Kiai Said Ingatkan IPNU Harus Dinamis dan Progresif Hadapi Tantangan Zaman
NU Online · Jumat, 20 November 2020 | 09:29 WIB
Muhammad Syakir NF
Penulis
Bogor, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengingatkan seluruh kader Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) untuk senantiasa dinamis dan progresif menghadapi tantangan zaman. Terlebih kader-kader IPNU merupakan pelanjut organisasi NU di masa yang akan datang.
“IPNU yang memegang estafet menerima amanah keberlangsungan NU di masa depan sesuai dengan kebutuhan zaman,” katanya saat memberikan sambutan pada pembukaan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) IPNU secara virtual pada Jumat (20/11).
Hal ini sesuai dengan bahasa yang digunakan Allah SWT. dalam Al-Qur’an. Kiai Said menyampaikan bahwa Al-Qur’an selalu menggunakan fiil mudari dalam hal-hal tertentu, seperti dalam pemahaman agama dan dakwah. Artinya, Kiai Said menegaskan harus aktual.
Misalnya saja, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan itu menyebut, Al-Qur’an Surat At-Taubah (9) ayat 122, liyatafaqqahu fiddin wa liyundziru qaumahum.
“Tugas tafaqquh fiddin harus menjawab tantangan zaman, harus sesuai tantangan zaman. Begitu juga metode dakwah, harus diperbaharui, harus ditemukan ide-ide baru.” Katanya.
Lebih dari itu, Kiai Said berharap kader IPNU harus progresif dalam mewujudkan peradaban dan kebudayaan yang lebih kuat. Tidak saja adaptif dengan temuan baru, tetapi membuat temuan baru tersebut. “Kitalah yang menemukan temuan-temuan baru. Minimal dari luar, kita mampu adaptasi,” ujar kiai yang pernah mengenyam studi pesantren di Lirboyo, Kediri, Jawa Timur dan Krapyak, Yogyakarta itu.
Hal tersebut merupakan bagian dari amanat ijtihadiyah, amanat yang mendorong dan mengharuskan kita cerdas, dinamis, progresif, dan tidak boleh berhenti. “Harus selalu mempunyai gagasan baru. Itu namanya ijtihadiyah. Dari sinilah, kita mampu membangun,” ujarnya.
Oleh karena itu, ia kembali menegaskan bahwa generasi IPNU harus dinamis dan progresif terkait zaman. Hal itu bisa dilakukan dengan membangun jejaring lintas budaya, agama, dan negara. Lalu, yang tak boleh ketinggalan adalah profesionalisme dan akuntabilitas.
“Semua pimpinan IPNU harus punya semangat tanggung jawab atas keberlangsungannya IPNU,” kata kiai kelahiran Cirebon itu.
Selain amanat yang bersifat ijtihadiyah, amanat lain yang diemban NU adalah amanat agama. amanat ini berisi dua hal, yakni aqidah keyakinan teologi dan syariah, ritual, ibadah. “Aqidah syariah kita sudah selesai, tidak usah lagi diperbincangkan. Apapun suara orang yang tidak senang, tidak usah didengar. Kalau prinsip kita taqlid kepada Imam Asy’ari, Imam Syafi’i, dan Imam Ghazali,” katanya.
Pewarta: Syakir NF
Editor: Muhammad Faizin
Terpopuler
1
Ancam Ekosistem Pertembakauan, Lesbumi PBNU Tolak Rancangan Aturan Kemenko PMK dan Kemenkes soal Tembakau
2
Kapten Timnas Iran Kritik FIFA, Sebut Piala Dunia 2026 'Bencana' dan Berjalan Tidak Adil
3
Pemerintah Tetapkan Logo Resmi HUT ke-81 RI, Ini Makna Desain dan Cara Unduhnya
4
DPR Desak Latsarmil Calon Manajer Kopdes Dihapus, Negara Bisa Hemat Lebih dari Rp1 Triliun
5
Hari Bhayangkara Ke-80, Presiden Prabowo Klaim Polri Berkontribusi pada Ketahanan Pangan dan MBG
6
Rais Syuriah PBNU Ingatkan Pengurus PWNU Aceh: Jangan setelah Dilantik Malah Jadi Urusan
Terkini
Lihat Semua