Nasional

F-Buminu Singgung Penguatan Kapasitas PMI sebagai Upaya Perlindungan Utama

NU Online  ·  Kamis, 18 Desember 2025 | 08:00 WIB

F-Buminu Singgung Penguatan Kapasitas PMI sebagai Upaya Perlindungan Utama

Logo Sarbumusi. (Foto: NU Online)

Jakarta, NU Online

 

Ketua Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Federasi Buruh Migran Indonesia (F-Buminu) Ali Nurdin Abdurrahman menegaskan bahwa 70 persen persoalan perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI) berakar pada keterbatasan kapasitas personal, bukan semata-mata disebabkan kelemahan sistem.

 

"Karena itu, kita perkuat dari hulu, yaitu pendidikan, pelatihan, dan karakter. Dengan sistem pelindungan yang kuat, pendidikan yang komprehensif, dan pelatihan yang relevan, PMI dapat memberikan kontribusi yang lebih signifikan bagi pembangunan negara maupun daerah asal," katanya kepada NU Online terkait Hari Migran Internasional pada Kamis (18/12/2025).

 

Lebih lanjut, Ali menilai bahwa pelindungan PMI dapat diwujudkan melalui pengorganisasian, pendidikan, dan pelatihan yang mampu memperkuat kapasitas serta meningkatkan kesadaran dalam memperjuangkan keadilan. 

 

"Semakin terdidik dan terlatih, maka semakin bisa melindungi diri sendiri," tegasnya.

 

Selain isu perlindungan, Ali juga menyoroti pentingnya penghapusan stigma negatif terhadap PMI. Ia berpandangan bahwa untuk menjadikan migrasi kerja sebagai pilihan yang rasional dan setara.

 

Ia menegaskan bahwa pemerintah harus segera mengakhiri narasi lama yang merendahkan pekerja migran sebagai pekerja rumah tangga atau tenaga kasar. 

 

"(Narasi itu) Telah menutupi kenyataan bahwa banyak pekerja migran Indonesia yang bekerja di sektor formal, dan berkontribusi signifikan pada pembangunan daerah asalnya. Bahkan tidak sedikit purna migran yang sukses menjadi pengusaha, politisi, anggota dewan, hingga kepala daerah," tegasnya.

 

Dengan begitu, Ali mendorong pemerintah untuk menyetarakan status bekerja di luar negeri dengan bekerja di dalam negeri, baik dari sisi perlindungan, jaminan sosial, maupun pengakuan status hukum dan sosial PMI.

 

"Fenomena ini membuktikan bahwa bekerja ke luar negeri bukan hanya bentuk pengorbanan ekonomi, tetapi juga jalan transformasi sosial dan politik," tegasnya.

 

Lebih dalam, Ali menanyakan, apakah bangsa ini memiliki keberanian untuk mengubah cara pandang terhadap purnamigran. Dari sekedar pahlawan devisa menjadi arsitek industri nasional.

 

Ia mengemukakan bahwa pengalaman sejumlah negara dapat menjadi pelajaran penting bagi Indonesia. Menurutnya, Jepang mampu melahirkan Toyota dari sosok Toyoda yang pernah menimba ilmu di Amerika Serikat. Sementara Korea Selatan berhasil menjelma menjadi raksasa industri berkat pengalaman dan kerja keras para buruh tambangnya di Jerman. 

 

"Maka Indonesia pun bisa menemukan Toyoda-Toyoda barunya di antara jutaan purna migran yang menunggu kesempatan. Sejarah telah menunjukkan jalan, tinggal keberanian kita untuk melangkah," terangnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang