Komisioner KPAI: Di Rumah Saja, Anak Rentan Mengalami Gangguan Mental
NU Online · Ahad, 9 Agustus 2020 | 16:45 WIB
Afina Izzati
Kontributor
Jakarta, NU Online
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Cybercrime (kejahatan dunia maya), Margaret Aliyatul Maimunah mengatakan, banyak akibat yang terjadi saat anak terus berada di rumah saja. Salah satunya adalah rentan mengalami gangguan mental.
Hal tersebut diungkapkannya saat berbicara dalam webinar dan peluncuran cyber counseling (konseling dunia maya) ‘Ruang Pelajar’, Ahad (9/8). Acara bertema ‘Kesehatan Mental Pelajar di Masa Pandemi’ itu diinisiasi Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PP IPPNU).
Ia menjelaskan bahwa pandemi membatasi anak-anak untuk keluar rumah, bersosialisasi dengan teman dan guru. Sudah tentu, ini menjadikan anak rentan mengalami gangguan mental, termasuk stres dan jenuh.
“Ini juga menambah beban orang tua yang sudah kompleks, memicu keadaan mudah menjadi stres juga,” tandas Liya, sapaan akrabnya.
Liya menambahkan, kesehatan mental pada anak tidak hanya diartikan bahwa anak tidak memiliki penyakit. Namun, juga termasuk kemampuan berpikir jernih, mengendalikan emosi, dan keleluasaan anak untuk dapat bersosialisasi.
Menurut dia, ada beberapa faktor pemicu gangguan mental. Di antaranya, faktor biologis, yaitu adanya gen. Selain itu, pengalaman kehidupan, yaitu mengalami trauma terhadap kekerasan yang pernah dialami atau karena faktor-faktor bencana alam.
“Termasuk juga ada sejarah keluarga yang memiliki riwayat gangguan mental,” jelas perempuan yang juga Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Fatayat Nahdlatul Ulama ini.
Menjaga kesehatan, lanjut dia, menjadi sangat penting. Karena jika anak terjaga kesehatan mentalnya maka dapat membentuk karakter positif. Sebaliknya, jika tidak, maka menyebabkan perubahan perilaku serius yang dapat mengganggu sosial anak.
Liya menyebutkan ada sejumlah perubahan perilaku anak yang harus diwaspadai. Misalnya anak menjadi patah semangat, mudah marah, cenderung agresif, hiperaktif, tidak ingin berteman, prestasi menurun, mudah takut, dan sering cemas.
“Nah, yang seperti ini sudah masuk pada gangguan kesehatan mental pada anak. Harus ditangani dengan sebisa mungkin mengajak bicara,” tegas Cicit Rais Aam PBNU (1972-1980) KH Bisri Syansuri ini.
Gangguan kesehatan mental ini, menurut dia, bisa berpengaruh pada kesehatan tubuh anak. Anak dapat mudah sakit, tidak percaya diri, dan lain sebagainya. Mengatasi hal-hal demikian, ia menyebut perlunya menjaga kesehatan mental anak. Ini tergantung pada orang tua masing-masing.
Orang tua perlu membangun kepercayaan diri anak, membiasakan bermain untuk bersosialisasi, mengajari anak menikmati proses, dan mengajari disiplin. “Terutama saat pandemi ini. Ortu harus menciptakan lingkungan rumah yang baik untuk anak,” tegasnya.
Liya berharap, orang tua jangan merasa aman karena anak berada di rumah dengan bermain gadget (gawai). Mungkin terlihat belajar. Padahal di rumah saja, justru anak-anak mudah terpapar radikalisme, bullying (perundungan), serta kekerasan seksual.
Kontributor: Afina Izzati
Editor: Musthofa Asrori
Terpopuler
1
Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1447 H Jatuh 27 Mei 2026
2
Tim Hisab Rukyat: Hilal Awal Dzulhijjah 1447 H Penuhi Kriteria MABIMS, Idul Adha Diperkirakan 27 Mei 2026
3
Hilal Terlihat, PBNU: Idul Adha 1447 H Rabu, 27 Mei 2026
4
Menhan Sebut Seluruh Kabupaten di Jawa Akan Dikawal Batalyon Teritorial pada 2026
5
Tiga Jurnalis Indonesia Bersama Aktivis Ditangkap Israel, Dewan Pers Minta Pemerintah Bertindak
6
Ambruknya Rupiah Dinilai Tekan Rakyat Kecil, DPR Soroti Harga Kebutuhan Pokok
Terkini
Lihat Semua