamaian
3
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
4
Nyai Ainiyah Yusuf, Cahaya di Pesantren Mambaus Sholihin Gresik
5
Khutbah Jumat: Rezeki yang Halal Menjadi Penyebab Hidup Tenang
6
PWNU Aceh Dukung Pendataan Rumah Terdampak Banjir, Warga Diminta Melapor hingga 15 Januari
Terkini
Lihat Semua