Nasional

Walhi Soroti Dampak Tambang di Indonesia Timur: Hutan Rusak, Warga Terpapar Racun

NU Online  ·  Selasa, 12 Mei 2026 | 22:00 WIB

Walhi Soroti Dampak Tambang di Indonesia Timur: Hutan Rusak, Warga Terpapar Racun

Pengkampanye Anti Tambang dan Energi Berkeadilan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Faizal Ratuela dalam Dialog Publik bertajuk Transisi Energi, Keadilan Ekologis dan Masa Depan Hutan Indonesia di Kantor LP3ES, Depok pada Selasa. (12/5/2026). (Foto: NU Online/Jannah)

Jakarta, NU Online

Pengkampanye Anti Tambang dan Energi Berkeadilan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Faizal Ratuela, mengatakan bahwa ekspansi industri tambang di kawasan Indonesia Timur telah memunculkan persoalan lingkungan dan kesehatan yang semakin mengkhawatirkan.


Ia menyebut pemerintah terus membuka lahan untuk penambangan batu bara, nikel, dan berbagai mineral lainnya. Sementara itu, masyarakat lokal dinilai hanya menjadi pekerja kasar dengan upah terbatas, tetapi harus menanggung risiko kesehatan dan kerusakan lingkungan setiap hari.


“Deforestasi besar-besaran di wilayah timur terus dilakukan untuk membuka kawasan tambang. Padahal, hutan menjadi sumber kehidupan masyarakat adat yang selama ini bergantung pada hasil alam untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka,” ujar Faizal dalam Dialog Publik bertajuk Transisi Energi, Keadilan Ekologis, dan Masa Depan Hutan Indonesia di kantor LP3ES, Depok, Selasa (12/5/2026).


Ia menilai pemerintah terlalu fokus mendorong investasi tambang tanpa memperhatikan dampak ekologis dan keselamatan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan industri tersebut.


“Pemerintah melakukan deforestasi besar-besaran. Masyarakat di sana hanya dijadikan pekerja dengan gaji seadanya, tetapi mereka harus menerima dampak pencemaran setiap hari dari sisa-sisa penambangan batu bara, nikel, dan mineral lainnya,” ujarnya.


Faizal mengatakan masyarakat di wilayah timur Indonesia saat ini berada dalam posisi yang tidak adil di tengah ekspansi industri ekstraktif.


“Banyak orang timur bekerja di tambang, tetapi kesehatan mereka kerap diabaikan. Mereka makan dan minum racun, lalu setiap hari menghirup udara yang juga mengandung racun dari aktivitas tambang,” katanya.


Menurut Faizal, situasi tersebut menunjukkan adanya ketimpangan besar antara keuntungan industri dan penderitaan masyarakat lokal.


“Kekayaan alam dari wilayah timur Indonesia terus dieksploitasi, sementara warga sekitar justru menghadapi ancaman penyakit, krisis air bersih, serta rusaknya ruang hidup mereka,” tegasnya.


Walhi mendesak pemerintah mengevaluasi dan menghentikan praktik eksploitasi yang mengorbankan lingkungan serta kesehatan warga.


“Pemerintah juga harus memperketat pengawasan terhadap perusahaan tambang dan memastikan hak masyarakat atas lingkungan hidup yang sehat tetap terlindungi,” tegas Faizal.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang