Jakarta, NU Online
Ahad siang di pesantren Al-Hamid, Jakarta Timur. Ratusan orang serba hitam berdatangan. Kopiah hitam. Baju panjang hitam. Celana panjang hitam. Dan sepatu hitam. Mereka para pandekar Pagar Nusa. Pagar NU dan Bangsa!
<>
“Ada sejarahnya kenapa pakaian Pagar Nusa hitam,” kata KH Suharbillah, salah seorang pendiri Pagar Nusa, di pesantren Al-Hamid, Jakarta Timur, Ahad lalu.
Bahwa untuk mengusir Sekutu di Surabaya, Harotusy Syekh KH Hasyim Asy’ari ingin mengundang santrinya yang sukses dalam bidang kanuragan dari Parakan, Kedu.
Rupanya niat Mbah Hasyim mau mengundang, diketahui santri itu. Khawatir keliru, ia datang mendahului. Tapi Mbah Hasyim, meski sudah didatangi, tetap kirim utusan ke sana.
“Utusannya para pendekar. Semuanya berpakaian serbahitam. Warna hitam itu dari peristiwa itu,” katanya.
Pakaian hitam juga merupakan warna dasar orang Nusantara. “Kebanyakan berwarna hitam. Mulai dari Aceh, Betawi, Sunda, Ponorogo, Madura dan lain-lain.”
Kemudian Suharbillah memaknai warna hitam. Menurut dia, makna filososfis hitam pada pakaian Pagar Nusa adalah orang yang lurus, tidak nolah-noleh.
“Jadi, orangnya berjalan jujur dan lurus.”
Selain itu, dalam keputusan internasional menetapkan atlet silat harus berpakaian hitam. “Kita selaku pendukung, termasuk sumber silat di dunia, kita sewajarnya ikut berpakaian itu,” pungkasnya.
Penulis: Abdullah Alawi
Terpopuler
1
PWNU dan PCNU Se-Yogyakarta dan Jawa Tengah Tolak Pembatasan Ahwa hingga Perubahan Kedudukan Rais Aam
2
Khutbah Jumat: Tahun Baru Hijriah, Momentum Upgrade Diri Menuju Muslim yang Lebih Baik
3
Khutbah Jumat: Spirit Muharram untuk Menghadapi Era Modern
4
Usulan LF PBNU Atasi Perbedaan Awal Bulan Hijriah di Tengah Kesepakatan Imkanur Rukyah
5
Khutbah Jumat Bahasa Jawa: Nguri-uri Kamulyaning Wulan Muharram
6
Khutbah Jumat: Pesan Rasulullah, Jangan Mencari-cari Kesalahan Orang Lain
Terkini
Lihat Semua