Opini

Di Tengah Godaan Eksklusivisme Global: Catatan Awal Tahun dan Peran NU

NU Online  ·  Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:53 WIB

Di Tengah Godaan Eksklusivisme Global: Catatan Awal Tahun dan Peran NU

Logo Nahdlatul Ulama

Memasuki awal 2026, dunia tidak sedang bergerak menuju pemulihan, melainkan menuju penegasan—penegasan posisi, identitas, dan klaim kebenaran. Konflik yang membentang sepanjang 2025 belum mereda, sementara bahasa yang digunakan untuk memahaminya justru semakin keras.

 

Perang berkepanjangan, kekerasan politik, dan penderitaan sipil di berbagai kawasan dunia kian sering dibingkai bukan semata sebagai persoalan kepentingan atau keamanan, melainkan sebagai soal kebenaran moral: siapa yang benar dan siapa yang salah, siapa yang layak dibela dan siapa yang pantas dikorbankan.


Dalam lanskap global yang rapuh ini, agama kembali menempati posisi sentral dalam politik dunia. Namun kehadirannya sering kali tidak melembutkan konflik, justru memperkerasnya. Bahasa iman berubah menjadi bahasa loyalitas. Empati menjadi selektif. Ruang kompromi menyempit. Agama tidak lagi hadir sebagai sumber kebijaksanaan moral, melainkan sebagai penanda siapa “kita” dan siapa “mereka”.


Tragedi kemanusiaan di Gaza memperlihatkan pola itu secara telanjang. Memasuki 2026, luka tersebut belum sembuh. Penderitaan sipil terus berlangsung, tetapi respons global terbelah dalam kepastian moral yang saling meniadakan. Solidaritas bercampur dengan pembenaran, kemarahan bercampur dengan klaim kebenaran. Konflik tidak lagi dibaca semata sebagai tragedi kemanusiaan, melainkan sebagai ujian kesetiaan nilai. Di titik ini, agama—ketika dilekatkan terlalu erat pada identitas politik dan kekuasaan—berisiko menjadi bahan bakar polarisasi global.


Fenomena tersebut bukan hal baru. Sejarah politik internasional menunjukkan bahwa konflik yang dipersenjatai kepastian moral cenderung lebih keras dan lebih lama. Eropa abad ke-17 tenggelam dalam Perang Tiga Puluh Tahun ketika konflik kekuasaan dibungkus klaim kebenaran iman. Dunia modern belajar, dengan harga mahal, bahwa iman yang dilepaskan ke arena politik tanpa jarak kritis justru melahirkan kekerasan yang sulit dihentikan. Pola serupa kini kembali hadir—bukan hanya dalam perang besar, tetapi juga dalam demokrasi yang kehilangan kesabaran terhadap pluralitas.


Di tengah situasi itu, refleksi awal tahun menjadi penting. Pertanyaannya bukan lagi apakah agama relevan dalam politik global—relevansinya sudah nyata. Pertanyaan yang lebih mendesak adalah: agama seperti apa yang akan hadir di panggung dunia? Agama yang memperkeras klaim, atau agama yang merawat kemanusiaan?


NU dan Sejarah Islam Moderat di Panggung Global
Nahdlatul Ulama memiliki posisi yang tidak kecil dalam menjawab pertanyaan tersebut. Secara historis, NU bukan aktor yang asing dari percakapan global. Sejak masa awal kemerdekaan Indonesia, NU berinteraksi dengan dunia Islam internasional melalui jejaring ulama, diplomasi kultural, dan keterlibatan dalam isu-isu kemanusiaan. Namun NU tidak membawa Islam sebagai proyek ekspor ideologis. Islam yang dihadirkan NU adalah Islam sebagai tradisi hidup—yang tumbuh dari pengalaman panjang mengelola perbedaan, konflik, dan kompromi.


Pengalaman Indonesia sebagai masyarakat majemuk memberi NU modal moral yang langka di panggung global. Ketika dunia Islam kerap direpresentasikan secara ekstrem—antara radikalisme kekerasan dan sekularisme defensif—NU menawarkan jalan tengah: Islam yang berakar kuat pada tradisi, tetapi terbuka pada dunia modern; Islam yang yakin pada nilai-nilainya, namun sadar akan keterbatasan klaim kebenaran dalam ruang publik yang plural. Di sinilah NU tampil bukan sekadar sebagai organisasi keagamaan nasional, melainkan sebagai aktor normatif yang membawa pengalaman hidup bersama ke tingkat global.


Inisiatif Religion of Twenty (R20) menandai fase baru keterlibatan NU dalam percakapan dunia. Melalui R20, NU berupaya membawa agama kembali ke forum global bukan sebagai sumber konflik, melainkan sebagai bagian dari solusi atas krisis kemanusiaan, polarisasi politik, dan kebuntuan etika global. R20 mencerminkan kesadaran bahwa tata dunia yang terlalu lama digerakkan oleh logika kekuasaan dan kepentingan membutuhkan koreksi moral—dan agama, jika dikelola secara dewasa, dapat menjadi bagian dari koreksi tersebut.


Namun kehadiran global semacam ini juga mengandung risiko. Islam moderat tidak cukup disuarakan sebagai slogan atau identitas. Ia harus hadir sebagai praksis etis yang konsisten, kredibel, dan berdampak. Tanpa itu, keterlibatan NU di panggung global mudah direduksi menjadi seremoni simbolik—hadir dalam forum dunia, tetapi kehilangan daya transformasi.


Tantangan Abad Kedua: Saatnya Menatap Dunia
Memasuki abad kedua, tantangan NU justru semakin kompleks. Jika abad pertama banyak diwarnai oleh perjuangan konsolidasi internal, relasi dengan negara, dan peran kebangsaan, maka abad kedua menuntut NU untuk move on dari konflik internal yang menguras energi dan kembali menatap persoalan dunia yang jauh lebih mendesak. Polarisasi global, politisasi agama, krisis kemanusiaan berkepanjangan, serta dominasi algoritma digital atas kesadaran publik adalah tantangan yang tidak bisa dijawab dengan logika internal organisasi semata.


Tantangan terbesar NU hari ini bukan pada absennya gagasan, melainkan pada konsistensi orientasi. Dunia menuntut NU menjaga kredibilitas moralnya: tetap independen dari kepentingan kekuasaan, tidak terjebak dalam eksklusivisme baru, dan mampu menerjemahkan nilai Islam moderat ke dalam tindakan nyata—melalui diplomasi keagamaan, advokasi kemanusiaan, dan produksi wacana yang melawan dehumanisasi.


Abad kedua NU bukan sekadar tentang memperluas panggung internasional, melainkan tentang memperdalam kualitas kehadiran global. Bukan tentang seberapa sering NU disebut di forum dunia, tetapi tentang seberapa jauh nilai-nilai yang diusungnya memengaruhi cara dunia memaknai keadilan, penderitaan, dan hidup bersama.


Memulai 2026, pelajarannya konsisten: kekerasan paling berbahaya sering lahir bukan dari ketiadaan nilai, melainkan dari kepastian moral yang menolak koreksi. Dalam dunia yang saling terhubung namun rapuh, agama hanya akan relevan secara global jika ia hadir sebagai bahasa kemanusiaan yang inklusif. Di titik itulah, Nahdlatul Ulama diuji sekaligus dibutuhkan—bukan hanya sebagai penjaga tradisi, tetapi sebagai penanda arah etis di tengah dunia yang semakin kehilangan kesabaran terhadap perbedaan.


Eko Ernada, Dosen Hubungan Internasional, Universitas Jember; Fungsionaris BPJI PBNU
 

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang