dokter Umar mengatakan kecerdasan Gus Im terlihat dari kemampuanya yang tidak lupa atas segala yang dibacanya. (Foto: NU Online/Syakir NF)
Muhammad Syakir NF
Penulis
Jakarta, NU Online
KH Hasyim Wahid atau yang akrab disapa Gus Im merupakan sosok yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Hal ini diakui oleh kakaknya, dr Umar Wahid saat menyampaikan sambutan pada peringatan tujuh hari wafatnya pada Kamis (6/8) malam.
"Sebagai kakak beliau, yang saya tahu luar biasa cerdasnya," katanya.
Putra keempat Kiai Wahid dan Nyai Solichah itu menyebut bahwa di antara kakak adiknya, yang sulung, yakni KH Abdurrahman Wahid dan yang bungsu adalah yang paling cerdas.
Kecerdasan itu dapat terlihat olehnya dari kemampuanya yang tidak lupa atas segala yang dibacanya. "Gus Iim senang baca. Sekali membaca gak bakal lupa. Beliau banyak membagi ilmunya kepada orang lain," katanya.
dr Umar mengaku kerap kaget ketika melihat banyak tamu yang datang ke kediamannya. Mahasiswa doktor Universitas Indonesia, misalnya, yang datang berkonsultasi kepadanya.
"Anda bayangkan mahasiswa doktoral UI konsultasi kepada yang secara formal hanya tamatan SMA," ceritanya.
Lebih lanjut, kecerdasan Gus Im juga terlihat dari keterampilan tangannya. Bahkan, dr Umar menyebut hal ini tidak dimiliki oleh kakak adiknya yang lain.
"Selain punya pengetahuan dan wawasan yang luas itu, ada hal yang membedakan antara Gus Im dengan Abangnya yang lain, Gus Im punya keterampilan tangan yang luar biasa. Gus Dur, Gus Solah, saya jangan diharapkan," katanya.
Papan kerambol, misalnya, yang dibuat olehnya sendiri karena tidak puas dengan karambol yang saya belikan. "Dia bikin papan kerambol sendiri dan itu yang saya rasa paling enak," katanya.
Tidak hanya itu, ia juga mampu membuat jilidan buku dengan sangat baik. Saat hobi membaca cerita silat, ia menjilid beberapa buku tersebut dengan begitu rapi.
Tak ayal, kemampuannya yang demikian itu membuatnya mengatakan, "Belahan otak kiri dan kanannya sangat seimbang."
Peringatan tujuh hari wafatnya Gus Iim ini dilangsungkan secara virtual. Selain dr Umar yang hadir dari rumahnya, ada pula KH Faruq dari Denanyar, Jombang, Jawa Timur. Sementara itu, Gus Abdul Aziz Wahid, putra almarhum hadir di Ciganjur, Jakarta Selatan.
Sebelum tahlil, kegiatan diawali dengan sema'an Al-Qur'an dan doa khatmil Qur'an.
Pewarta: Syakir NF
Editor: Kendi Setiawan
Terpopuler
1
PBNU Terima Kasih kepada Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026
2
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Gubernur BI Siapkan Dua Langkah Penguatan
3
Imbas Rupiah Melemah, Menkeu Sebut Pedagang Tahu dan Tempe Mulai Tertekan
4
Kasus Suap Izin Tinggal WNA, Citra Indonesia Tercoreng di Mata Dunia
5
NU Abad Kedua: Masihkah Kita Berani Berpikir Melampaui Diri Sendiri?
6
Kiai Azaim Harap Kekerasan di Pesantren Masuk Materi Munas-Konbes hingga Muktamar ke-35 NU
Terkini
Lihat Semua