Koalisi Tuntut Penyelesaian Hukum Kasus Andrie Yunus Tanpa Peradilan Militer
NU Online · Rabu, 1 April 2026 | 12:00 WIB
Potret Andrie Yunus (kanan) dan pelaku penyiraman air keras menggunakan sepeda motor. (Foto: istimewa)
Haekal Attar
Penulis
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia Muhamad Isnur yang tergabung di dalam Koalisi Masyarakat Sipil menuntut penyelesaian hukum pelaku penyiraman air keras kepada aktivis KontraS, Andrie Yunus tanpa mekanisme peradilan militer.
"Kami mengecam dan menolak kecenderungan pihak-pihak tertentu yang berupaya mencapai penyelesaian kasus ini melalui mekanisme militer," jelasnya menurut keterangan yang diterima NU Online pada Rabu (1/4/2026).
Ia menjelaskan, politik hukum pasca-reformasi 1998 sudah menegaskan bahwa prajurit TNI yang melakukan tindak pidana umum harus diadili melalui hukum umum. Hal itu, katanya, juga tergambar jelas di dalam reformasi TNI.
"Upaya untuk membawa kasus ini ke pengadilan militer, sama dengan membuka jalan bagi impunitas, mengabaikan hak korban, dan mengirim pesan berbahaya bahwa kekerasan terhadap warga negara dapat dibiarkan tanpa pertanggungjawaban," katanya.
"Artinya negara secara sengaja telah membuka ruang bagi terjadinya kejadian kekerasan serupa di masa depan, yang berarti pula negara mengingkari prinsip ketidakberulangan (tidak berulang)," katanya.
Baginya, kecenderungan ini tidak boleh dibiarkan karena hal tersebut akan menjadi preseden yang sangat dikutuk dan menjadi ancaman bagi perlindungan kebebasan sipil di Indonesia.
"Kasus ini menunjukkan kembali urgensi bagi kelangsungan reformasi TNI, terutama reformasi peradilan militer, sebagai bagian integral untuk memperkuat kontrol sipil demokratis terhadap militer yang merupakan pilar utama supremasi sipil," jelasnya.
Lebih lanjut, ia menganggap pengadilan militer terbukti sering menutup ruang bagi objektifikasi kasus-kasus yang melibatkan personel militer dan menjadikannya alat yang rawan disalahgunakan untuk memutarbalikan fakta pelanggaran hukum anggota TNI.Â
"Akibatnya, keadilan bagi korban dan transparansi bagi publik terhambat," jelasnya.
Kabar terbaru, Polda Metro Jaya telah melimpahkan perkara penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS Andrie Yunus ke Pusat Polisi Militer (Puspom).
"Perkenankan kami menyampaikan, perkembangan hasil penyelidikan yang kami lakukan terkait dengan suatu peristiwa hukum yang terjadi dan menimpa, Saudara Andrie Yunus," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanuddin dalam RDPU bersama Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (31/3/2026).
Meski begitu, Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) menilai pelimpahan kasus Andrie Yunus ke Puspom TNI bermasalah secara hukum. Mereka mempertanyakan dasar hukum pelimpahan tersebut sekaligus menyoroti transparansi penanganan perkara.
"Saya cukup kecewa dengan apa yang tadi disampaikan oleh Direktur Reserse Kriminal Umum bahwa kasus ini sudah dilimpahkan di Puspom. Padahal secara prosedur legal formal, tidak ada satu pasal pun di KUHAP yang baru yang bisa melakukan pelimpahan terhadap penyidik yang bukan dari PPSN,"Â kata Koordinator KontraS Dimas Bagus Arya Saputra dalam yang sama.
Terpopuler
1
Gus Yahya Sampaikan Pesan KH Nurul Huda Djazuli agar Muktamar Ke-35 NU Digelar di Pesantren Lirboyo
2
Meski Sudah Gabung BoP, Pasukan Perdamaian TNI Tewas Ditembak Israel di Lebanon
3
Halal Bihalal: Tradisi Otentik Nusantara Sejak Era Wali Songo
4
Gus Dur, Iran, dan Anti-Impersialisme
5
Penyelenggaraan Haji 2026 Sesuai Jadwal, Jamaah Mulai Berangkat 22 April
6
Konsep Iman Menurut Khawarij dan Implikasinya terhadap Eksklusivisme Teologis
Terkini
Lihat Semua