Nasional

Seni Pertunjukan Harusnya Jadi Ruang Aman Menyampaikan Kritik Sosial dan Politik

NU Online  ·  Selasa, 13 Januari 2026 | 12:00 WIB

Seni Pertunjukan Harusnya Jadi Ruang Aman Menyampaikan Kritik Sosial dan Politik

Ilustrasi. (Foto: Freepik)

Jakarta, NU Online

Seni pertunjukan dinilai memiliki kekuatan khas dalam menyampaikan kritik sosial, politik, moral, hingga spiritual secara lebih halus dan berlapis dibandingkan media lainnya. Kritik yang disampaikan melalui seni pertunjukan tidak bekerja secara frontal, melainkan menyentuh emosi dan empati penonton melalui pengalaman estetik.


Pandangan tersebut disampaikan seniman pertunjukan asal Indramayu, Rey Mengku Sutentra. Menurutnya, seni pertunjukan, terutama yang berakar dari tradisi, harusnya menjadi medium yang relatif aman dan tahan lama dalam menyampaikan kritik.


“Kritik dalam seni pertunjukan tradisional seperti wayang kulit, wayang orang, sandiwara, dan sejenisnya dianggap sebagai bagian dari budaya. Karena itu, pesan-pesan kritiknya mampu bertahan lintas zaman,” ujar Rey kepada NU Online, Selasa (13/1/2026).


Rey menjelaskan, kritik dalam seni pertunjukan jarang disampaikan secara literal. Pesan-pesan tersebut dihadirkan melalui simbol, metafora, dan unsur estetika yang mendorong penonton merasakan sekaligus menafsirkan maknanya secara mandiri.


“Kritik disampaikan lewat gerak tubuh, dialog, musik, kostum, humor, satire, hingga alur cerita. Ia tidak langsung menunjuk persoalan, tetapi mengajak penonton mengalami dan memaknainya,” jelas anggota Dewan Kesenian Indramayu itu.


Berbeda dengan kritik di media massa dan media sosial yang cenderung disampaikan secara langsung dan cepat, seni pertunjukan dinilai memiliki daya tahan pesan yang lebih panjang. Meski efektif memicu respons instan, kritik langsung kerap berisiko mengalami penyederhanaan makna, memicu konflik, dan mudah dilupakan.


Sebagai sutradara teater, Rey mengungkapkan bahwa isu sosial atau politik yang diangkat dalam pertunjukan tidak selalu bersumber dari peristiwa besar. Isu tersebut justru sering lahir dari gejala kecil yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.


“Bisa dari percakapan ringan, humor rakyat, atau kegelisahan personal yang ternyata mewakili pengalaman kolektif,” ungkapnya.


Isu-isu tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam metafora dramatik melalui tokoh, konflik, simbol, ruang, dan ritme. Realitas tidak ditampilkan secara mentah, melainkan diolah menjadi pengalaman panggung melalui satire, absurditas, atau alegori.


“Pada intinya, isu sosial atau politik dipindahkan ke panggung sebagai pengalaman estetik, bukan sebagai ceramah,” tambah Rey.


Ia menekankan pentingnya menempatkan estetika dan komponen artistik sebagai pintu masuk agar penonton terlibat secara emosional. Dengan begitu, pesan kritik dapat diterima secara alami tanpa kesan menggurui.


Dalam proses kreatifnya, Rey menggarisbawahi sejumlah prinsip, antara lain mengubah kritik menjadi konflik dramatik, menggunakan simbol dan metafora secara terukur, menyederhanakan penyajian tanpa menghilangkan kedalaman pesan, serta mempertimbangkan konteks dan sensibilitas penonton.


“Bagi saya, kritik yang baik bukan yang paling keras, tetapi yang paling jujur dan mampu membuka ruang refleksi,” ujarnya.


Menurut Rey, seni pertunjukan mengajak penonton untuk merenung sebelum bereaksi. Isu tidak disodorkan sebagai jawaban tunggal, melainkan sebagai pertanyaan terbuka yang memicu kesadaran dan diskusi.


“Seni pertunjukan memiliki kekuatan untuk menyampaikan kegelisahan sosial secara halus, mendalam, dan tidak konfrontatif,” pungkasnya.


Senada dengan itu, pegiat sastra asal Indramayu, Dzakwan Ali, menilai bahwa perkembangan sastra dari era cetak ke era digital tidak banyak mengubah pelaku di dalamnya. Menurutnya, sastra sejak dulu hingga kini tetap digerakkan oleh orang-orang yang sungguh-sungguh menekuninya.


“Ruang gerak sastra sebenarnya masih terbatas. Pencinta sastra atau sastrawan masih bisa dihitung,” ujar Dzakwan kepada NU Online.


Meski demikian, ia mengakui bahwa media sosial memberikan pengaruh signifikan terhadap dunia kepenulisan. Platform digital memungkinkan penulis pemula mempublikasikan karya dan menjangkau pembaca lebih luas.


“Karya-karya itu berseliweran di media sosial. Orang yang ingin membaca juga banyak, meskipun tidak semuanya membaca sampai tuntas,” jelasnya.


Dzakwan juga menyoroti pergeseran media cetak ke platform digital. Menurutnya, sebagian media cetak beradaptasi, sementara yang lain terpaksa berhenti karena tidak mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.


“Kendati lebih tren digital, sastra digital dan sastra cetak akan selalu berdampingan. Keduanya memiliki keunggulan masing-masing,” tegas pendiri Taman Baca Masyarakat (TBM) Latar Karya Temulawak itu.


Dalam praktik kepenulisan, Dzakwan mengaku kerap menyesuaikan gaya menulis dengan karakter media yang dituju. Namun, ia tetap menekankan pentingnya kejujuran, amanah, dan tanggung jawab dalam berkarya.


“Menulis harus percaya diri, jangan takut dianggap sebagai penulis yang tidak mampu menyesuaikan zamannya,” imbuhnya.


Ia menilai, respons pembaca di media digital, seperti komentar dan reaksi, dapat menjadi bahan evaluasi bagi penulis untuk karya selanjutnya. “Masukan, saran, dan kritik itu penting untuk pengembangan karya,” katanya.


Menurut Dzakwan, perbedaan pembaca digital dan pembaca buku cetak terletak pada tingkat fokus, efisiensi waktu, kemudahan akses, serta faktor ekonomi. “Pembaca digital terbantu oleh kemudahan akses dan keterbatasan biaya dibanding harus membeli buku cetak,” pungkasnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang