Nasional BANJIR SUMATRA

Hunian Tetap Korban Banjir Sumatra Perdana Dibangun di Bireuen, Ini Harapan Warga NU

NU Online  ·  Kamis, 8 Januari 2026 | 15:00 WIB

Hunian Tetap Korban Banjir Sumatra Perdana Dibangun di Bireuen, Ini Harapan Warga NU

Tokoh Agama setempat melakukan tepung tawar (Peusijuek) pembangunan Hunian Tetap (Huntap) perdana korban banjir bandang perdana di Kota Santri Bireuen. (Foto: NU Online/Helmi Abu Bakar)

Bireuen, NU Online

Sejarah baru penanganan pascabencana banjir bandang dan longsor di wilayah Sumatra resmi dimulai dari Kota Santri Bireuen, Aceh. Pada Rabu (7/1/2026), Pemerintah Kabupaten Bireuen melakukan peletakan batu pertama pembangunan Hunian Tetap (Huntap) bagi masyarakat terdampak bencana di Desa Balee Panah, Kecamatan Juli.


Langkah ini menjadi tonggak penting karena untuk pertama kalinya pembangunan Huntap bagi korban bencana ekologi dimulai di kawasan Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara.


Pagi itu, tepat pukul 10.00 WIB, langit Balee Panah tampak cerah. Sebuah prosesi sederhana namun sarat makna digelar sebagai penanda dimulainya pemulihan yang lebih bermartabat bagi para penyintas. Bukan sekadar seremoni, peletakan batu pertama ini menjadi simbol bahwa luka panjang pascabencana mulai diarahkan menuju masa depan yang lebih pasti.


Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Bireuen H. Mukhlis, perwakilan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BPBD Kabupaten Bireuen, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim), unsur Forkopimda, serta masyarakat setempat. Data awal mencatat, di Kecamatan Juli terdapat 272 rumah rusak berat atau hilang, 60 rumah rusak sedang, dan 39 rumah rusak ringan akibat banjir bandang dan longsor.


Tanpa melalui fase hunian sementara (Huntara), Pemerintah Kabupaten Bireuen memilih langsung membangun hunian tetap bagi warga terdampak.


Komitmen tersebut ditegaskan Asisten II Setdakab Bireuen, Mawardi. Ia menyebutkan bahwa pembangunan Huntap dirancang dalam skala besar dan berkelanjutan.


“Pada tahap pertama, sebanyak 1.000 unit rumah mulai dibangun dan dipusatkan di Gampong Balee Panah, Kecamatan Juli,” ujar Mawardi dalam rapat virtual bersama Pemerintah Aceh di Banda Aceh, Rabu (7/1/2026).


Rapat virtual tersebut dipimpin Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah dan diikuti 18 bupati serta wali kota dari daerah terdampak bencana. Dengan demikian, Balee Panah tidak hanya menjadi lokasi simbolik, tetapi juga pusat awal pemulihan pascabencana skala besar di Kabupaten Bireuen.


Selama proses pembangunan berlangsung, pemerintah menyiapkan skema penyangga kehidupan bagi warga terdampak. Sebanyak 272 kepala keluarga penerima manfaat mendapatkan bantuan sembako serta Dana Tunggu Hunian (DTH) sebesar Rp600.000 per bulan guna memenuhi kebutuhan dasar hingga rumah permanen rampung dibangun.


Bupati Bireuen H. Mukhlis menegaskan bahwa kebijakan langsung membangun Huntap diambil setelah mendengar aspirasi warga secara langsung. Ia menyebut telah turun ke gampong-gampong terdampak bersama Kepala BNPB.


“Masyarakat menyampaikan langsung bahwa mereka tidak membutuhkan Huntara. Daripada Huntara, mereka memilih tinggal sementara di meunasah sambil menunggu rumah permanen dibangun. Kepala BNPB juga menyetujui pembangunan hunian tetap secara langsung,” ungkap Mukhlis.


Menurutnya, pembangunan Huntara justru berpotensi membuat anggaran dikeluarkan dua kali, karena sifatnya yang sementara. Sementara Huntap dibangun sebagai rumah permanen yang memberikan kepastian tempat tinggal bagi korban.


Meski demikian, kebijakan ini juga mendapat sorotan. Anggota DPR RI H. Ruslan Daud (HRD) mengingatkan pentingnya transparansi data penerima Huntap agar tidak menimbulkan polemik di tengah masyarakat.


“Jika data sudah selesai dan valid, sebaiknya dipublikasikan secara terbuka agar tidak menimbulkan kecurigaan,” tegasnya.


Di tengah dinamika tersebut, suara Nahdliyin hadir sebagai peneduh. Tokoh Nahdliyin Kota Santri Bireuen, Usman Abdullah atau Gus Us, memandang pembangunan Huntap sebagai ikhtiar besar yang harus dijaga bersama.


“Yang dibangun bukan hanya rumah, tetapi harapan. Yang dipulihkan bukan hanya bangunan, melainkan martabat manusia,” ujarnya.


Senada, Ketua GP Ansor Bireuen Khaidir yang akrab disapa Gus Dir berharap pembangunan Huntap dijalankan secara komprehensif, berbasis data yang akurat, serta disinergikan dengan aparatur gampong dan seluruh elemen masyarakat.


“Perdebatan soal Huntara atau Huntap jangan sampai mengaburkan tujuan utama. Yang terpenting, seluruh warga terdampak terdata dengan baik, tidak ada yang tertinggal, serta prosesnya transparan dan berkeadilan,” tegasnya.


Dari satu batu pertama yang ditanam di tanah Balee Panah, harapan pun ikut dititipkan. Harapan akan rumah yang layak, kehidupan yang pulih, dan masa depan yang lebih kuat. Dari Kota Santri Bireuen, pemulihan pascabencana Sumatra kini mulai dilangkahkan bersama.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang