Soal Perbedaan Awal Puasa, Menag dan MUI Ajak Umat Islam Tetap Rukun
NU Online · Selasa, 17 Februari 2026 | 21:32 WIB
M Fathur Rohman
Kontributor
Jakarta, NU Online
Menteri Agama Nasaruddin Umar bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) menanggapi adanya perbedaan penetapan awal puasa Ramadhan 1447 Hijriah di tengah masyarakat.
Pemerintah menegaskan bahwa perbedaan tersebut merupakan keniscayaan dalam kehidupan beragama dan tidak boleh mengganggu persatuan umat Islam maupun keutuhan bangsa.
Menag berharap keputusan Sidang Isbat dapat menjadi momentum kebersamaan umat Islam dalam mengawali ibadah puasa. Namun, ia juga mengingatkan agar perbedaan yang mungkin terjadi disikapi secara dewasa dan bijaksana.
“Tentunya kita semua berharap semoga keputusan ini memungkinkan seluruh umat Islam di Indonesia ini untuk memulai ibadah puasanya secara bersama-sama. Semoga hal ini dapat menjadi simbol kebersamaan umat Islam di Indonesia,” ujar Nasaruddin saat konferensi pers Sidang Isbat di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (17/2/2026).
Ia menegaskan bahwa perbedaan tidak boleh dimaknai sebagai pemecah persatuan, melainkan harus ditempatkan sebagai bagian dari realitas sosial dan keagamaan bangsa Indonesia.
“Yang sekaligus mencerminkan persatuan kita sebagai sesama anak bangsa dan menyongsong masa depan yang baik. Dan seandainya ada di antara warga kita umat Islam yang mungkin akan melakukan hal yang berbeda sesuai dengan keyakinannya masing-masing, kami juga menghimbau kepada segenap masyarakat. Mari perbedaan itu tidak menyebabkan kita berpisah atau berbeda dalam artian negatif,” lanjutnya.
Menag juga mengajak masyarakat menjadikan perbedaan sebagai kekayaan sosial yang telah lama menjadi bagian dari pengalaman kebangsaan Indonesia. “Jadikanlah perbedaan itu sebagai satu konfigurasi yang sangat indah. Indonesia sudah berpengalaman berbeda tapi tetap utuh dalam sebuah persatuan yang sangat indah,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Anwar Iskandar menilai perbedaan awal puasa merupakan konsekuensi logis dari keberagaman latar belakang organisasi dan pendekatan keagamaan di Indonesia.
“Bangsa kita ini adalah bangsa yang terdiri dari latar belakang yang berbagi-bagi. Itu adalah sebuah keniscayaan, keniscayaan sebagai bangsa yang berpendekatung balikah termasuk juga umat islam. Bahkan di Indonesia ini ada lebih dari 80 ormas-ormas islam di Indonesia yang perbedaan-perbedaan organisasi ini memungkinkan adanya amaliyah awudiyah yang berbeda-beda,” tutur Kiai Anwar.
Ia menjelaskan bahwa perbedaan tersebut berada pada ranah ijtihadiyah dan tidak menyentuh aspek prinsipil ajaran Islam.
“Tetapi perbedaan itu hanya menyangkut masalah-masalah yang sifatnya itu ijtihadi yang sifatnya itu teknis, Secara qath'i tidak beda, secara qath'i semua sama. Nah oleh karena itu, kemungkinan adanya memulai puasa atau mengakhiri puasa berbeda itu menjadi sebuah keniscayaan yang bisa kita fahami, yang bisa kita maklumi,” ujarnya.
Menurut Kiai Anwar yang terpenting adalah menjaga keutuhan umat Islam dengan mengedepankan sikap saling memahami dan saling menghormati di tengah perbedaan.
“Tetapi yang paling penting itu keutuhan sebagai umat islam itu yang harus senantiasa kita jaga. Oleh karena itu, penting untuk saling memahami dan saling menghormati. Bahkan kalau perlu kita sebagai bangsa yang demokratis ini perlu membiasakan diri untuk berbeda,” kata dia.
Ia menambahkan bahwa perbedaan yang dikelola secara dewasa justru dapat memperkaya khazanah keilmuan dan memperkuat persatuan nasional. “Karena dengan demikian maka ini menjadi bagian dari dinamika yang memperkaya khasianah ilmu pengetahuan kita. Perbedaan yang dimanage dengan baik akan menjadi sebuah harmoni yang indah. Yang itu juga akan menjadi sesuatu yang penting bagi persatuan Indonesia,” ucapnya.
Kiai Anwar menegaskan bahwa persatuan nasional memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas bangsa dan mendorong kemajuan bersama. “Dan persatuan Indonesia itu menjadi bagian penting dari terciptanya stabilitas nasional. Dan stabilitas nasional itu menjadi sesuatu yang sangat penting bagi memungkinkan kita semuanya. Terutama pemerintah dan rakyat untuk berbuat lebih banyak dan lebih baik bagi masa depan bangsa kita sekalian,” tuturnya.
Ketua MUI mengajak umat Islam menjadikan Ramadhan sebagai momentum penyempurnaan ibadah dan peningkatan kualitas keimanan.
“Nah, oleh karena itu saya bersama dengan pemimpinan Majlis Ulama Indonesia mengajak kepada semuanya saja untuk berusaha sekuat-kuatnya menyempurnakan ibadah kita dalam sebulan ini. Sehingga akan melahirkan insan-insan yang sempurna, yang paripurna, yang makin tinggi kualitas iman dan taqwanya kepada Allah,” pungkasnya.
Terpopuler
1
LF PBNU: Hanya Amerika Utara Berpotensi Mulai Puasa 18 Februari 2026
2
Kemenag dan BMKG Siapkan 133 Titik Rukyatul Hilal Awal Ramadhan 1447 H
3
Perhitungan Hisab Kemenag, Hilal Ramadhan 1447 H di Bawah Ufuk
4
Meski Hilal di Bawah Ufuk, LF PBNU Imbau Perukyah NU Laksanakan Rukyatul Hilal Besok
5
Doa Rasulullah saw Mengawali Bulan Ramadhan
6
Pemerintah Tetapkan 1 Ramadhan 1447 H Jatuh Kamis 19 Februari 2026
Terkini
Lihat Semua