Kasus Anak SD Bunuh Diri di Ngada, Kemiskinan Jadi Faktor Risiko, Negara Diminta Hadir
NU Online · Rabu, 4 Februari 2026 | 11:00 WIB
Sepucuk surat yang ditulis anak YBR (10) untuk ibunya sebelum si anak memutuskan bunuh diri. (Foto: dok istimewa/akun X Harian Kompas)
Suci Amaliyah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Kabar meninggalnya YBR (10), seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli buku dan pena akibat keterbatasan ekonomi keluarga, menimbulkan keprihatinan mendalam.
Pengamat Sosiologi Ekonomi dari Universitas Airlangga (Unair), Prof Bagong Suyanto mengungkapkan bahwa kemiskinan masih menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong munculnya keinginan bunuh diri pada anak.
"Tekanan kemiskinan memang menjadi kondisi yang memengaruhi," kata Prof Bagong kepada NU Online, Rabu (4/2/2026).
Menurutnya, negara perlu hadir dengan mengembangkan pendekatan kepada masyarakat agar urun tangan dalam upaya melindungi anak di lingkungan sekitar.
"Pemerintah perlu mengembangkan pendekatan community support system agar kelompok-kelompok masyarakat ikut berperan dalam melindungi anak," ujarnya.
Prof Bagong menjelaskan bahwa keinginan bunuh diri pada anak tidak bisa dianggap remeh. Anak tersebut kemungkinan telah memiliki pemahaman tertentu tentang bunuh diri sebagai bentuk protes atas kondisi yang dihadapi.
"Pengetahuan anak tentang bunuh diri kemudian menjadi ilham baginya untuk memilih jalan pintas," jelasnya.
Ia menambahkan, terdapat berbagai faktor yang dapat memicu munculnya pikiran tersebut, mulai dari pengaruh media sosial hingga lingkungan pergaulan.
"Akses ke media sosial melalui gawai sering kali memperkenalkan anak pada berbagai hal. Selain itu, lingkungan peer group juga turut memengaruhi," katanya.
Anak yang tidak memiliki rekan atau anggota keluarga yang dapat diajak berbicara saat menghadapi persoalan dan menjadi korban perundungan berisiko mengalami tekanan psikologis yang berat.Â
Kondisi tersebut dapat membuat anak merasa sendirian dan putus asa, sehingga lebih rentan terhadap tindakan membahayakan diri.
"Anak yang tidak memiliki teman untuk curhat dan menjadi korban perundungan cenderung lebih rentan terhadap keinginan bunuh diri," ujarnya.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya peran orang tua dalam membangun kedekatan emosional dengan anak agar kejadian serupa tidak terulang.
"Orang tua perlu mengembangkan kedekatan emosional dengan anaknya," pungkas Prof. Bagong.
Negara Harus Hadir Penuhi Kebutuhan Pendidikan
Sebelumnya, Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Habib Syarief mendesak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengusut tuntas latar belakang kasus bunuh diri siswa SD berinisial YBS (10).Â
"Kami sangat prihatin. Kasus ini menjadi alarm keras bahwa masih ada anak-anak kita yang tidak mendapatkan kebutuhan belajar paling mendasar. Ini tidak boleh dibiarkan. Negara harus hadir memastikan kebutuhan dasar pendidikan terpenuhi tanpa kecuali," ujar Habib Syarief dikutip laman PKB.
Lebih lanjut, Habib meminta pemerintah melakukan pendataan ulang secara menyeluruh terhadap kondisi ekonomi siswa di NTT dan wilayah tertinggal lainnya. Ia mendorong penguatan program bantuan perlengkapan sekolah gratis serta peningkatan peran guru dalam memantau kondisi psikologis peserta didik.
"Jangan sampai kita kehilangan generasi hanya karena kemiskinan dan kelalaian sistem. Sekolah harus lebih peka dan responsif terhadap kondisi sosial muridnya agar tragedi serupa tidak kembali terulang," pungkas Habib.
Sebelumnya, korban mengakhiri hidup di pohon cengkeh dekat pondok sederhana tempat dia tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun.
Dalam proses olah TKP, polisi menemukan sepucuk surat untuk ibunya. Surat yang ditulis tangan oleh korban ditemukan di sekitar lokasi kejadian.
Surat itu ditulis YBR menggunakan bahasa daerah Bajawa. Surat itu berisi ungkapan perpisahan kepada ibunya.
Berikut isi surat YBR kepada ibunya:
Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)
Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)
Mama molo Ja'o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)
Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)
Molo Mama (Selamat tinggal mama)
Kasi Humas Polres Ngada lpda Benediktus E Pissort membenarkan bahwa surat tersebut diduga kuat ditulis oleh korban sebelum mengakhiri hidupnya.
"Ini berdasarkan hasil pencocokan dengan tulisan korban di beberapa buku tulis. Penyidik menemukan adanya kecocokan," ujar Benediktus dikutip Kompas.
Gregorius Kodo, seorang saksi mata, menuturkan kondisi keluarga korban sangat memprihatinkan. Itu yang membuat korban memilih tinggal bersama neneknya di pondok. Ketika kejadian berlangsung, nenek korban yang berusia sekitar 80 tahun itu tengah berada di rumah tetangga.
"Korban kurang kasih sayang orang tua. Ayah korban meninggal dunia pada saat korban masih dalam kandungan. Ayah korban merupakan suami ketiga dari ibunya. Ibunya menafkahi lima anak, termasuk korban," tandasnya.
Terpopuler
1
Dua Doa Khusus untuk Malam Nisfu Sya'ban Lengkap dengan Latin dan Artinya
2
Hukum Puasa pada Hari Nisfu Syaban
3
Nisfu Sya'ban: Malam Pengampunan Segala Dosa, Kecuali 4 Hal
4
Jadwal Puasa Sunnah Selama Februari 2026
5
Sejumlah Amalan yang Bisa Dilakukan di Malam Nisfu Sya'ban
6
Sunnah Puasa Ayyamul Bidh Sya'ban 1447 H hingga Lusa
Terkini
Lihat Semua