Gus Yahya Ungkap Pesan Hadratussyekh Hasyim Asy’ari tentang Persatuan Nahdliyin
NU Online · Selasa, 6 Januari 2026 | 13:30 WIB
Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-103 NU di Lobi Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, pada Senin (5/1/2026) malam. (Foto: NU Online/Suwitno)
Haekal Attar
Penulis
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menyampaikan pesan Pendiri NU Hadratusyekh KH Hasyim Asyari tentang menjaga hubungan baik antarsesama Nahdliyin.
Hal itu disampaikannya saat peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-103 NU di Lobi Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, pada Senin (5/1/2026) malam.
"Masuklah kalian semua ke dalam Jamiyyah Nahladtul Ulama ini dengan mahabbah, dengan rasa cinta, wal widaad, dan kasih sayang. Kalau sudah mau masuk jamiyyah ini, harus bisa saling menyayangi dengan sesama jamaah, harus bisa saling mencintai dengan sesama jamaah," katanya.
"Kalau tidak bisa, pergi saja! Enggak usah ikut NU! Kalau ikut NU, harus siap saling menyayangi!" tegas Gus Yahya.
"Dengan rukun dan bersatu. Kalau tidak mau rukun, pergi!" imbuhnya.
Gus Yahya mengungkapkan pemikiran pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, tentang ikatan batin Nahdliyin yang dilandasi cinta spiritual. Menurutnya, ikatan ruhani itulah yang menjadi alasan Nahdliyin berhimpun dalam Jam'iyyah NU.
"Di antara aku dan kalian semua wahai Nahdliyin, wahai Nahdliyin, ada ikatan cinta yang menjadi rahasia, yang tersembunyi di balik rahasia alam. Kita semua ini adalah orang-orang yang ruh-ruh kita sudah saling mencinta sejak sebelum Allah menciptakan lempung(tanah liat)-nya Adam," kata Gus Yahya mengungkapkan sebuah gubahan karangan Kiai Hasyim Asy'ary.
"Tapi ruh-ruh kita sudah saling mencinta. Itu sebabnya kita semua bergabung di dalam Jam'iyyah Nahdlatul Ulama. Mari, kita hidupkan sambungan ruh-ruh di antara kita," sambung gubahan itu.
Gus Yahya menekankan bahwa ikatan ruh tersebut hanya dapat dihidupkan melalui pembersihan niat dalam berkhidmah kepada NU. Ia juga mengajak seluruh Nahdliyin untuk mensyukuri kesempatan yang diberikan Allah untuk bertabaruk atau praktik mengambil berkah melalui Jam'iyyah NU.
Lebih lanjut, Gus Yahya juga mengaku menerima wasiat dari Mustasyar PBNU KH Maimoen Zubair sebelum wafat. Ia menerangkan bahwa generasi saat ini tidak memiliki maqam untuk menciptakan amal sendiri karena kualitas ibadah dan amal yang kerap tidak terjaga.
"Kita tidak punya maqam membuat amal sendiri. Maqamnya kita, kata Hadratusyekh KH Maimoen Zubair, adalah bertabaruk kepada amalnya para pendahulu," katanya.
Ia membandingkan kondisi ibadah umat saat ini dengan kualitas ibadah para sahabat Nabi, seperti Sayyidina Ali bin Abi Thalib, yang digambarkan memiliki kekhusyukan luar biasa dalam shalat.
"Ada riwayat beliau pernah tertancap panah dan beliau katakan, nanti di tengah shalat tolong cabut panahnya, karena ketika beliau shalat itu beliau sudah tidak merasakan apa-apa, sudah dicabut panahnya pun tidak merasa. Itu mutu shalatnya," katanya.
Menurut Gus Yahya, kondisi tersebut jauh berbeda dengan keadaan ibadah umat sekarang yang kerap dilakukan tanpa pemahaman dan penghayatan yang memadai.
"Ingat apa kita shalat ini, sudah bacaannya tidak paham, yang diingat juga apa. Puasa kita itu, puasa cap apa? Cuma lapar saja, masih ghibah enggak karuan, enggak ghibah pakai mulut, ghibah pakai jempolan itu di medsos-medsos itu," jelasnya.
Bahkan, Gus Yahya juga mengkritik khidmah serta dinamika ber-NU yang diwarnai perebutan jabatan dan kepentingan pribadi. Ia menilai hal tersebut bertentangan dengan esensi khidmah kepada Jam’iyyah NU.
"Kita ber-NU, ya Allah Gusti, kita ber-NU dengan cara rebutan jabatan di NU. Kampanye lobby sana, lobby sini, ini macam apa ini? Khidmah macam apa ini?," katanya.
Tabaruk
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa warga NU tidak berada pada posisi untuk menyamai amal dan khidmah para tokoh besar NU, seperti KH Ali Maksum, KH Bisri Syansuri, KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Abdurrahman Wahid, terlebih Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari.
"Kita tidak punya pangkat untuk beramal seperti beliau-beliau. Yang bisa kita lakukan adalah tabaruk kepada amal beliau dengan cara meniru-niru sebisa-bisanya," terangnya.
Ia juga menjelaskan perihal mottonya "Menghidupkan Gus Dur" sebagai ikhtiar tabaruk dengan KH Abdurrahman Wahid. Sebab, ia menyadari bahwa tidak mungkin sepenuhnya mengikuti amaliah Gus Dur, tetapi paling tidak dapat menjalankan sebagiannya.
Karenanya, Gus Yahya menegaskan agar jangan pernah berkecil hati dengan berkah NU di tengah dinamika yang sedemikian rupa. "Yang penting niat bertabaruk. Jangan sampai berkecil hati akan barakahnya NU. Jangan sampai berkurang harapan kita akan barakahnya NU
Terpopuler
1
PBNU Tegaskan Aliansi yang Mengatasnamakan Angkatan Muda NU Bukan Bagian dari Organisasi NU
2
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
3
Khutbah Jumat: Rajab, Bulan Islah dan Perdamaian
4
Khutbah Jumat: Rezeki yang Halal Menjadi Penyebab Hidup Tenang
5
PWNU Aceh Dukung Pendataan Rumah Terdampak Banjir, Warga Diminta Melapor hingga 15 Januari
6
Khutbah Jumat: Media Sosial dan Ujian Kejujuran
Terkini
Lihat Semua