Penyebab Bias Gender Pendidikan di Desa Kalipang Pasuruan
NU Online · Rabu, 6 November 2019 | 14:15 WIB
Walaupun konsep kesetaraan gender ini sering diguangkan dalam pendidikan, pada kenyataannya di lapangan sering terjadi bias gender antara laki-laki dan perempuan. Terlebih dalam bidang pendidikan orang tua lebih memberikan akses kepada anak laki-laki dari pada kepada anak perempuannya, khususnya di daerah perdesaan.
Sebagaimana contoh Desa Kalipang, yaitu sebuah desa di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur yang dalam penelitian yang dilakukan oleh Iwantoro pada tahun 2018 dengan judul Pendidikan Anak dalam Perspektif Gender: Studi Kasus Pendidikan Anak di Desa Kalipang Kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan, termasuk desa yang memiliki persepsi bias gender dalam pendidikan.
Dalam penelitian tersebut dinyatakan bahwa masyarakat Desa Kalipang lebih mengutamakan pendidikan anak laki-lakinya dibanding dengan anak perempuannya. Anak perempuan lebih diberikan prioritas untuk mendapat pendidikan nonformal atau mondok di sebuah pondok pesantren. Anak perempuan paling tinggi disekolahkan pada tingkat Sekolah Menangah Atas (SMA) sederajat, bahkan ada yang sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP) sederajat kemudian dinikahkan.
Iwantoro dalam penelitian yang didukung oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) Kementerian Agama RI, menemukan bahwa terjadinya bias gender terhadap pendidikan anak di Desa Kalipang Kecamatan, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan ini setidaknya disebabkan oleh empat faktor.
Pertama, tingkat pendidikan masyarakat Desa Kalipang yang masih tergolong rendah. Mayoritas pendidikan masyarakat Desa Kalipang adalah pendidikan dasar sederajat. Hal ini tentu membuat pola pikir mereka sederhana. Hal ini pulalah yang menyebabkan terjadinya bias gender dalam pendidikan didesa tersebut.
Kedua, adalah ekonomi masyrakat. Sebagian besar masyarakat Desa Kalipang bekerja sebagai petani, buruh tani, pedagang kecil, dan wiraswasta. Penghasilan yang didapat pun masih tergolong kecil untuk membiayai pendidikan anak-anaknya. Pendapatan sehari-hari lebih dipergunakan untuk menutup kebutuhan keluarga sedangkan untuk sektor pendidikan menjadi hal kurang diprioritaskan.
Keempat, adalah sosial dan budaya. Budaya di Desa Kalipang masih mengganggap bahwa jangkauan perempuan terbatas pada 'sumur, dapur, dan kasur' mengakar kuat. Dan inilah yang menjadi faktor yang menyebabkan anak perempuan mengalami bias gender dalam pendidikan
Penulis: Ahmad Khalwani
Terpopuler
1
Mengenal Enam A’wan PBNU 2026-2031 dari Kalangan Guru Besar dan Rektor Perguruan Tinggi
2
Khutbah Jumat: Keutamaan Mendoakan Keluarga yang Sudah Meninggal pada Hari Jumat
3
Khutbah Jumat: Sedekah Jumat Berkah, Menghidupkan Hari Mulia dengan Kebaikan
4
Khutbah Jumat: Menjaga Diri dari Maksiat Digital di Era Media Sosial
5
PBNU Sosialisasikan AD/ART Baru, Konferensi PWNU, PCNU, dan PCINU Dimulai 1 November 2026
6
Khutbah Jumat: Peran Masyarakat, Pemerintah dan Keluarga dalam Menciptakan Lingkungan Bebas Perundungan
Terkini
Lihat Semua