Nasional

Akademisi Dorong Ilmu Agraria Lebih Bisa Menjangkau bagi Petani dan Desa

NU Online  ·  Kamis, 5 Februari 2026 | 16:00 WIB

Akademisi Dorong Ilmu Agraria Lebih Bisa Menjangkau bagi Petani dan Desa

Ilustrasi petani sedang mencangkul sawah. (Foto: NU Online/Suwitno)

Jakarta, NU Online

Kerja sama antara Serikat Petani Indonesia (SPI), Pusat Studi Agraria (PSA) IPB University, dan Insist Press diwujudkan melalui peluncuran dan diskusi Buku Seri Kajian Petani dan Perubahan Agraria. Kegiatan ini digelar di Auditorium Andi Hakim Nasution, IPB University, Dramaga, Bogor, Senin lalu.


Dalam kegiatan tersebut diluncurkan tiga buku terjemahan berbahasa Indonesia karya Saturnino M. Borras Jr dan Ben White, yakni Dinamika Politik Gerakan Agraria Transnasional, Aktivisme Cendekia dan Perjuangan Agraria, serta Pertanian dan Masalah Generasi.


Peluncuran buku ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses pengetahuan agraria agar tidak berhenti di ruang akademik, melainkan dapat dibaca dan dimanfaatkan oleh petani, nelayan, masyarakat desa, hingga generasi muda.


Ketua Pusat Studi Agraria IPB University Bayu Eka Yullian menyoroti persoalan sirkulasi pengetahuan di tingkat global yang kian menyerupai mekanisme pasar. Menurutnya, pengetahuan sering kali diproduksi, diberi nilai, dan dipertukarkan layaknya komoditas.


“Sirkulasi pengetahuan di tingkat global membawa kita merefleksikan bagaimana pengetahuan dihasilkan, diberi nilai, diedarkan, dan dimanfaatkan yang mirip seperti dagangan. Ini bisa disebut sebagai industrialisasi pengetahuan,” ujar Bayu kepada NU Online, Selasa.


Bayu menekankan pentingnya mendudukkan pengetahuan sebagai milik kolektif agar dapat diakses oleh rakyat, khususnya petani, nelayan, dan pemuda desa. Karena itu, buku-buku yang diluncurkan akan dibuka aksesnya secara gratis melalui laman resmi Insist Press.


“Jangan sampai ilmu pengetahuan hanya bergulir di ruang kelas kampus dan dinikmati oleh kelompok elit yang punya akses,” tambahnya.


Senada dengan itu, Wakil Rektor IPB University Bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Masyarakat Agromaritim Ernan Rustiadi menilai diskusi pemikiran kritis agraria masih relevan di tengah dinamika pembangunan saat ini.


“Sebagian orang menganggap pemikiran ini mulai pudar, tetapi justru ada yang melihatnya harus terhubung dengan perkembangan zaman,” kata Ernan.


Ia menyinggung sejumlah program populis pemerintah, seperti makan bergizi gratis, sekolah rakyat, dan pemeriksaan kesehatan gratis, sebagai bentuk upaya mengoreksi pendekatan pembangunan yang selama ini memicu ketimpangan.


“Kita melihat ketimpangan semakin melebar. Dalam konteks ini, pemikiran pengimbang dan sosialisme kembali tumbuh sebagai antitesis,” ujarnya.


Sementara itu, Wakil Ketua Umum SPI sekaligus Koordinator Internasional La Via Campesina Asia Tenggara dan Asia Timur, Zainal Arifin Fuad, menilai bedah buku tersebut memiliki makna strategis dalam menyebarkan pemahaman tentang dinamika politik agraria.


“Acara ini menjadi bagian dari momentum menuju ICARRD+20 di Cartagena, Kolombia, pada 24–28 Februari mendatang. Ini seperti pemanasan sekaligus menjaring gagasan yang akan dibawa delegasi Indonesia,” ujarnya.


Zainal menegaskan, dinamika politik agraria saat ini semakin menantang, ditandai konflik agraria, perampasan lahan, serta berbagai program strategis nasional yang berdampak langsung pada kehidupan petani.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang